27 August 2005

10 Kesalahpahaman Tentang Sukses

Kesalahpahaman 1

Beberapa orang tidak bisa sukses karena latar belakang, pendidikan, dan lain-lain.

Padahal, setiap orang dapat meraih keberhasilan. Ini hanya bagaimana mereka menginginkannya, kemudian melakukan sesuatu untuk mencapainya.



Kesalahpahaman 2

Orang-orang yang sukses tidak melakukan kesalahan.

Padahal, orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan sebagaimana kita semua pernah lakukan Namun, mereka tidak melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.



Kesalahpahaman 3

Agar sukses, kita harus bekerja lebih dari 60 jam (70, 80, 90...) seminggu.

Padahal, persoalannya bukan terletak pada lamanya anda bekerja. Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar.


Kesalahpahaman 4

Anda hanya bisa sukses bila bermain sesuatu dengan aturan.

Padahal, siapakah yang membuat aturan itu? Setiap situasi membutuhkan cara yang berbeda. Kadang-kadang kita memang harus mengikuti aturan, tetapi disaat lain andalah yang membuat aturan itu.



Kesalahpahaman 5

Jika anda selalu meminta bantuan, anda tidak sukses.

Padahal, sukses jarang sekali terjadi di saat-saat vakum. Justru, dengan mengakui dan menghargai bantuan orang lain dapat membantukeberhasilan anda. Dan, sesungguhnya ada banyak sekali orang semacam itu.



Kesalahpahaman 6

Diperlukan banyak keberuntungan untuk sukses.

Padahal, hanya dibutuhkan sedikit keberuntungan. Namun, diperlukan banyak kerja keras, kecerdasan, pengetahuan, dan penerapan.



Kesalahpahaman 7

Sukses adalah bila anda mendapatkan banyak uang.

Padahal, uang hanya satu saja dari begitu banyak keuntungan yang diberikan oleh kesuksesan. Uang pun bukan jaminan kesuksesan anda.



Kesalahpahaman 8

Sukses adalah bila semua orang mengakuinya.

Padahal, anda mungkin dapat meraih lebih banyak orang dan pengakuan dari orang lain atas apa yang anda lakukan. Tetapi, meskipun hanya anda sendiri yang mengetahuinya, anda tetaplah sukses.



Kesalahpahaman 9

Sukses adalah tujuan.

Padahal, sukses lebih dari sekedar anda bisa meraih tujuan dan goal anda. Katakan bahwa anda menginginkan keberhasilan, maka ajukan pertanyaan "atas hal apa?"


Kesalahpahaman 10

Saya sukses bila kesulitan saya berakhir.

Padahal, anda mungkin sukses, tapi anda bukan Tuhan. Anda tetap harus melalui jalan yang naik turun sebagaimana anda alami dimasa-masa lalu. Nikmati saja apa yang telah anda raih dan hidup setiap hari sebagaimana adanya.

26 August 2005

Kan Masih Ada Hari Esok

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu menganggap itu sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, mengganggu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya.

Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu berkata, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."

Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar aja. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."

Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman baik yang lain. Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang wanita yang sangat cantik dan baik. Wanita ini kemudian menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, "Ah, aku capek, besok saja aku hubungin mereka." Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar.

Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya. Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya.

Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk mengatakan pada istrinya "Aku cinta kamu", tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, "Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya."

Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan perpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.

Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut. Sebelum sempat berkata "Aku cinta kamu", istrinya telah meninggal dunia. Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya.

Tapi, dia baru sadar bahwa anak-anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya. Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.

Saat mulai renta, Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60, dan 70. Semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand, dan negara-negara lain bersama istrinya, tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah jompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang merawatnya. Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata kepadanya, "Ah, Andai saja aku menyadari ini dari dulu...." Kemudian perlahan ia menghembuskan napas terakhir, Dia meninggal dunia dengan airmata di pipinya.

Apa yang saya ingin coba katakan pada Anda, waktu itu nggak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadari, Anda ternyata telah maju terlalu jauh. Jika kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah! Jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera.

Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang sama seseorang bahwa kamu sayang dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika kamu terus pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari ini tidak pernah akan datang.

Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang, maka "besok" akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar bahwa waktu telah meninggalkanmu.

25 August 2005

Cinta Adalah Cinta

Sejak semula, keluarga si cantik tidak menyetujui hubungannya dengan sang pemuda. Mereka mengajukan alasan mengenai latar belakang keluarga si pemuda, bahwa jika si cantik memaksa terus bersama dengan sang pemuda, dia akan menderita seumur hidupnya, penderitaan yang mungkin tak dapat ia tanggungkan.

Karena tekanan dari keluarganya, si cantik jadi sering bertengkar dengan pacarnya. Si Cantik itu benar-benar mencintainya, dan dia terus-menerus bertanya, "Seberapa besar kamu mencintaiku?"

Sang pemuda tidak begitu pandai berbicara, dia selalu membuat si cantik marah. Dan komentar-komentar dari orangtuanya membuatnya bertambah kesal. Sang pemuda selalu menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya. Dan sang pemuda selalu membiarkannya melampiaskan kemarahannya kepadanya...

Setelah beberapa saat, sang pemuda lulus dari perguruan tinggi. Ia bermaksud meneruskan kuliahnya ke luar negeri, tapi sebelum dia pergi, dia melamar si cantik, "Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan kata-kata manis, tapi saya tahu bahwa saya mencintaimu. Jika kamu setuju, saya ingin menjagamu seumur hidupmu. Mengenai keluargamu, saya akan berusaha keras untuk meyakinkan mereka agar menyetujui hubungan kita. Maukah kamu menikah denganku?"

Si cantik setuju, dan keluarganya setelah melihat usaha dari sang pemuda, akhirnya merestui hubungan mereka. Sebelum pemuda itu berangkat, mereka bertungan terlebih dahulu. Si cantik tetap tinggal di kampung halaman dan bekerja, sementara sang pemuda meneruskan kuliahnya di LN. Mereka melanjutkan hubungan mereka melalui surat dan telepon. Kadang-kadang timbul kesulitan, tapi mereka tidak menyerah terhadap keadaan.

Suatu hari, dalam perjalanan ke tempat perhentian bis sepulang dari kerja, si cantik tertabrak mobil hingga tak sadarkan diri. Ketika siuman, dia melihat kedua orangtuanya dan menyadari betapa beruntungnya dia dapat selamat. Melihat air mata orangtuanya, dia berusaha untuk menghibur mereka.

Tetapi dia menemukan... bahwa dia tidak dapat berbicara sama sekali. Dia bisu. Menurut dokter kecelakaan tersebut telah mencederai otaknya, dan itu menyebabkannya bisu seumur hidupnya. Mendengar orangtuanya membujuknya, tapi tidak dapat menjawab sepatah kata pun, cantik tersebut pingsan. Sepanjang hari hanya dapat menangis dan membisu. Ketika akhirnya dia boleh pulang dari RS, dia mendapati rumahnya masih seperti sedia kala. Hanya jika telepon berdering, dia menjadi pilu. Dering telepon telah menjadi mimpi terburuknya. Dia tidak dapat memberitakan kabar buruk tersebut kepada pacarnya dan menjadi bebannya. Dia menulis sepucuk surat untuknya, memberitahukan bahwa dia tidak mau lagi menunggunya. Hubungan antara mereka sudah putus, bahkan dia mengembalikan cincin pertunangan mereka. Mendapat surat dan telepon dari si pemuda, dia hanya bisa menitikkan air mata....

Ayahnya tidak tahan melihat penderitaannya, dan memutuskan untuk pindah. Berharap bahwa dia dapat melupakan segalanya dan menjadi lebih bahagia.

Pindah ke tempat baru, si cantik mulai belajar bahasa isyarat. Dia berusaha melupakan sang pemud.. Suatu hari sahabatnya memberitahukan bahwa pemuda itu telah kembali dan mencarinya ke mana-mana. Dia meminta sahabatnya untuk tidak memberitahukan di mana dia berada dan menyuruh pemuda itu untuk melupakannya.

