28 May 2005

Manajemen Bisnis Keluarga

Banyak bisnis besar bermula dari bisnis kecil dengan manajemen keluarga. Pola manajemen keluarga yang diterapkan dalam bisnis tersebut terus berkembang dan berubah, menyesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat kinerja perusahaan. Perusahaan sekaliber HM. Sampoerna juga bermula dari sebuah perusahaan kecil yang dikendalikan oleh keluarga. Masih banyak contoh perusahaan lain yang demikian. Dalam perjalanannya, perusahaan keluarga ada yang berkembang pesat ada juga yang biasa-biasa saja tetapi lebih banyak yang gagal. Perusahaan anda masuk kategori yang mana?

Bermula dari cita-cita luhur memperbaiki kondisi kesejahteraan keluarga, banyak dari kita yang memilih dengan cerdas untuk menjadi pemilik bisnis. Terlepas dari volume bisnis tersebut, yang pasti kita memiliki cita-cita yang tinggi dan mulia. Yang sangat disayangkan adalah kenyataan bahwa sepertinya tidak ada kurikulum pelajaran bagaimana cara mengelola bisnis agar kita bisa kaya yang bisa kita dapatkan di bangku sekolah manapun di dunia ini yang sederhana dan mudah dipahami.

Kenyataan ini memaksa kita belajar dengan otodidak melalui berbagai pengalaman langsung. Kita akan belajar dari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Tentu saja pengalaman ini kadangkala terasa sangat mahal. Mahal karena kita baru belajar setelah mengalami kesalahan pembelian, kesalahan produksi, kesalahan pemasaran, dll. Mungkin anda pernah belajar bagaimana pentingnya berinvastasi satu juta rupiah demi menyelamatkan investasi puluhan juta rupiah. Betapa sakitnya menyadari bahwa satu juta rupiah untuk membeli stabiliser arus listrik lebih bagus dari pada harus mengganti peralatan kerja senilai puluhan juta rupiah yang rusak karena arus listrik kita tidak stabil.

Lalu sejak mulai dan menjalankan bisnis tersebut, pasti akan ada terfikir bahwa kita memerlukan tenaga kerja yang loyal, paham dengan kultur kita, paham dengan situasi sulit kita, mendukung dengan sekuat tenaga agar bisnis kita berhasil dan yang pasti adalah paham jika gaji yang kita berikan tidak cukup tinggi.

Dengan situasi tersebut tersebut, lalu kita cenderung melibatkan orang dekat kita dalam keluarga. Orang tua, istri/suami, saudara kandung, sepupu, paman, anak dan seterusnya. Untuk masa permulaan, apapun kualifikasi kemampuan kerja saudara-saudara tersebut kita abaikan. Yang penting ada yang membantu dan secara pasti volume bisnis kita masih kecil dan kita masih sempat mengurusnya secara langsung, dari proses pembelian bahan baku, proses produksi, pemasaran, keuangan dan pembukuan serta berbagai urusan yang lainnya.

Mengapa harus keluarga?
Seperti yang saya sebutkan di atas, jelas kita memerlukan semacam perasaan aman dalam menjalankan bisnis. Perasaan anggota keluarga cenderung akan berpihak kepada kita. Sepertinya kita percaya bahwa mereka tidak akan mencuri, tidak akan berbuat khianat, tidak akan merongrong, tidak akan memberikan masukan yang menjerumuskan, tidak akan mempersulit dan tidak akan merusak sistem kita.

Sebagian dari kita masih berfikir mempekerjakan orang-orang di luar keluarga cenderung tidak memberikan perasaan aman seperti yang kita dapat dari keluarga sendiri. Andaipun terpaksa mempekerjakan yang bukan anggota keluarga, biasanya kita lebih cenderung melakukannya untuk hal-hal yang tidak strategis saja. Sangat berat rasanya memberikan kepercayaan kepada orang-orang di luar anggota keluarga.

Pada saat giliran kita memberikan kontribusi berupa pembayaran gaji, kita berfikir bahwa mereka akan maklum jika gajinya sedikit kurang dan kita akan merasa tidak bersalah jika kita memberikan gaji yang jauh lebih tinggi daripada kelasnya karena mereka adalah anggota keluarga.

Para proffesional yang bukan keluarga seringkali hanya sanggup menerima kenyataan jika bisnis kita berkembang dan beruntung. Pada saat bisnis bagus kita akan mengeluarkan bonus dan kewajiban-kewajiban normatif lainnya. Tetapi mereka tidak pernah siap jika bisnis kita tidak berkembang dan merugi. Mereka tidak pernah mau dikurangi gajinya jika perusahaan merugi dan tidak berkembang. Pemikiran-pemikian yang demikian buat saya bisa saya maklumi, tetapi bukan berarti tidak ada kejelekkan mempekerjakan anggota keluarga sendiri. Bukan juga berarti tidak ada 'orang luar' yang tidak dapat kita percayai.

Mengapa bukan keluarga?
Yang pasti, pola pikir keamanan tersebut di atas akan memberikan peluang berkembangnya subyektifitas yang sangat tinggi dan dominan. Kita akan cenderung lebih mendengar orang-orang kita (saudara) daripada orang lain. Kenyataan yang lain adalah pada saat tertentu, keluarga kandung bisa saja sangat tidak objektif. Kadangkala anggota keluarga kita juga mengalami masa-masa yang penuh ego, sombong, mementingkan diri sendiri dan mengabaikan tugas pokoknya.

