Manajemen Bisnis Keluarga
Banyak bisnis besar bermula dari bisnis kecil dengan manajemen keluarga. Pola manajemen keluarga yang diterapkan dalam bisnis tersebut terus berkembang dan berubah, menyesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat kinerja perusahaan. Perusahaan sekaliber HM. Sampoerna juga bermula dari sebuah perusahaan kecil yang dikendalikan oleh keluarga. Masih banyak contoh perusahaan lain yang demikian. Dalam perjalanannya, perusahaan keluarga ada yang berkembang pesat ada juga yang biasa-biasa saja tetapi lebih banyak yang gagal. Perusahaan anda masuk kategori yang mana?
Bermula dari cita-cita luhur memperbaiki kondisi kesejahteraan keluarga, banyak dari kita yang memilih dengan cerdas untuk menjadi pemilik bisnis. Terlepas dari volume bisnis tersebut, yang pasti kita memiliki cita-cita yang tinggi dan mulia. Yang sangat disayangkan adalah kenyataan bahwa sepertinya tidak ada kurikulum pelajaran bagaimana cara mengelola bisnis agar kita bisa kaya yang bisa kita dapatkan di bangku sekolah manapun di dunia ini yang sederhana dan mudah dipahami.
Kenyataan ini memaksa kita belajar dengan otodidak melalui berbagai pengalaman langsung. Kita akan belajar dari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Tentu saja pengalaman ini kadangkala terasa sangat mahal. Mahal karena kita baru belajar setelah mengalami kesalahan pembelian, kesalahan produksi, kesalahan pemasaran, dll. Mungkin anda pernah belajar bagaimana pentingnya berinvastasi satu juta rupiah demi menyelamatkan investasi puluhan juta rupiah. Betapa sakitnya menyadari bahwa satu juta rupiah untuk membeli stabiliser arus listrik lebih bagus dari pada harus mengganti peralatan kerja senilai puluhan juta rupiah yang rusak karena arus listrik kita tidak stabil.
Lalu sejak mulai dan menjalankan bisnis tersebut, pasti akan ada terfikir bahwa kita memerlukan tenaga kerja yang loyal, paham dengan kultur kita, paham dengan situasi sulit kita, mendukung dengan sekuat tenaga agar bisnis kita berhasil dan yang pasti adalah paham jika gaji yang kita berikan tidak cukup tinggi.
Dengan situasi tersebut tersebut, lalu kita cenderung melibatkan orang dekat kita dalam keluarga. Orang tua, istri/suami, saudara kandung, sepupu, paman, anak dan seterusnya. Untuk masa permulaan, apapun kualifikasi kemampuan kerja saudara-saudara tersebut kita abaikan. Yang penting ada yang membantu dan secara pasti volume bisnis kita masih kecil dan kita masih sempat mengurusnya secara langsung, dari proses pembelian bahan baku, proses produksi, pemasaran, keuangan dan pembukuan serta berbagai urusan yang lainnya.
Mengapa harus keluarga?
Seperti yang saya sebutkan di atas, jelas kita memerlukan semacam perasaan aman dalam menjalankan bisnis. Perasaan anggota keluarga cenderung akan berpihak kepada kita. Sepertinya kita percaya bahwa mereka tidak akan mencuri, tidak akan berbuat khianat, tidak akan merongrong, tidak akan memberikan masukan yang menjerumuskan, tidak akan mempersulit dan tidak akan merusak sistem kita.
Sebagian dari kita masih berfikir mempekerjakan orang-orang di luar keluarga cenderung tidak memberikan perasaan aman seperti yang kita dapat dari keluarga sendiri. Andaipun terpaksa mempekerjakan yang bukan anggota keluarga, biasanya kita lebih cenderung melakukannya untuk hal-hal yang tidak strategis saja. Sangat berat rasanya memberikan kepercayaan kepada orang-orang di luar anggota keluarga.
Pada saat giliran kita memberikan kontribusi berupa pembayaran gaji, kita berfikir bahwa mereka akan maklum jika gajinya sedikit kurang dan kita akan merasa tidak bersalah jika kita memberikan gaji yang jauh lebih tinggi daripada kelasnya karena mereka adalah anggota keluarga.