Lebih dari setahun, tidak terdengar lagi kabar pemuda itu sampai akhirnya sahabat si cantik menyampaikan bahwa sang pemuda akan menikah dan menyerahkan surat undangan. Dia membuka surat undangan itu dengan hati pedih, dan menemukan namanya tercantum dalam undangan. Sebelum dia sempat bertanya kepada sahabatnya, tiba-tiba sang pemuda muncul di hadapannya. Dengan bahasa isyarat yang kaku, ia menyampaikan bahwa, "Aku telah menghabiskan waktu lebih dari setahun untuk mempelajari bahasa isyarat, agar dapat memberitahukan kepadamu bahwa aku belum melupakan janji kita, berikan aku kesempatan, biarkan aku menjadi suaramu. I L O V E Y O U.

Melihat bahasa isyarat tersebut, dan cincin pertunangannya, si cantik akhirnya tersenyum.

Perlakukan setiap cinta seakan cinta terakhirmu., baru kamu akan belajar cara memberi. Perlakukan setiap hari seakan hari terakhirmu., baru kamu akan belajar cara menghargai. Jangan pernah menyerah.

Ingatlah bahwa kasih yang paling indah dan sukses yang terbesar, mengandung banyak resiko. Yakinlah pada dirimu ketika kamu berkata: Aku mencintaimu.

24 August 2005

Bunga-bunga di Depan Rumah

Saya sering bertanya-tanya, kenapa di tangan pedagangnya, bunga-bunga murah pun menjadi terlihat indah. Saya kembali bertanya, kenapa bunga murah itu, jika sudah saya bawa ke rumah, benar-benar terlihat murahnya. Rasanya dia tak indah lagi. Jawabanya ternyata saya temukan pada suatu hari, ketika saya melihat bagaimana pedagang itu merawat bunga-bunganya. Ia merawat tanamannya, seperti orang tua merawat bayinya. Oo, itulah yang saya tidak miliki.

Ketika sampai di rumah, bunga-bunga itu lebih saya perlakukan sebagai benda belaka. Ia cukup saya sirami, sekadar agar tidak mati. Soal bagaimana ia harus hidup, terserah pertumbuhannya sendiri. Yang penting makanan sudah disiapkan, dan saya tidak lalai pada kewajiban. Kewajiban pun saya ambil cuma garis besarnya. Garis-garis yang lembut dan kecil, tak saya urus lagi.

Saya tidak pernah misalnya menyantuni pupuk di dalam pot-pot mereka. Liar rantingnya juga saya biarkan menjalar ke mana dia suka. Tanaman ini bisa jadi cukup makan, tapi pasti sangat kekurangan kasih sayang. Maka beginilah agaknya mahlkuk yang hanya dicukupi makanan tapi kekurangan kasih sayang itu. Ia menjadi semaunya sendiri. Asal hidup, tapi tak peduli pada arah hidup.

Ia tak bisa setiap kali mencari teman berdiskusi, tak punya tempat mengadu dan mengeluh. Akhirnya tanaman pun bisa bersikap apatis, asal hidup, asal tidak mati. Dan kepada majikan, ia tak lagi merasa harus setor keindahan. Hubungan bunga dan majikannya ini akhirnya penuh tali-temali konflik. Karena mereka tak diurus, bunga-bunga itu tak merasa perlu mempercantik diri. Karena merasa bunganya tidak cantik, sang majikann merasa tak perlu mengurusnya lagi. Karena merasa tak dipedulikan, bunga-bunga itu pun bisa memilih marah dengan cara menghancurkan diri sendiri: mati. Dan di rumah saya, soal ini bukan cuma sekali terjadi.

Begini serius ternyata peran perhatian dan kasing sayang, bahkan bunga-bunga pun membutuhkannya. Makan, bagi makhluk hidup ternyata tak lebih dari keharusan, tapi kasih sayang adalah kubutuhan. Keharusan dan kebutuhan itu ternyata adalah soal yang harus dibedakan. Terpenuhinya keharusan memang sudah cukup membuat seseorang hidup, tapi pasti hidup yang kehilangan berbagai kemungkinan. Jika ia berupa bunga-bunga, ia akan sulit mengolah kemungkinannya tumbuh dan berkembang. Untuk mengurus diri sendiri pun telah begini repot, apalagi berpikir berderma keindahan untuk sang majikan.