Sejauh pengamatan saya, perilaku 'orang dalam' yang sering membuat rugi perusahaan keluarga adalah perilaku yang korup, mementingkan diri sendiri tetapi seolah-olah sedang mementingkan perusahaan. Perilaku ini tetap terjadi karena mereka adalah angota keluarga, sehingga perilaku tersebut cenderung didiamkan.

'Orang luar' karena tidak memiliki hubungan kedekatan akan cenderung objektif dan tidak memiliki kepentingan lain selain bekerja. Kita yang berlaku sebagai pengusaha sangat memerlukan input-input positif yang objektif. Jika kita ingin berkembang, kita harus tetap mempersiapkan diri untuk bersedia menerima masukan-masukan yang terkadang tidak menyenangkan.

Pada saat sudah mulai mempekerjakan 'orang luar' selayaknya kita memperjelas peran dan aturan main antara kelurga dan peran pekerja. Peran-peran tersebut seharusnya disosialisasikan kepada 'orang dalam' dengan tegas dan jelas. Mulailah dengan memberikan nama jabatan atas tugas utamanya serta memperjelas uraian tugas yang ditanggungjawabinya. 'Orang luar' hanya memahami jabatan pekerjaan dan bukan hubungan persaudaraan, jadi jika tidak ada nama jabatan yang jelas kita berikan kepada semua orang, akan mengakibatkan kebingungan dan ketidakjelasan.

Ketidakjelasan tugas dan peran akan membawa situasi yang mengambang dan mengundang 'kecemburuan' dari 'orang luar'. Kesan-kesan perlakuan tidak fair akan menghantui kinerja mereka. Tentu saja ini akan membuat suasana kerja berantakan.

Pada saat usaha terus berkembang, seyogyanya para pegawainya pun ikut berkembang. Sayangnya, anggota keluarga kita terkadang tidak cukup bijaksana untuk mengikuti perkembangan tersebut. Mereka merasa sudah cukup maju dan tidak lagi mau mengasah diri. Dalam situasi yang demikian, anggota keluarga kita yang dudukkan pada jabatan strategis dan tidak mau berkembang akan menjadi penghambat kemajuan bisnis kita.

Generasi penerus
Pada saat kita memulai sebuah bisnis, jarang terpikir oleh kita bagaimana nanti jika kita meninggal dan mewariskan bisnis tersebut kepada anak cucu kita. Kita bahkan belum berfikir bisnis tersebut bisa bertahan sampai usia pensiun kita. Apakah memang demikian?

Konon, kita sebagai orang tua juga sering menunjukkan kasih sayang yang salah kepada anak-anak kita. Kita tidak rela anak-anak kita bersusah payah seperti orang tuanya. Dengan harapan dan fikiran yang tidak menghargai ilmu kewirausahaan, kita berusaha menyekolahkan mereka dan berharap mereka akan 'bekerja' ditempat yang menjamin. Karena kecintaan kita yang salah kaprah inilah, kita bisa kehilanggan kader untuk melanjutkan dan mengembangkan bisnis kita.

Libatkan anak-anak kita dalam bisnis kita, mereka akan belajar dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan dan mengembangkan bisnis tersebut di masa yang akan datang. Mulailah menciptakan kader yang handal dari pengalaman-pengalaman yang kita alami.

27 May 2005

Melejitkan Potensi Diri

Semoga kita benar-benar menjadi orang yang selalu dapat membaca situasi dengan cermat karena tanpa kemampuan membaca situasi kita biasanya salah dalam menempatkan sesuatu. Di dalam manajemen diri dibutuhkan keterampilan mengukur diri karena andaikata mempunyai percaya diri yang berlebihan pun dapat menjadi masalah.

Kesuksesan-kesuksesan yang diraih seseorang membuat orang percaya diri berlebihan sehingga dia menjadi salah mengukur dirinya sendiri, menjadi ceroboh, dia tidak mau mendengar nasihat ataupun pendapat orang lain, tidak memerlukan dukungan orang lain, tidak memerlukan pikiran orang lain. Maka jika kita salah dalam mengukur diri, itu merupakan sebuah kegagalan.

Contoh kesalahan mengukur diri adalah ketika kita merasa pandai, padahal tidak, maka akhirnya tugas yang seharusnya diselesaikan ternyata tidak dapat terselesaikan dengan baik. Maka jangan heran jika akhirnya menjadi stres. Dengan demikian, maka kita harus terampil mengukur diri dan membaca situasi yang tepat, sehingga kita bisa menempatkan segala sesuatu dengan baik.

Perasaan minder juga merupakan salah satu ciri seseorang salah dalam mengukur diri. Biasanya minder itu akan menyebabkan seseorang sering mendramatisasi kekurangan dirinya, seakan-akan kekurangan lebih dominan. Padahal sebenarnya dia mempunyai kemampuan, tetapi justru tenggelam oleh rasa mindernya.

Perasaan minder biasanya memang akan menimbulkan masalah. Orang yang selalu minder cenderung sulit untuk berkembang. Dia akan menghindar untuk bertemu orang lain, menghindar untuk merespons pembicaraan orang lain. Akibatnya dia akan kekurangan input, sehingga kesempatannya untuk maju menjadi kurang. Padahal kalau setiap kali mencoba sesuatu yang bermanfaat maka kemampuan kita insya Allah akan berkembang pesat.Terlalu percaya diri akan menimbulkan masalah, kurang percaya diri juga akan menimbulkan masalah. Dari sini bias kita simpulkan bahwa kalau seseorang tidak mengenal dirinya dengan tepat, maka dia hanya akan menimbulkan masalah ketika berinteraksi dengan lingkungannya.