Para proffesional yang bukan keluarga seringkali hanya sanggup menerima kenyataan jika bisnis kita berkembang dan beruntung. Pada saat bisnis bagus kita akan mengeluarkan bonus dan kewajiban-kewajiban normatif lainnya. Tetapi mereka tidak pernah siap jika bisnis kita tidak berkembang dan merugi. Mereka tidak pernah mau dikurangi gajinya jika perusahaan merugi dan tidak berkembang. Pemikiran-pemikian yang demikian buat saya bisa saya maklumi, tetapi bukan berarti tidak ada kejelekkan mempekerjakan anggota keluarga sendiri. Bukan juga berarti tidak ada 'orang luar' yang tidak dapat kita percayai.
Mengapa bukan keluarga?
Yang pasti, pola pikir keamanan tersebut di atas akan memberikan peluang berkembangnya subyektifitas yang sangat tinggi dan dominan. Kita akan cenderung lebih mendengar orang-orang kita (saudara) daripada orang lain. Kenyataan yang lain adalah pada saat tertentu, keluarga kandung bisa saja sangat tidak objektif. Kadangkala anggota keluarga kita juga mengalami masa-masa yang penuh ego, sombong, mementingkan diri sendiri dan mengabaikan tugas pokoknya.
Sejauh pengamatan saya, perilaku 'orang dalam' yang sering membuat rugi perusahaan keluarga adalah perilaku yang korup, mementingkan diri sendiri tetapi seolah-olah sedang mementingkan perusahaan. Perilaku ini tetap terjadi karena mereka adalah angota keluarga, sehingga perilaku tersebut cenderung didiamkan.
'Orang luar' karena tidak memiliki hubungan kedekatan akan cenderung objektif dan tidak memiliki kepentingan lain selain bekerja. Kita yang berlaku sebagai pengusaha sangat memerlukan input-input positif yang objektif. Jika kita ingin berkembang, kita harus tetap mempersiapkan diri untuk bersedia menerima masukan-masukan yang terkadang tidak menyenangkan.
Pada saat sudah mulai mempekerjakan 'orang luar' selayaknya kita memperjelas peran dan aturan main antara kelurga dan peran pekerja. Peran-peran tersebut seharusnya disosialisasikan kepada 'orang dalam' dengan tegas dan jelas. Mulailah dengan memberikan nama jabatan atas tugas utamanya serta memperjelas uraian tugas yang ditanggungjawabinya. 'Orang luar' hanya memahami jabatan pekerjaan dan bukan hubungan persaudaraan, jadi jika tidak ada nama jabatan yang jelas kita berikan kepada semua orang, akan mengakibatkan kebingungan dan ketidakjelasan.
Ketidakjelasan tugas dan peran akan membawa situasi yang mengambang dan mengundang 'kecemburuan' dari 'orang luar'. Kesan-kesan perlakuan tidak fair akan menghantui kinerja mereka. Tentu saja ini akan membuat suasana kerja berantakan.
Pada saat usaha terus berkembang, seyogyanya para pegawainya pun ikut berkembang. Sayangnya, anggota keluarga kita terkadang tidak cukup bijaksana untuk mengikuti perkembangan tersebut. Mereka merasa sudah cukup maju dan tidak lagi mau mengasah diri. Dalam situasi yang demikian, anggota keluarga kita yang dudukkan pada jabatan strategis dan tidak mau berkembang akan menjadi penghambat kemajuan bisnis kita.
Generasi penerus
Pada saat kita memulai sebuah bisnis, jarang terpikir oleh kita bagaimana nanti jika kita meninggal dan mewariskan bisnis tersebut kepada anak cucu kita. Kita bahkan belum berfikir bisnis tersebut bisa bertahan sampai usia pensiun kita. Apakah memang demikian?
Konon, kita sebagai orang tua juga sering menunjukkan kasih sayang yang salah kepada anak-anak kita. Kita tidak rela anak-anak kita bersusah payah seperti orang tuanya. Dengan harapan dan fikiran yang tidak menghargai ilmu kewirausahaan, kita berusaha menyekolahkan mereka dan berharap mereka akan 'bekerja' ditempat yang menjamin. Karena kecintaan kita yang salah kaprah inilah, kita bisa kehilanggan kader untuk melanjutkan dan mengembangkan bisnis kita.
Libatkan anak-anak kita dalam bisnis kita, mereka akan belajar dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan dan mengembangkan bisnis tersebut di masa yang akan datang. Mulailah menciptakan kader yang handal dari pengalaman-pengalaman yang kita alami.