Jika ia berupa manusia, ia pasti manusia yang menjalani hidup tanpa kegembiraan. Hidup baginya pastilah cuma sarana menghabiskan umur untuk menjemput mati secepatnya. Kepada hidup sendiri saja, manusia seperti ini begitu memusuhi, apalagi terhadap hidup dan kepentingan orang lain. Jika ia berupa anak-anak, pastilah ia anak yang cuma sibuk berpikir tentang deritanya, berpikir tentang kesepiannya, maka apa pedulinya dia dengan masa depan, lebih-lebih keharusan berbakti pada orang tua. Terpenuhinya keharusan akan membuat seseorang hidup, tapi terpenuhinya kebutuhan akan membuat hidup seseorang menjadi berharga.

Tapi membiarkan seseorang hidup tanpa harga itu itulah kadang kebiasaan kita. Kita menginginkan keindahan bunga-bunga tapi enggan merawatnya. Kita mengharapkan kepatuhan anak-anak tapi tak pernah memberi keteladanan kepada mereka. Dan kita ingin hidup enak tapi tak tak pernah benar-benar mau membayar harganya. Ini semua tentu kekonyolan.

Pencuri Impian

Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. KepAndaiannya menari sangat menonjol dibanding dengan rekan-rekannya, sehingga dia seringkali menjadi juara di berbagai perlombaan. Dia berpikir, dengan apa yang dimilikinya saat ini, suatu saat apabila dewasa nanti dia ingin menja di penari kelas dunia.

Dia membayangkan dirinya menari di Rusia, Cina, Amerika, Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang yang memberi tepuk tangan kepadanya.

Suatu hari, dikotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal dari luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat,dan dari tangan dinginnya telah banyak dilahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali menari dan menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar tersebut, bahkan jika mungkin memperoleh kesempatan menjadi muridnya. Akhirnya kesempatan itu datang juga. Si gadis muda berhasil menjumpai sang pakar di belakang panggung, seusai sebuah pagelaran tari. Si gadis muda bertanya, "Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas dunia. Apakah Anda punya waktu sejenak, untuk menilai saya menari ? Saya ingin tahu pendapat Anda tentang tarian saya".

"Oke, menarilah di depan saya selama 10 menit",jawab sang pakar.

Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya, lalu berlalu meninggalkan si gadis muda begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang pakar.Si gadis langsung berlari keluar. Pulang kerumah, dia langsung menangis tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Kemudian dia ambil sepatu tarinya, dan dia lemparkan ke dalam gudang. Sejak saat itu, dia bersumpah tidak pernah akan lagi menari.

Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan tiga orang anak. Suaminya telah meninggal. Dan untuk menghidupi keluarganya, dia bekerja menjadi pelayan dari sebuah toko di sudut jalan.

Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu. Nampak sang pakar berada di antara para menari muda di belakang panggung. Sang pakar nampak tua, dengan rambutnya yang sudah putih. Si ibu muda dengan tiga anaknya juga datang ke pagelaran tari tersebut. Seusai acara, ibu ini membawa ketiga anaknya ke belakang panggung, mencari sang pakar, dan memperkenalkan ketiga anaknya kepada sang pakar. Sang pakar masih mengenali ibu muda ini, dan kemudian mereka bercerita secara akrab. Si ibu bertanya, "Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya. Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan Anda bertahun-tahun yang silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu, sehingga Anda langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa mengatakan sepatah kata pun?"

"Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah melihat tarian seindah yang kamu lakukan waktu itu. Saya rasa kamu akan menjadi penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa kamu tiba-2 berhenti dari dunia tari", jawab sang pakar.

Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar. "Ini tidak adil", seru si ibu muda. "Sikap Anda telah mencuri semua impian saya. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa Anda meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari beberapa menit. Anda seharusnya memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya begitu saja. Mestinya saya bisa menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko!"

Si pakar menjawab lagi dengan tenang "Tidak... Tidak, saya rasa saya telah berbuat dengan benar. Anda tidak harus minum satu barel anggur untuk membuktikan anggur itu nikmat. Demikian juga saya. Saya tidak harus menonton Anda 10 menit untuk membuktikan tarian Anda bagus. Malam itu saya juga sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka sejenak saya tinggalkan Anda, untuk mengambil kartu nama saya, dan berharap Anda mau menghubungi saya lagi keesokan hari. Tapi Anda sudah pergi ketika saya keluar. Dan satu hal yang perlu Anda camkan, bahwa Anda mestinya fokus pada impian Anda, bukan pada apa yang saya katakan atau saya lakukan!

"Lalu pujian? Kamu mengharapkan pujian? Ah, waktu itu kamu sedang bertumbuh. Pujian itu seperti pedang bermata dua, satu sisi memotivasimu, satu sisi melemahkanmu. Dan faktanya saya melihat bahwa sebagian besar pujian yang diberikan pada seseorang yang sedang tumbuh hanya akan membuat dirinya puas pada pertumbuhannya itu. Saya justru lebih suka mengacuhkanmu agar hal itu bisa melecutmu berbuat lebih baik lagi. Tidak pantas Anda meminta pujian dari orang lain.

"Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. SeAndainya Anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap menari, mungkin hari ini Anda sudah menjadi penari kelas dunia. Mungkin Anda sakit hati pada saat itu, tapi sakit hati itu akan segera hilang begitu Anda mengayunkan langkah berlatih kembali. Tapi, sakit hati Anda karena penyesalan ini hari, yah, tidak akan pernah hilang selamanya...."

23 August 2005

Takut Membuat Kesalahan

Ketika saya diundang sebagai pembicara untuk seminar lain di kampus yang sama, saya berkesempatan bertanya langsung padanya. "Sebenarnya apa yang kamu takutkan?"

Ia menjawab, "Takut menghadapi orang banyak."

Saya tanya lagi, "Memangnya orang banyak akan berbuat apa sih? Kok sampai harus ditakuti?"

Ia sendiri bingung, sampai akhirnya ia sadar bahwa yang ditakutinya hanya satu, yaitu "takut melakukan kesalahan".

Sinta lupa kata-kata John Maxwell yang berbunyi: "Kesalahan terbesar yang kita perbuat dalam hidup ini adalah takut membuat kesalahan". Rasa 'takut membuat kesalahan' ini ternyata paling banyak menghambat kemajuan manusia. Seorang pelukis yang akan mulai melukis tidak boleh merasa takut membuat kesalahan. Kalau ia takut membuat kesalahan, apa jadinya dengan hasil lukisannya? Jangan-jangan ia tidak akan pernah mulai melukis.

Ketika berhenti kerja karena tidak cocok dengan pemegang saham yang baru, Martin ingin memulai bisnis baru di bidang perlengkapan komputer. Tapi berbulan-bulan ia ragu-ragu karena takut gagal. Uang pesangon yang akan dijadikan modal sudah mulai berkurang karena terpakai untuk biaya hidup sehari-hari. Ia pun semakin was-was. Memang ia takut gagal karena modalnya pas-pasan. Tapi semakin ia menunda bisnisnya, maka modalnya juga akan semakin berkurang. Martin harus bertindak cepat.

Untunglah kemudian ia sadar bahwa ketakutannya harus diatasi. Ia pun bertanya pada temannya yang sudah berhasil di bidang yang sama. Ia mempelajari segala seluk beluk bisnis itu lebih mendalam agar ia dapat mengurangi kemungkinan risiko gagal. Akhirnya ia mulai juga. Bulan ketiga ia sudah mendapat untung besar. Tahun kedua ia sudah memiliki dua toko komputer di Jakarta, bahkan tahun ini ia akan membuka dua toko lagi di Tangerang dan Bekasi.

