12 March 2005

Pemilihan Personal Computer

Home » Teknologi » Tips Techno Rabu, 24 Agustus 2005


Pemilihan Personal Computer
06 Januari 2005 16:29:44

Meskipun informasi tentang komputer perorangan (PC, personal computer) semakin meluas, namun tidak jarang seseorang merasa menghadapi masalah yang pelik ketika menentukan PC yang tepat dengan kebutuhannya. Bukan hanya karena PC merupakan barang yang relatif mahal, tetapi bisa jadi tidak semua bagian dari PC yang dibeli itu sesuai kebutuhan.

PC itu mungkin hanya untuk keperluan administrasi (pengetikan) atau dengan beban kerja yang lebih besar seperti membuat animasi. Tingkatan beban kerja seperti itu menentukan sistem komputer seperti apa yang dibutuhkan. Karenanya, pembeli harus mengetahui beberapa faktor yang patut dipertimbangkan sebelum membeli PC, seperti kapasitas penyimpanan, performa, dan kemampuan grafis.

Setelah menentukan kebutuhan, masalah yang juga harus diperhatikan adalah perkembangan teknologi dan perubahan harga. Perkembangan teknologi terjadi tidak hanya pada perangkat keras (hardware) tetapi juga terhadap perangkat lunak (software).

Keduanya, software dan hardware saling menyesuaikan. Dan, itu berarti pembelian PC dengan menggunakan hardware keluaran lama, tidak akan mampu mendukung software aplikasi keluaran baru. Atau, dengan kata lain PC yang baru dibeli itu tidak maksimal mendukung kebutuhan pembelinya.

Penjualan PC di pasaran berdasarkan perakitannya terdiri atas dua macam, yakni PC branded dan rakitan. Beberapa produk branded di antaranya Apple, IBM, Acer, Wearnes, Dell, Mugen, Zyrex, HP, dan Extron.

Pada PC branded semua komponen sudah dirakit pa-brik pembuatnya, sehingga pembeli tidak lagi dipusingkan dengan pemilihan setiap komponen yang sesuai satu dengan lainnya. Selain itu, meski harga PC branded relatif lebih mahal daripada PC rakitan, namun banyak penjual yang memberikan kesempatan mencicil.

Pemilihan yang rumit adalah saat pembeli menentukan sendiri komponen-komponen pembentuk PC yang dipesannya. PC seperti itulah yang termasuk kategori rakitan. Beberapa komponen pembentuk PC yang menentukan performanya adalah Prosesor, RAM (Random Access Memory), Hard drive, Drive Optik (CD-ROM atau CD-RW/ Read Write).

Prosesor

Pemilihan prosesor biasanya didahulukan karena komponen itu boleh dibilang sebagai otak PC. Untuk komputer perorangan jenis rakitan ini umumnya pasar menyediakan prosesor Intel dan AMD.

Kedua produk prosesor itu selalu memberikan nomor seri di setiap produk barunya. Seperti AMD Athlon A-2600B-T kemudian seri berikut dengan performa lebih baik AMD Athlon A-3000 XP-B atau Intel Celeron C-1800N-B dan Intel Celeron C-2000N-B.

Survei pasar yang dilakukan Pembaruan pada awal Januari, PC dengan Intel Celeron C-1800N-B dengan kecepatan transfer data 400 MHz dapat dibeli seharga Rp 1,9 juta. Spesifikasi lain PC itu, yakni Motherboard FIC Intel-845G, VGA+Sound+Lan, RAM menggunakan DDR-128 MB PC2700, Floppy Disk Drive (FDD)+CD ROM 48x, dan Cashing Simbadda

Namun, bila komputer yang diinginkan menuntut penanganan grafis dan pengolahan database maka prosesor yang diperlukan adalah Intel Pentium 4 yang memberikan kecepatan transfer data lebih tinggi yakni 800 Mhz dan memiliki teknologi menjalankan beberapa aplikasi secara bergantian (Hyper-Threading).