Dengan demikian, maka diperlukan kemampuan untuk melihat diri dengan jujur. Puji-pujian yang ditujukan kepada kita kadang-kadang memang dapat memotivasi, tetapi jika tidak realistis dan proporsional justru tidak baik juga. Justru cacian merupakan feedback dari perbuatan yang telah kita lakukan. Cacian juga terkadang tidak realistis, tetapi bisa juga menjadi input terhadap kekurangan walaupun mungkin cara menyampaikan kurang etika.

Itulah beberapa hal yang harus selalu direnungkan. Mengapa kita harus terampil untuk mengukur diri kita sendiri secara proporsional? Itu semua supaya kita semua memiliki program pengembangan diri yang baik, kita jangan berat mengakui kekurangan kita, memang hal itu akan membuat kita menjadi malu di hadapan orang lain tetapi malu tidak dapat menyelesaikan masalah. Kita butuh energi untuk bisa maju tanpa dibebani malu yang tidak produktif. Malu sebagian dari iman, sepanjang mengelola malu itu menjadi sesuatu yang membawa makna, apabila dengan itu kita mampu dan berani melihat diri kita sendiri dengan jujur.

Menggalang potensi diri
Sungguh tiada terkira nikmat Allah Yang Maharahim kepada umat Islam bahkan umat manusia. Allah SWT melengkapi manusia dengan kesempurnaan fisik, kemampuan berpikir, dan sarana yang melimpah ruah di jagad alam semesta ini. Namun, mengapa umat manusia seolah-olah tidak pernah menyadari bahwa semua karunia tersebut semata-mata Allah sediakan untuk kaperluan ibadah? Jawabannya tiada lain karena bisikan setan yang tiada henti-hentinya membakar hawa nafsu manusia, sehingga kotorlah kalbu tempat Allah menanamkan benih-benih fitrah kebaikan dalam diri kita.

Karena kalbu kotor manusia cenderung menuruti hawa nafsu. Na'udzubillah. Apa upaya kita untuk membersihkan kalbu yang kotor ini? Hanya ada satu dan butuh perjuangan yang sangat keras, yaitu kembali kepada fitrah manusia yaitu Alquran dan Sunnah. Itulah prestasi yang hakiki, dan itulah yang menjadi garapan kita bersama. Kembangkan gairah prestasi fitrah yang kita miliki ini karena hidup hanya satu kali saja. Tanamkan keyakinan bahwa hidup adalah untuk mengukir prestasi yang bermakna bagi dunia dan berarti bagi akhirat nanti. Untuk itu, kita harus mampu memanfaatkan semaksimal mungkin waktu yang ada agar tidak terbuang sia-sia.

Untuk menjadi orang yang berprestasi, setidaknya ada dua hal yang harus kita perhatikan. Pertama, selalu berusaha sekuat tenaga untuk menjaga nama baik, karena nama baik akan membentuk citra positif bagi kita di masyarakat sehingga orang lain mau membuka diri dan bekerja sama dengan kita. Kedua, selalu berusaha sekuat tenaga untuk menambah wawasan dan mengembangkan keilmuan. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, mengenal, memahami, dan mengamalkan sesuatu hal yang bermanfaat bagi kita dan orang lain, usia yang terus bertambah bukan menjadi halangan bagi seseorang untuk terus meningkatkan kualitas diri.

Oleh karena itu, bagi orang-orang yang tidak pernah memperhitungkan nama baik dengan bersikap tidak jujur, licik, janji tidak ditepati, tidak disiplin, berdusta, dan berkhianat, maka hal tersebut akan merugikan diri sendiri. Lambat laun kredibilitas kita di masyarakat akan hancur, sehingga kehadiran kita pun tidak akan diperhitungkan.

Saudaraku, sudah menjadi suatu keharusan bagi siapa pun untuk terus menerus menggalang potensi kekuatan yang ada pada dirinya. Hal tersebut akan terlaksana apabila kita mulai menerapkan kedisiplinan pada diri sendiri. Untuk memaksimalkan potensi diri, kita harus berniat untuk terus belajar dan mengembangkan diri, membiasakan diri untuk tidak bergantung pada orang lain dan selalu berusaha untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan.

Kita harus selalu berusaha untuk mengoptimalkan kemampuan dengan seluruh daya upaya, sehingga menjadi manusia unggul yang selalu berkarya dengan diiringi amar ma'ruf nahi munkar. Yakinlah, bahwa setiap manusia berpotensi untuk menjadi orang yang profesional di bidangnya. Untuk itu haruslah ditegakkan disiplin tinggi dalam ibadah, disiplin dalam waktu, disiplin dalam ketertiban, disiplin dalam menjalankan peraturan dan tugas serta hal-hal lainnya yang positif. Sungguh siapa pun yang tidak memiliki disiplin dalam melaksanakan suatu program, tidak akan ada maknanya dan tidak akan bermanfaat bagi dirinya apalagi bagi orang lain.

Kita harus bermental baja, pantang menyerah, pantang mengeluh dalam menghadapi hambatan apapun, tidak melakukan suatu pekerjaan dengan setengah-setengah, selalu berusaha melakukan yang terbaik, antisipatif terhadap perubahan dan selalu siap menyikapi perubahan. Jadikan hari kita sebagai hari-hari berkualitas, berharga tinggi di depan Allah, jam demi jam maupun detik demi detik berharga sangat tinggi di hadapan Allah. Oleh karena itu tidak patut kita bermalas-malasan atau melakukan sesuatu yang sia-sia. Semoga semakin hari kita semakin menyadari bahwa hidup adalah untuk berprestasi, bermakna bagi dunia dan berarti bagi akhirat. Wallahu'alam.

