Menulislah Jika Membuat Anda Merasa Bebas
Sejatinya semua orang, apapun latar belakangnya, dapat menulis sebuah karya, fiksi maupun non fiksi. Asalkan ia tidak buta huruf. Problemnya apakah ia memiliki hasrat untuk menulis dan kemudian melakukannya. Jika ia menuliskan atau menceritakan setiap kejadian berdasarkan fakta yang diingatnya tanpa keinginan untuk mereka-reka, melebihkan atau memperindah, ia adalah seorang penulis non fiksi. Sebaliknya, jika dalam menulis ia ingin mengubah berbagai hal, membesar-besarkan, mempercantiknya, atau bahkan menciptakan sesuatu yang baru yang tidak ada hubungannya dengan bahan awal, ia adalah seorang penulis fiksi. Inilah batasan sederhana yang diberikan oleh pengarang buku ini, Josip Novakovich.
Namun, pada umumnya semua karya fiksi adalah campuran antara fakta dan fiksi. Tinggal bagaimana imajinasi penulis dapat meramunya menjadi sebuah narasi yang menarik. Dalam hal ini dapat disebut Pramoedya Ananta Toer, yang sebagian besar novelnya berlatar belakang sejarah. Dalam novel-novelnya tersebut, Pramoedya Ananta Toer 'mengotak-atik', fakta sejarah menjadi rangkaian narasi yang sama sekali baru. Tidak ada yang salah berkaitan dengan hal ini. Penulis fiksi bebas memperlakukan 'fakta' sekehendaknya sesuai dengan tujuan yang ia inginkan.
Selain fakta sejarah, banyak sumber lain yang dapat dikadikan gagasan cerita. Ernest Hemingway menyulap pengalaman pribadinya sebagai serdadu dalam peperangan-peperangan yang pernah diikutinya menjadi sebuah karya monumental. Leo Tosloy menjadi pengarang terkenal setelah menulis triloginya, Childhood, Boyhood, Youth, yang mengambil pengalaman masa kecilnya sebagai bahan cerita.
Disamping itu, kita juga dapat mengambil gagasan cerita dari buku, cerita orang lain, dan apapun di sekeliling kita. William Faulkner menegaskan prinsipnya dalam memperoleh gagasan cerita, "Seorang seninam memang tidak bermoral dalam arti ia tidak segan-segan merampok, meminjam, meminta atau mencuri dari orang lain agar bisa berkarya."
Bukan maksudnya kita disuruh menjimplak karya orang lain. Kita sekedar dianjurkan mencari inspirasi dari pengarang lain. Banyak sastrawan besar melakukannya. Dalam Catatan Dari Bawah Tanah, Dostoyevsky menulis "Andaikan aku menjadi seekor serangga!" Franz Kafka terilhami oleh kalimat ini dan kemudian menulis The Metamorphosis, yang didalamya ada satu kalimat, "Pada suatu pagi, saat Gregor Samsa terbangun dari mimpi buruknya, dirinya telah menjadi seekor serangga besar di tempat tidurnya."
Setelah mendapatkan gagasan cerita, seorang penulis barus berhadapan dengan berbagai teknik penulisan. Ia harus menggarap setting, karakter tokoh, plot, sudut pandang, pilihan kata, serta menangani berbagai dialog dan adegan. Dalam tahap inilah seorang penulis pemula dituntut untuk berlatih dan terus berlatih. Hanya ada satu formula yang ditawarkan oleh Novakovich, "Duduk dan mulailah menulis!" Tidak ada jalan lain. Bahkan ketika tidak ada sepercik pun inspirasi yang akan dituliskan. Anda harus tetap menulis. Karena lebih mudah mendapatkan inspirasi ketika menulis daripada ketika berdiam diri.
Karena itu sebenarnya kita tidak perlu terlalu terpppaku pada teori atau teknik-teknik penulisan. Bahkan meskipun buku ini menawarkan banyak contoh teknik penulisan yang dikembangkan oleh para sastrawan besar, Novakovich tidak pernah menuntut pembaca untuk mengikutinya. Ia justru menyarankan agaar kita menulis sekehendak hati dengan bebas.
"Menulislah dengan cara apapun yang membuat Anda merasa bebas," tulisnya. Selamat menulis!