RAM (Memori)

Memori ini bisa diibaratkan sendok untuk memindahkan makanan dari piring ke dalam mulut. Semakin besar sendok semakin cepat makanan itu dimakan. Jika makanan di piring adalah data yang akan diolah, prosesor adalah mulutnya. Jadi, performa komputer tetap lambat meski memiliki prosesor yang tangguh namun memori (RAM) minim.

Memori yang saat ini mudah dicari di pasaran saat ini mulai dari kapasitas 128 MB, 256 MB, 512 MB, 1Giga Bite (GB). Semakin besar kapasitas semakin mahal, misal untuk 128 MB (DDR) sekitar Rp 206.500 (US $ 22) dan untuk 256 MB berkisar Rp 366.000 (US $ 39).

Untuk aplikasi PC, jika digunakan untuk mengolah gambar bergerak, setidaknya diperlukan hard drive berkapasitas 80 GB. Berbeda dengan PC untuk keperluan administrasi dan pengolah database umumnya cukup menggunakan 40 GB. Namun, ada merek hard drive yang mengeluarkan kapasitas 80 GB dengan selisih harga hanya Rp 130 ribu dibandingkan yang berkapasitas 40 GB.

Seperti perumpamaan di atas, hard drive yang digunakan untuk mengumpulkan data dapat diibaratkan sebagai piring. Semakin besar hard drive semakin besar data tersedia yang siap diolah. Kecepatan menyediakan data hard drive untuk diolah prosesor ada dua jenis, yakni 7200 rotation per menit (rpm) dan 5400 rpm. Semakin cepat penyediaan data itu semakin cepat kinerja PC.

Drive Optik

Komponen ini lebih sering disebut CD ROM meskipun sudah ada keluaran baru jenis DVD ROM. Keduanya memiliki bentuk yang hanya bisa membaca data dari CD atau DVD tetapi ada juga yang mampu menulis (CD ROM Read Write/RW, DVD ROM RW). Komponen ini menjadi penting karena kebanyakan software saat ini dijual dalam bentuk CD atau DVD. Jadi, software itu dapat di-copy (install) ke dalam PC melalui CD ROM atau DVD ROM.

11 March 2005

Plag Gigi pun Ternyata Membahayakan

Dr Ali El-Solh dari University of Buffalo New York (AS) mengingatkan agar semua orang bisa menjaga kesehatan gigi. Menurut penelitian kecil yang dilakukan Dr Ali menunjukkan bahwa gigi yang kotor atau bahkan sampai terjadinya `plag` akan membuat sang pemilik gigi bisa mengalami penyakit paru-paru dan pneumonia.

Dr Ali melakukan investigasi atas 8 pasien disebuah rumah sakit yang mengalami penyakit pneumonia. Dari pengamatan ini Dr Ali dengan jelas melihat bahwa penyakit pneumonia yang diderita oleh 8 pasien itu akibat plag pada gigi mereka sendiri.

Dr Ali juga mengatakan studi yang dilakukanya untuk melihat hubungan antara kesehatan gigi dengan penyakit yang berhubungan dengan pernafasan merupakan yang pertama. "Ini merupakan studi kali pertama yang melihat hubungan antara kesehatan gigi dengan infeksi pada saluran pernafasan."

Demikian jelas Dr. Ali El-Solh yang menjadi kepala tim peneliti. Hasil penelitian Dr Ali El-Solh ini dipublikasikan oleh the journal Chest. Selain melakukan penelitian atas para pasien penyakit pernafasan, Dr Ali El-Solh dan tekan juga melakukan pengujian atas 49 perawat rumah sakit tersebut.

Dimana semua perawat diketahui memiliki resiko yang besar terkena pneumonia. Karena molekul bakteri pneumonia melekat pada jari sang perawat. "Penelitian ini mengindikasikan bahwa plag pada gigi bisa menjadi tempat bagi pathogen yang bisa menyebabkan pneumonia."

Sehingga Dr Ali El-Solh menyarankan agar para perawat yang membantu pasien agar selalu memelihara gigi mereka.