26 May 2005

Mengelola Diri

Segala yang di bawah langit pasti berubah. Hanya satu hal yang tetap sepanjang masa, yaitu perubahan itu sendiri. Semua orang sudah mahfum dengan perkataan ini. Tetapi, tidak semua paham bahwa setiap perubahan selalu datang sambil bergandengan dengan segudang peluang atau pilihan.

Saya membicarakannya karena tergelitik kampanye internal salah satu biro iklan besar di Indonesia. ''Berubah atau Punah.'' Begitu yang terbaca pada spanduk kecil yang terpampang pada sudut-sudut kantor biro iklan yang berada di salah satu gedung jangkung di Jakarta.

''Tidak selamanya pergantian keadaan menuju ke arah lebih baik. Sekali pun yang datang krisis, sejumlah peluang dan pilihan tetap menyertainya,'' kata chief operating officer-nya.

Ambil contoh ketika terjebak kemacetan lalu lintas Jakarta. Apa yang dapat Anda lakukan kalau berada dalam situasi menjemukan itu? Senada dengan pendapat pemimpin biro iklan tersebut, ternyata banyak yang dapat dilakukan kendati dalam krisis. Sejumlah teman mengaku mengisi kemacetan dengan berzikir. Kebanyakan memilih membaca koran maupun buku. Ada juga yang memasang kaset pelajaran bahasa asing. Semua baik ketimbang menggerutui orang lain dan polisi.

Sementara itu, seorang teman lain memilih membuka laptop-nya dan menyelesaikan pekerjaan setiap kali terjebak keruwetan lalu lintas. Contoh yang ini menjelaskan bahwa dia telah beradaptasi dengan revolusi perubahan cepat teknologi informasi dan teknologi.

Dan, dia telah mendefinisikan kembali cara kerja dan cara pandang terhadap segala sesuatu di jaman serba komputer sekarang ini. Dia mempunyai rumusan baru menjalankan bisnis konsultannya dengan sokongan teknologi, yakni 3F: fast, focus dan flexible. Sehingga, dari setiap tempat dia dapat bekerja dan berkomunikasi dengan mitra bisnis.

Dengan rumusan tersebut dia mengaku sedang menjadikan dirinya sebuah merek atau citra. Persis seperti sebuah perusahaan yang mencoba menjaga reputasi dengan memuaskan semua pihak yang terkait langsung maupun tidak terhadapnya. Sekarang ini banyak perusahaan atau produk yang sengaja membangun citra jati dirinya ibarat manusia berbudi, lewat aktivitas menderma, menghibur, dan memudahkan.

Cerita tersebut menarik bila disandingkan dengan semakin seringnya datang kabar bahwa perusahaan-perusahaan sedang merasionalisasi atau melakukan restrukturisasi organisasinya. Maksud saya, semua itu ujung-ujungnya berupa pemutusan hubungan kerja (PHK) sejumlah karyawan dengan segala konsekuensi ke penghidupan banyak keluarga.

Kembali ke awal pembicaraan kita, mereka yang terkena PHK berarti menemui perubahan berupa krisis. Artinya, mereka sesungguhnya bukan mengalami petaka tapi menjadi memiliki banyak peluang dan pilihan mau bagaimana di kemudian hari.

Menjadi lebih baik. Itu pasti yang mereka inginkan. Caranya? Bisa bekerja di tempat lain kalau masih terbuka lowongan, menjadi wiraswasta, dan banyak lagi. Namun, apapun yang dipilih ada baiknya mencontoh bagaimana sebuah manajemen membangun citra perusahaan sedemikian rupa. Dengan kata lain, diri kita perlu manajemen diri sehingga mampu beradaptasi dengan perubahan yang dialami.

Anjuran tersebut berlaku bagi semua. Bukan hanya bagi yang terkena PHK. Sebab, seiring jarum jam berputar, perubahan terus terjadi pada diri dan lingkungan kita. Segera ciptakan pernyataan positioning diri setalah mengevaluasi ekuitas merek diri. Intinya mengenali diri sendiri dan mengetahui pasti apa yang dapat diperbuat dan bagaimana strategi mencapainya.

Hal tersebut persis dengan yang diperbuat oleh manajemen perusahaan. Mereka sadar harus terus memperbaiki diri terus menerus. Jika perlu ganti logo, gaya komunikasi, ganti disain ruang kerja dan alat kerja yang sudah ketinggalan jaman. Yang penting, terus mampu bersaing dan mampu beradaptasi dengan gencarnya perubahan.

Nah, Anda dapat melihat sendiri belakangan ini bermunculan nama dan logo baru di sekitar kita. Ada toko obat, yang namanya begitu melekat, sekarang tampil dengan warna cerah dan masa kini. Sebuah asuransi milik negara dan berumur tua juga tampil seperti perusahaan yang baru kemarin diperkenalkan. Dan banyak lagi.

Sesungguhnya mereka ingin memperlihatkan kepada kita bahwa mereka tetap mampu bersaing, tetap berdaya, dan masih pas dengan masa kini. Begitulah mestinya diri kita. Jangan sampai kalah bersaing karena menghindari perubahan dan tidak melihat peluang.
Berubah atau punah.