Rosa menunda-nunda keputusan untuk mengambil waralaba sebuah restoran cepat saji dan membukanya di Bandung. Dari hasil analisanya, ia yakin bahwa pasti restoran itu laku karena lingkungan itu cukup ramai dan di situ belum ada restoran cepat saji yang enak. Tapi ia takut salah.

Empat bulan kemudian orang lain membuka waralaba restoran tersebut di lingkungan yang sama. Ternyata hasilnya sangat memuaskan. Tiap hari restoran itu dipenuhi pelanggan. 'life must go on!' Ketika Rosa menunda tindakannya karena takut salah, orang lain telah mengambil kesempatan itu. Karena Sinta takut melakukan kesalahan sehingga ia menolak menjadi pembawa acara, orang lainlah yang memperoleh kesempatan untuk belajar.

Isna harus menjadi pembicara di sebuah konferensi pers dalam rangka peluncuran produk baru. Dalam acara tersebut, Isna berusaha menjawab semua pertanyaan sebaik mungkin. Rolan, rekan kerjanya, berkomentar di belakang. "Dia bicaranya salah. Kalau saya mau, saya bisa memojokkannya sekarang. Saya bisa mempermalukannya di depan orang banyak."

Sungguh sangat disayangkan. Bukannya mendukung atau melakukan hal lain yang lebih bermanfaat, Rolan justru berpikir negatif. Jelas sekali terlihat bahwa ia sebenarnya iri melihat Isna duduk di meja depan sedangkan ia sendiri tidak kelihatan. Kalau ia berpikiran benar, tidak mungkin ia mengucapkan kata-kata yang merendahkan orang lain seperti itu. Untuk apa ia mempermalukan Isna? Supaya ia sendiri kelihatan hebat? Kelicikan hatinya sudah terlihat.

Sebaliknya Isna sangat positif. Ia tidak takut membuat kesalahan. Mungkin ia pernah malakukan kesalahan, tapi ia belajar agar kesalahan itu tidak terulang lagi. Ia belajar dari kesalahan. Kini, apabila dibandingkan, Isna jauh lebih unggul untuk tampil di depan umum dibandingkan Rolan yang berpikiran negatif. Mungkin Rolan dalam hati berpikir bahwa ia lebih baik daripada Isna, tapi yang menentukan adalah orang lain bukan? Pendengarlah yang lebih bisa merasakan dan melihat perbedaan yang menyolok diantara keduanya. Fakta membuktikan.

Rosa kemudian belajar dari pengalaman pahitnya untuk tidak takut lagi melakukan kesalahan. Ia segera mencari lokasi lain yang bagus dan membuka waralaba restoran tersebut yang ternyata memang laku keras, meskipun tidak sebagus pilihan pertamanya dulu. Tapi kini ia tidak membiarkan rasa 'takut membuat kesalahan' itu menghambat langkahnya. Ia meminimalisasi resiko dengan persiapan yang matang, lalu segera bertindak.

Sinta pun kemudian sadar bahwa ketakutan itu hanya ada dikepalanya. Hanya ada dalam pikirannya. Bukan sesuatu yang nyata. Ia tinggal memilih untuk mengatasinya atau menyerah pada pikiran negatif tersebut. Ia berjanji pada dirinya bahwa ia akan mengajukan diri menjadi pembawa acara seminar tahun depan. Ia tidak mau lagi membiarkan kesempatan lewat tanpa dimanfaatkan. Karena kalau ia tidak mau menggapai kesempatan, orang lain yang akan meraihnya. Tidak perlu takut membuat kesalahan! 'Go for it!'

22 August 2005

Mencoba Sesuatu Yang Positif

Setiap orang pernah merasakan suatu kekecewaan, kegagalan, dan frustrasi. Kadang semuanya datang sekaligus, dan kita merasa dunia runtuh. Segera sesudah itu kita melihat segala sesuatunya dari sisi negatif. Segala sesuatunya terlihat berantakan.