10 March 2005

Uji Kembali Kualitas Kamera Digital

Secara umum, konsumen dapat mengetahui performa sebuah kamera digital hanya dengan melihat spesifikasi yang tertera pada brosur atau buku petunjuk yang disertakan pada kotak kamera digital tersebut.

Informasi mengenai kualitas gambar yang dihasilkan, berapa cepat kamera tersebut mampu menghasilkan gambar dalam kurun waktu tertentu, serta daya tahan baterai, merupakan serangkaian informasi yang disediakan di dalam brosur atau buku petunjuk kamera digital.

Namun, tidak ada salahnya jika kita melakukan semacam uji kelayakan terhadap kamera digital yang kita beli, sekadar untuk memastikan bahwa spesifikasi yang disebutkan di dalam brosur tersebut benar adanya.

Berdasarkan informasi dari hasil penelitian CNET Labs yang dimuat pada situs CNet.com, terdapat beberapa cara untuk melakukan pengujian beberapa parameter terhadap sebuah kamera digital.

Menurut situs tersebut, guna mengevaluasi kualitas gambar sebuah kamera digital, maka dapat dilakukan dengan mengambil gambar menggunakan kamera tersebut dengan pencahayaan yang terkontrol, dengan variasi indoor dan outdoor.

Untuk pengambilan gambar indoor, pencahayaan sepenuhnya dapat dikendalikan. Karena itu, dapat dilihat perbedaan ketajaman dengan mengambil objek menggunakan variasi warna, tekstur, dan refleksi benda secara kontras. Uji ini akan memperlihatkan bagaimana kamera tersebut mampu menangkap perbedaan yang ada secara signifikan.

Hasil pemotretan indoor tersebut dapat diperbandingkan dengan hasil outdoor, yang sepenuhnya tanpa kendali pencahayaan. Dari evaluasi ini, dapat dilihat sejauh mana kamera tersebut mampu menghasilkan gambar yang berkualitas dengan berbagai kondisi.

Untuk mengevaluasi performa kamera, dapat dilakukan dengan menghitung berapa lama kamera digital tersebut mampu menghasilkan fungsi yang tipikal, seperti powering up, dan kemudian memperbandingkan hasil pemotretan satu kali dan dua kali secara sekaligus.

Langkah evaluasi performa juga dapat dilakukan dengan jalan menghitung berapa banyak foto yang dapat dihasilkan sebelum baterai yang digunakan habis.

Dengan mengenali performa kamera digital, maka dapat dilihat, atau setidaknya diperkirakan, apakah spesifikasi yang disebutkan di dalam brosur yang disertakan dalam kotak dan kenyataan yang didapatkan setelah evaluasi sendiri bersesuaian.

09 March 2005

Tips Memilih Kamera Digital

Memilih kamera sebenarnya gampang-gampang susah terutama bagi pengguna yang masuk katagori pemula atau amatir. Oleh karena itu, tips ini sangat berguna bagi calon pengguna kamera sebelum memilih kamera digital yang diinginkan. Berikut beberapa tips sebelum berburu kamera digital:

1. Resolusi
Gambar digital dibuat oleh titik-titik yang disebut piksel. Resolusi ini merujuk pada banyaknya piksel yang bekerja sama membuat suatu foto. Biasanya ditunjukkan oleh horisontal x vertikal. Resolusi 1280 x 960 memiliki total 1,2 Megapiksel. Semakin besar resolusi akan memproduksi foto yang juga lebih baik.
Sesuaikan resolusi yang ditawarkan dengan pilihan Anda. Biasanya dalam satu kamera tersedia pilihan resolusi yang berbeda. Jika hanya ingin mengirim foto melalui e-mail, resolusi 640 x 480 sudah memadai. Tapi jika ingin mencetak sebaiknya pilih resolusi yang lebih besar, agar gambar tidak pecah dan buram.