25 May 2005

Meditasi Dan Kesehatan

Pada edisi Mandiri minggu yang lalu kita telah membahas dan menunjukkan betapa dahsyatnya dampak pernapasan yang baik dan benar dalam sistem kesehatan tubuh jasmani kita. Demikian halnya pada edisi minggu ini kita akan membahas dan menunjukkan bagaimana kebiasaan melakukan meditasi dapat menjaga kesehatan tidak hanya tubuh jasmani tetapi juga terutama pengaruhnya pada kesehatan jiwa kita. Kebiasaan melakukan meditasi merupakan satu dari empat kebiasaan praktisi manajemen diri, yaitu: pola makan dan pola hidup yang sehat dan seimbang (balance diet and balance life), olah raga dan relaksasi (physical exercise/stretching and relaxing), pernafasan yang baik dan benar (deep breathing), dan meditasi (meditation).
Jika sikap rendah hati, mau melayani, sikap pasrah serta integritas diri merupakan indikator tingginya kecerdasan spiritual seseorang, kebiasaan-kebiasaan melakukan pola makan dan hidup yang seimbang, olah raga dan pernapasan yang baik, relaksasi serta meditasi tersebut merupakan kebiasaan-kebiasaan yang dapat membentuk kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi. Dengan melakukan empat kebiasaan manajemen diri tersebut secara ajeg dan terus menerus, kita dapat meningkatkan kesadaran (awareness) yang membimbing kita menuju kecerdasan emosional dan spiritual yang lebih tinggi.

Meditasi dalam Dunia Bisnis Modern
Dalam edisi akhir pekan tanggal 22 Februari 2002, The Asian Wall Street Journal memuat artikel yang ditulis oleh Kevin Voight dengan judul The New Soul Search. Artikel ini melaporkan trend baru yang dilakukan oleh para enterpreneur, managing director, top executives dari perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti Coca Cola Co., Mitsubishi Corp., Siemens AG, Hewlett-Packard Co., GlaxoSmithKline PLC, sampai perusahaan konsultan manajemen sekelas McKinsey & Co. maupun perusahaan besar seperti Australia & New Zealand Banking Group. Para eksekutif puncak tersebut sedang mendalami latihan-latihan meditasi dan peningkatan kecerdasan spiritual yang mulai dirasakan kebutuhannnya dalam dunia bisnis, terutama untuk membantu mengatasi stres dan tekanan pekerjaan yang dihadapi para eksekutif tersebut.
Hal yang terpenting adalah dengan melakukan meditasi mereka dapat menemukan makna dan tujuan hidup yang memberikan sense of direction, sehingga dengan demikian selain dapat membantu mengatasi stres, meditasi ternyata dapat meningkatkan produktivitas serta meningkatkan kesehatan seseorang.

Esensi meditasi
Pada prinsipnya meditasi adalah kegiatan untuk memasuki alam bawah sadar kita. Pada saat kita menyelami pikiran bawah sadar kita mengalami proses peningkatan kesadaran. Semakin dalam menyelam melalui alpha, tetha, delta, dan seterusnya, kita akan bisa mencapai puncak kehidupan spiritual. Di situ kita bisa menemukan tujuan hidup kita yang sebenarnya.
Namun, kita mempunyai kebebasan untuk menentukan sampai sejauh mana kita akan menyelami pikiran bawah sadar itu. Kita boleh menyelam sampai alpha saja, atau bahkan sampai delta. Yang pasti, semakin dalam kita memasuki pikiran bawah sadar, kesunyian dan keheningan akan semakin kita rasakan. Selain itu, energi yang kita miliki pun akan semakin besar dan kekuatannya semakin dahsyat.
Sekarang, bagaimana kita dapat menyelami pikiran bawah sadar lebih dalam, dan lebih dalam, sehingga kita bisa mencapai lapisan terbawah kesadaran tempat kita menemukan tujuan hidup yang sebenarnya? Satu-satunya cara untuk mencapainya adalah melalui meditasi penjelajahan transcendental (menembus) alam kesadaran yang lebih luas dan lebih dalam. Melalui meditasi, kita memperoleh energi kehidupan, kekuatan, dan terlebih lagi tuntunan dalam melewatkan hari-hari kehidupan kita.
Esensi meditasi adalah berakhirnya pikiran sadar (conscious mind) kemudian memasuki dimensi lain yang berada di alam bawah sadar (subconscious mind) dan supra kesadaran (supraconscious mind). Meditasi berarti keheningan (silence) – diam (stillness) – kesendirian (solitude). Keheningan muncul apabila pikiran sadar kita telah berhenti sepenuhnya. Diam berarti berhentinya aktivitas fisik atau setidaknya irama aktivitas fisiologis yang lambat, sedangkan kesendirian berarti Anda harus melakukannya sendiri tanpa bantuan, tuntunan, atau kehadiran orang lain.