Sekarang coba anda melihat dari sisi lain untuk bangkit kembali. Bertindaklah. Lakukan sesuatu yang positif. Walau itu mungkin hanya menyapu halaman, atau membersihkan tumpukan file-file tua dari komputer anda.

Lakukan tindakan, di mana anda adalah penguasa hidup anda, dan anda akan merasa terfokus secara positif. Tindakan kecil dapat mengubah sikap anda secara ajaib.

Cobalah menolong seseorang. Lakukanlah sesuatu untuk orang lain. Cobalah melayani orang lain. Semakin kecil orang itu, semakin baik. Lalu cobalah anda keluar ruangan sejenak, dan perhatikan apa yang dapat anda kerjakan bagi orang lain. Orang lain tercipta untuk memperbaiki hidup anda. Sekarang giliran andalah memperbaiki hidup anda, lewat orang lain.

Hitunglah keberuntungan anda. Banyak hal baik dalam hidup anda, dan sering anda lupa bersyukur. Hargai dan bersyukurlah atas tempat tinggal anda, atas kesehatan anda, atas keluarga anda, atas pengalaman hidup anda, atas teman-teman anda, atas ketrampilan anda, pengetahuan anda, dan hidup yang anda miliki.

Temukan tantangan baru. Arahkan kembali energi negatif dan rasa frustrasi anda pada sesuatu yang dapat menantang anda untuk berbuat lebih baik.

Positif atau negatif, semuanya cuma ada dalam pikiran. Ubah sikap anda, dan melajulah.

21 August 2005

Cintailah Cinta

Memang menyakitkan ketika kita mencintai seseorang, namun ia tak membalasnya, tetapi yang lebih menyakitkan adalah ketika kita mencintai seseorang dan kita tidak pernah dapat menemukan keberanian untuk mengungkapkan perasaan kita padanya.

Sebuah hal yang menyedihkan dalam hidup ketika kita bertemu dengan seseorang, yang sangat berarti bagi kita, hanya untuk mengetahui pada akhirnya seseorang tersebut tidak ditakdirkan untuk bersama kita, sehingga kita harus dengan berat hati membiarkannya pergi dan berlalu.

Teman terbaik adalah teman dimana ketika kita duduk bersama disebuah ayunan, tanpa ada ucapan sekatapun, dan ketika harus berpisah dengannnya, terasa seolah hal tersebut merupakan percakapan paling menyenangkan yang pernah dilakukan bersama.

Adalah benar bahwa kita takkan pernah tahu apa yang telah kita dapatkan hingga kita kehilangannya. Tetapi adalah benar juga, ketika kita tidak tahu apa yang telah hilang hingga hal tersebut menghampiri kita.

Impikan saja apa yang ingin kita impikan, pergi saja kemanapun kita ingin pergi, jadilah sebagai sosok yang kita inginkan, karena kita hanya memiliki satu buah kehidupan dan satu buah kesempatan untuk dapat melakukan semua hal yang kita inginkan.

Letakkan diri kita sebagai layaknya orang lain, jika kita merasa hal yang kita lakukan akan menyakiti diri kita, hal tersebut mungkin akan menyakiti yang lain pula.

Kata-kata yang terucap tanpa perhitungan mungkin akan menyulut perselisihan, perkataan yang kejam dapat menghancur-kan kehidupan, sebuah kata yang tak tepat mungkin juga mampu menambah beban batin seseorang, dan... sebuah kata yang penuh cinta kasih mungkin dapat menyembuhkan dan memberikan berkah.

Orang yang paling bahagia adalah orang yang tidak merasa selalu membutuhkan semua hal terbaik, mereka hanya berfikir bagaimana mencipta semua hal menjadi terbaik bagi mereka, yang berlalu dalam hidupnya.

Cinta dimulai dengan sebuah senyum, kemudian tumbuh dengan sebuah kecupan, dan berakhir dengan air mata. Ketika kita dilahirkan, kita menangis begitu kerasnya, sementara orang-orang disekeliling kita tersenyum bahagia. Ketika kita menanggalkan hidup maka, kita adalah pihak yang tersenyum begitu bahagia... sementara orang disekeliling kita menangis.