2. Pastikan fitur pendukung lainnya
Sebelum membeli, pastikan kamera digital pilihan Anda memiliki beberapa fitur pendukung seperti kemampuan memori tambahan. Ini untuk memperbesar gudang penyimpanan foto Anda. Jika sesekali menginginkan gambar bergerak, pilih kamera yang mendukung video karena beberapa kamera digital ada yang hanya berkemampuan audio saja. Sesuaikan dengan kebutuhan Anda. Video atau audio?
Selain itu perhatikan kemampuan zoom yang ditawarkan. Optical zoom menjadi pusat perhatian ketimbang digital zoom, si peranti lunak yang menyediakan fasilitas cropping dan memperbesar gambar.

3. Lampu kilat (flash)
Rata-rata produk kamera digital dilengkapi dengan lampu kilat yang terintegrasi. Ada yang otomatis, atau perlu menekan tombol on untuk menjalankannya. Flash berguna sebagai pendukung cahaya. Gambar yang diambil dalam kondisi agak gelap dapat tetap tampil maksimal dengan bantuan lampu menyilaukan ini. Perhatikan juga apakah si ramping memiliki fitur tambahan seperti pengurang efek mata merah. Beberapa produk juga datang dengan pilihan foto untuk pengambilan gambar di malam hari atau night scene.

4. Layar LCD
Layar LCD di bagian belakang kamera digital memudahkan Anda melihat obyek. Di sini Anda juga bisa melihat dan menghapus gambar yang tidak diinginkan. Pilih layar LCD dengan kandungan resolusi yang cukup besar sehingga warna yang tampil lebih natural. Ukuran layar juga berbeda-beda. Pastikan layar tidak terlalu kecil, sehingga gambar bisa tampil maksimal.

5. Self-timer
Self timer biasanya bisa mencapai 10 detik. Selain memudahkan memotret gambar diri, fitur ini juga berguna untuk mengambil gambar dalam keadaan cahaya yang kurang karena bisa mengurangi guncangan akibat tekanan pada tombol pengambilan gambar.

6. Daya tahan baterei
Kalau tak ingin kesenangan terputus gara-gara baterei loyo, Anda perlu memperhatikan berapa lama sumber listrik ini bisa bertahan. Memilih baterai yang bisa diisi ulang (rechargeable) adalah tindakan bijaksana dan lebih hemat.

7. Koneksi
Perhatikan apakah kamera digital Anda bisa berhubungan dengan perangkat digital lainnya seperti televisi, printer, PC atau Mac. Anda akan tertolong dengan adanya USB kabel. Anda juga bisa mencetak gambar dengan bantuan kabel USB. Beberapa kamera digital sudah mendukung PictBridge yang membuat Anda leluasa mencetak gambar langsung dari kamera digital meski mereknya berbeda. Adapun keenam vendor yang mempelopori standar terbuka itu adalah Canon, Hewleet-Packard, Seiko Epson Corporation, Olympus Optical Company, Fuji Photo Film Corporation, dan Sony Corporation.

8. Kalkulasi harga
Jangan lupa untuk mengkalkulasi harga perangkat pendukung lainnya seperti baterei isi ulang dan adapter AC.

9. Waktu operasi
Pilih kamera digital yang tidak butuh waktu terlalu banyak setelah jeda pengambilan gambar. Selisih waktu 4 hingga 6 detik saja mungkin membuat Anda kurang puas dengan kinerja si ramping.

10. Bandingkan harga dan garansi
Jangan hanya terpikat pada satu toko saja. Kalau ada waktu luang tidak ada salahnya Anda melakukan riset kecil-kecilan sebelum membeli. Margin keuntungan yang berbeda menjadi sumber mengapa harga yang Anda temui di toko yang satu tidak sama dengan yang lain. Perhatikan juga garansi. Akhirnya jangan hanya terpikat pada bentuk tubuh yang menggoda, tapi perhatikan isi atau fitur yang ada di dalam suatu produk.

08 March 2005

Jangan Hidupkan Ponsel dalam Pesawat

Menggunakan ponsel di dalam pesawat terbang baik sedang mengudara maupun ketika pesawat sedang berada di darat berpotensi membahayakan keselamatan seluruh penumpang dan awak pesawat. Di samping itu, juga melanggar kepantasan dan tatakrama.