Bagaimana Melakukan Meditasi
Dalam buku kami SELF MANAGEMENT dijelaskan bahwa banyak cara meditasi yang digunakan orang untuk menembus batas kesadaran tertinggi atau lapisan terdalam pikiran bawah sadar mereka. Sebagai contoh, John Kehoe, penulis buku terlaris Mind Power, melakukan tapa brata dengan menyingkirkan diri dari hiruk pikuk dunia, kemudian menyepi di dalam hutan untuk melakukan meditasi. Akhirnya dia menemukan banyak rahasia yang dia tulis dalam bukunya. Buku Mind Power ini menjadikannya miliuner dan pembicara kelas dunia meskipun berawal dari kesunyian dan pencarian diri.
Melakukan meditasi dapat dimulai dengan belajar melakukan relaksasi atau menurunkan frekuensi gelombang otak dari beta ke alpha. Mengenai hal ini pernah dibahas dalam rubrik Mandiri edisi 22 berjudul “Mengendalikan Pikiran Bawah Sadar”. Berikut adalah tips untuk melakukan meditasi secara sederhana dan mudah:
1. Lakukan senam ringan (stretching) selama + 10 menit kemudian lakukan aktivitas pernapasan seperti yang telah dijelaskan pada edisi minggu lalu. Ini perlu dilakukan agar badan kita segar dan frekuensi gelombang kita mulai memasuki alpha.
2. Pindah ke dalam ruang khusus yang teduh dan sunyi, di mana kita tidak akan terganggu dengan suara televisi, telepon atau apa saja yang mengganggu kekhusyukan kita. Kita bisa menggunakan kaset atau CD lagu khusus untuk meditasi atau musik klasik barok untuk membangun suasana hening. Jika anda suka, dapat digunakan aroma wewangian (aroma therapy).
3. Posisi bisa duduk dengan telapak kaki sejajar lantai atau bersila tanpa menyilangkan kaki (untuk menghindari kesemutan). Pejamkan mata dan mulai melakukan visualisasi anda berada di sebuah tempat yang damai dan nyaman.
4. Lakukan meditasi sekitar 15-30 menit.

Kami tidak dapat menjelaskan tentang apa itu meditasi lebih jauh karena sifat meditasi itu seperti yang tertulis di bawah ini:

Tidak dapat disampaikan lewat buku
Tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata
Hanya dapat ditunjukkan
Hanya dapat di alami
Itulah meditasi.

Oleh karena itu, kita perlu untuk terus melatih relaksasi dengan membangun Tempat Kedamaian (lihat Bab 20 buku SELF MANAGEMENT) dan menyempurnakan kemampuan meditasi kita. Pada saatnya nanti, kita dapat melakukan meditasi di mana saja, kapan saja, seperti kata iklan sebuah minuman ringan.
Kebesaran seseorang sangat ditentukan oleh seberapa dalam ia dapat berada dalam pikiran bawah sadarnya. Seperti kata Krishnamurti, seorang mahaguru meditasi dari India: “Anda harus terjun ke dalam air. Dan indahnya meditasi ialah bahwa anda tak pernah tahu di mana Anda berada, ke mana Anda pergi, dan apa jadinya akhir perjalanan Anda. Betapa maha pentingnya meditasi itu; tak ada akhir maupun awalnya. Ia bagai setetes air hujan. Dalam setetes air itu terkandung semua air yang mengalir, sungai-sungai besar, air terjun dan samudera.

Meditasi dan Kesehatan
R. Keith Wallace, ahli fisiologi dari UCLA, melakukan serangkaian penelitian pada sejumlah relawan yang sedang melakukan meditasi. Mereka dipasangi kabel-kabel elektromagnetik yang dihubungkan dengan monitor-monitor untuk menguji fungsi-fungsi kritis pada tubuh mereka sewaktu meditasi. Para relawan mengungkapkan bahwa sewaktu meditasi, mereka menemukan ketenangan batin yang luar biasa. Ketenangan ini sangat mempengaruhi tubuh dan jiwa mereka.
Seorang dokter lulusan Universitas Airlangga Surabaya menemukan temuan baru dalam penelitiannya. Ia menemukan bahwa shalat tahajud, yaitu shalat yang dilakukan dini hari oleh umat Islam —shalat adalah salah satu bentuk meditasi— yang dilakukan secara rutin bisa mencegah seseorang dari serangan berbagai penyakit. Shalat bisa mencegah naik turunnya hormon kortisol yang berperan sebagai indikator stres. Sedangkan stres merupakan salah satu faktor utama pemicu penyakit, termasuk kanker.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa jika seseorang melakukan shalat tahajud delapan rakaat dan membaca wirid (berdzikir) 200 kali setiap hari pukul 02:00 – 03:30 dini hari, kondisi batin mereka relatif tenang dan stabil. Ketenangan bisa membuat hormon kortisol mereka rendah, yang berarti tidak terkena stres. Seorang ahli kanker dari Surabaya juga sependapat bahwa shalat bisa meningkatkan respons imun (kekebalan) tubuh terhadap penyakit.
Sebuah publikasi penelitian tentang kanker yang dilakukan oleh para peneliti dari National Institutes of Health, USA yang dipimpin oleh Dr. Richard Childs, menyatakan bahwa penyakit kanker yang berat seperti kanker darah, kanker ginjal, dan kanker getah bening biasanya sangat resisten (tidak mempan) terhadap berbagai pengobatan seperti chemotherapy, maupun radio therapy. Namun, meskipun resisten terhadap berbagai pengobatan medis tersebut, sel-sel kanker ganas ini rupanya sangat rentan (susceptible) terhadap sistem kekebalan tubuh (sistem imunitas) penderita.
Apa arti laporan ilmiah ini? Sungguh luar biasa bahwa ternyata penyakit kanker yang sangat berat dapat dan hanya dapat disembuhkan oleh diri penderita itu sendiri melalui peningkatan sistem kekebalan tubuhnya. Bagaimana caranya? Seperti hasil penelitian ilmiah dari Surabaya — penderita perlu melakukan meditasi dan doa (melakukan shalat dan wirid bagi umat Islam) yang terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan respon imun/kekebalan tubuh terhadap penyakit. Bagaimana dengan penyakit AIDS? Menurut Anda apakah penyakit ini juga bisa disembuhkan. Jawabannya adalah ya!

24 May 2005

Disiplin

Semua orang kagum pada Mark Spitz, bintang Olimpiade tahun 1972 di Munich, Jerman. Waktu itu ia berhasil memperoleh tujuh medali emas serta memecahkan tujuh rekor dunia baru dalam olah raga renang. Adakah rahasia di balik keberhasilannya?

Ketika ditanya tentang rahasia keberhasilannya, Mark Spitz mengatakan, ”We all love to win, but how many people love to train?” – Kita semua menyukai kemenangan, tetapi tidak banyak dari kita yang menyukai latihan dengan penuh kedisiplinan. Semua orang melihat Mark Spitz menerima medali emas dengan penuh kekaguman. Namun, adakah yang memperhatikan bagaimana Mark Spitz harus melalui kedisiplinan dalam latihan keras sejak pagi, siang, sore, bahkan malam hari. Ternyata untuk mencapai prestasi tersebut Mark Spitz harus melalui latihan keras secara disiplin hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun. Ia telah membayar terlebih dulu harga kesuksesannya.

Kita semua juga ingin memperoleh banyak kesuksesan dalam kehidupan kita. Tetapi maukah kita membayar terlebih dulu kesuksesan yang kita idam-idamkan itu? Karena untuk meraih kesuksesan kita dituntut untuk membangun sebuah kebiasaan, sebagaimana dikatakan oleh Aristoteles, seorang filsuf besar sepanjang zaman, bahwa kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang (baca:secara disiplin).

Jadi, keunggulan bukanlah sebuah tindakan melainkan sebuah kebiasaan. Tidak ada cara lain untuk membangun sebuah kebiasaan kecuali melakukan sebuah tindakan secara terus-menerus berulang-ulang dengan disiplin. Melalui kedisiplinan kita dapat mengembangkan potensi dahsyat yang ada dalam diri kita. Kita harus menerapkan dan mempraktikkannya minimal dalam waktu 30 hari. Meskipun kadang-kadang perubahan atau manfaat dapat kita rasakan setelah beberapa hari mempraktikkannya, kita bisa memperoleh hasil yang lebih dahsyat setelah kita berhasil menjalankannya selama 90 hari. Setelah itu, kita bisa benar-benar merasakan manfaatnya.

Menurut John Maxwell, penulis buku Developing The Leader Within You, ada empat hal yang harus kita perhatikan untuk melakukan pengembangan diri secara disiplin sehingga dapat membangkitkan potensi dahsyat yang kita miliki. Empat hal tersebut adalah start with yourself – start early – start small – start now. Mulai dari diri sendiri – sesegera mungkin – sedikit demi sedikit – lakukan sekarang.

Kedisiplinan dalam pengembangan diri harus mulai dari diri kita sendiri. Ini berarti kita tidak bisa menyuruh orang lain melakukan latihan untuk kesuksesan kita. Contoh, untuk memperoleh medali emas olimpiade, Mark Spitz sendirilah yang harus berlatih – dia tidak bisa membayar orang lain untuk berlatih baginya.

Kedisiplinan harus dimulai lebih awal. Ini berarti kita harus segera memulai suatu kebiasaan baru tanpa menunggu keadaan menjadi sempurna. Kita bisa memulai latihan secara bertahap, sedikit demi sedikit. Yang terpenting adalah lakukan langkah pertama kita!
Kedisiplinan adalah syarat mutlak bagi setiap kita yang akan membangun sebuah kebiasaan baru. Setiap manusia baru akan memiliki sebuah kebiasaan baru ketika dia secara disiplin melakukan hal tersebut secara terus-menerus tidak pernah terputus selama sedikitnya 30 –90 hari.

Ketika menulis buku saya yang pertama, Self Management: 12 Langkah Manajemen Diri, saya sedang mengembangkan sebuah kebiasaan baru yang saya sebut dengan kebiasaan manusia milenium baru (Q Society). Sebuah kebiasaan yang didasarkan pada pengembangan kekuatan pikiran (mind power) untuk meningkatkan kesehatan fisik, emosi, mental, pikiran dan spiritual seseorang.

Saya menemukan banyak hal sulit ketika menjalankan program pribadi saya, di antaranya adalah disiplin diri. Anda bisa membayangkan kesulitan saya. Dulu, saya biasa tidur di atas jam 00:00 dan bangun pagi paling cepat pukul 08:00. Saya merasa nyaman dengan pola tidur saya seperti itu. Namun, saya harus mengubah zona kenyamanan saya dengan membiasakan diri tidur lebih awal dan bangun lebih awal (sekarang saya tidur sekitar pukul 21:00 dan bangun sekitar pukul 02:30 dinihari). Saya harus melawan rasa malas dan mengantuk saat saya bangun di pagi hari. Saya merasa seperti anak kecil yang disuruh melakukan hal yang tidak saya senangi. Tetapi itulah harga yang harus saya bayar untuk menjalani kehidupan sehat baik secara fisik, pikiran, dan spiritual.

Kata ‘disiplin’ atau ‘self-control’ berasal dari bahasa Yunani, dari akar kata yang berarti ”menggenggam” atau ”memegang erat”. Kata ini sesungguhnya menjelaskan orang yang bersedia menggenggam hidupnya dan mengendalikan seluruh bidang kehidupan yang membawanya kepada kesuksesan atau kegagalan.

John Maxwell mendefinisikan ‘disiplin’ sebagai suatu pilihan dalam hidup untuk memperoleh apa yang kita inginkan dengan melakukan apa yang tidak kita inginkan. Setelah melakukan hal yang tidak kita inginkan selama beberapa waktu (antara 30 – 90 hari), ‘disiplin’ akhirnya menjadi suatu pilihan dalam hidup untuk memperoleh apa yang kita inginkan dengan melakukan apa yang ingin kita lakukan sekarang!! Saya percaya kita bisa menjadi disiplin dan menikmatinya setelah beberapa tahun melakukannya.

Dalam contoh kebiasaan tidur saya, setelah mengubah kebiasaan tidur sekitar sebulan, sekarang saya otomatis tidur sekitar jam 09:00 malam dan bangun sekitar pukul 02:00 dini hari. Pola ini sekarang sudah menjadi kebutuhan saya untuk melakukan meditasi dan doa sekitar setengah jam.

Berikut saya mengutip tulisan John Maxwell tentang disiplin diri yang merupakan syarat utama bagi seorang pemimpin:

All great leaders have understood that their number one responsibility was for their own discipline and personal growth. If they could not lead themselves, they could not lead others. Leaders can never take others farther than they have gone themselves, for no one can travel without until he or she has first travel within. A leader can only grow when the leader is willing to ‘pay the price’ for it.

Dalam buku Developing the Leader Within You, John Maxwell menyatakan ada dua hal yang sangat sukar dilakukan seseorang. Pertama, melakukan hal-hal berdasarkan urutan kepentingannya (menetapkan prioritas). Kedua, secara terus-menerus melakukan hal-hal tersebut berdasarkan urutan kepentingan dengan disiplin.
Berikut beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk meningkatkan disiplin diri:

Tetapkan tujuan atau target yang ingin dicapai dalam waktu dekat.

Buat urutan prioritas hal-hal yang ingin kita lakukan.

Buat jadwal kegiatan secara tertulis (saya selalu menempelkan jadwal kegiatan saya di dinding depan meja kerja saya di rumah).

Lakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang kita buat, tetapi jangan terlalu kaku. Jika perlu, kita dapat mengubah jadwal tersebut sesuai dengan kondisi dan situasi.

Berusahalah untuk senantiasa disiplin dengan jadwal program kegiatan yang sudah kita susun sendiri. Sekali kita tidak disiplin atau menunda kegiatan tersebut, akan sulit bagi kita untuk kembali melakukannya.

Penjelasan ini membawa kita untuk mengetahui dan memahami diri kita, cara mengubah realitas, cara memanfaatkan potensi luar biasa dalam diri kita. Namun, semua ini tidak akan ada artinya jika kita tidak melakukan sesuatu. Kita harus melakukan sesuatu untuk kehidupan kita karena hanya kita sendiri yang dapat mengubah kehidupan kita. Melakukan sesuatu berarti mengambil langkah pertama, yaitu menetapkan tujuan atau target kita dan jangan menunda sampai situasi sempurna bagi kita. Kemudian, lakukan terus dengan disiplin, sehingga kita berhak mendapatkan apa yang kita inginkan.

23 May 2005

Apakah Cinta itu?

Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab,
Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan,
Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian,
Mereka yang mencintai, menyebutnya takdir.

Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kesusahan untuk menguji kita. Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam.

Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya. Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.

Mengapa menunggu?
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa.
Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono.
Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai, kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian itu.

Jika ingin berlari, belajarlah berjalan duhulu,
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.

Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat, Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah, karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.

Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
Kota Roma tidak dibangun dalam sehari,
Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,
Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan.

Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama, Dan penantian kita tidaklah sia-sia.

Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal - iman, keberanian, dan pengharapan - penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan.

Pada akhirnya. Tuhan dalam segala hikmat-Nya, meminta kita menunggu, karena alasan yang penting.

22 May 2005

Mendongkrak Nafsu Makan Waktu Sakit

Seperti obat, makanan berpengaruh besar pada proses penyembuhan. Banyak penelitian menunjukkan anak yang sakit akan sembuh lebih cepat bila makan teratur dan cukup gizi. Masalahnya pada saat sakit umumnya nafsu makan menurun drastis. Untuk mengatasinya ada beberapa cara yang bisa dilakukan.

Hindari makanan yang digoreng atau banyak santan
Mengkonsumsi makanan yang digoreng atau bersantan cenderung menimbulkan sensasi mual dan mau muntah bagi orang sakit. Begitu juga makanan yang terlalu banyak bumbu. Untuk itu upayakan penyajian makanan dengan cara direbus atau sedikit bumbu santan.

Sajikan makanan dengan tampilan yang menarik
Guna mengimbangi penurunan nafsu makan, penyajiannya diusahakan semenarik mungkin. Misalnya dengan mewadahi lauk dengan aneka warna atau gambar yang lucu. Sendok dengan tangkai bendera. Ataupun penyajian telur puyuh seperti tusuk sate.

Sajikan dalam porsi kecil dan sering
Porsi makanan yang diberikan hendaknya dalam jumlah kecil, namun dengan frekuensi pemberian yang lebih sering. Segera berikan makanan apabila anak memintanya walaupun itu bukan waktunya untuk makan.

Ciptakan suasana yang menyenangkan
Sediakan waktu khusus untuk berbagi cerita atau mendongeng pada saat anak sedang makan. Dengan begitu, penderitaan anak akan banyak berkurang.

Perbanyak makanan dengan kandungan energi tinggi
Hasil riset menunjukkan, saat anak sakit terjadi peningkatan kebutuhan energi dan protein. Setiap peningkatan suhu tubuh 1oC diperlukan tambahan energi 13% serta tambahan protein sebesar 10%. Karena itu perbanyaklah pemberian makanan yang banyak kandungan energinya. Seperti sari buah, puding, dsb. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan energi dapat diberikan makanan berprotein tinggi yang berbentuk agak cair, seperti sup telur, soto daging cacah, dsb.