Pesawat Crossair dengan nomor penerbangan LX498 baru saja lepas landas dari bandara Zurich, Swiss. Sebentar kemudian pesawat menukik jatuh. Sepuluh penumpangnya tewas. Penyelidik menemukan bukti adanya gangguan sinyal ponsel terhadap sistem kemudi pesawat. Sebuah pesawat Slovenia Air dalam penerbangan menuju Sarajevo melakukan pendaratan darurat karena sistem alarm di kokpit penerbang terus meraung-raung.

Ternyata, sebuah ponsel di dalam kopor di bagasi lupa dimatikan, dan menyebabkan gangguan terhadap sistem navigasi. Boeing 747 Qantas tiba-tiba miring ke satu sisi dan mendaki lagi setinggi 700 kaki justru ketika sedang final approach untuk mendarat di bandara Heathrow, London. Penyebabnya adalah karena tiga penumpang belum mematikan komputer, CD player, dan electronic game masing-masing (The Australian, 23-9-1998).

Daftar ini masih dapat diperpanjang lagi. Mereka yang tak peduli akan keselamatan dirinya, dan penumpang lainnya, boleh saja terus bersikap tak peduli akan larangan mengaktifkan ponsel dalam pesawat. Tetapi seorang kapten tentara Arab Saudi dihukum cambuk 70 kali karena kedapatan menyalakan ponsel di dalam pesawat.

Seorang teknisi Inggris dijebloskan ke penjara selama setahun karena menolak permintaan pramugari British Airways untuk mematikan ponselnya. Menurut peraturan FAA (Federal Aviation Administration) mengaktifkan ponsel di dalam pesawat terbang bukan saja selama penerbangan adalah pelanggaran hukum (illegal) dan dapat dihukum atas dakwaan membahayakan keselamatan umum.

Di Indonesia? Begitu roda-roda pesawat menjejak landasan, segera terdengar bunyi beberapa ponsel yang baru saja diaktifkan. Para "pelanggar hukum" itu seolah-olah tak mengerti bahwa perbuatan mereka dapat mencelakai dirinya dan penumpang lain, disamping merupakan gangguan (nuissance) terhadap kenyamanan orang lain.

Dapat dimaklumi, mereka pada umumnya memang belum memahami tatakrama menggunakan ponsel, disamping juga belum mengerti bahaya yang dapat ditimbulkan ponsel dan alat elektronik lainnya terhadap sistem navigasi dan kemudi pesawat terbang.

Ponsel harus dimatikan, tidak hanya diswitch agar tidak berdering selama berada di dalam pesawat. Ini penting ditegaskan karena banyak orang menyimpulkan sendiri bahwa ponsel hanya berpotensi bahaya ketika pesawat mengudara.

Dengan memahami hal ini, kita menyadari bahwa bukan saja ketika pesawat sedang terbang, tetapi ketika pesawat sedang bergerak di landasan pun terjadi gangguan yang cukup besar akibat penggunaan ponsel.

Kebisingan pada headset para penerbang dan terputus-putusnya suara mengakibatkan penerbang tak dapat menerima instruksi dari menara pengawas dengan baik. Potensi kecelakaan masih dapat terjadi di darat ketika pesawat sedang bergerak menuju pintu embarkasi (gate) karena gangguan komunikasi.

Sebenarnya, secara teknis penggunaan ponsel di dalam penerbangan lebih mengganggu sistem telekomunikasi di darat (terrestrial) ketimbang gangguan pada sistem pesawat terbang. Seperti kita ketahui, ponsel tidak hanya mengirim dan menerima gelombang radio, melainkan juga meradiasikan tenaga listrik untuk menjangkau BTS (Base Transceiver Station).

Sebuah ponsel dapat menjangkau BTS yang berjarak 35 kilometer. Artinya, pada ketinggian 30.000 kaki, sebuah ponsel bisa menjangkau ratusan BTS yang berada dibawahnya. (Di Jakarta saja diperkirakan ada sekitar 600 BTS yang semuanya dapat sekaligus terjangkau oleh sebuah ponsel aktif di pesawat terbang yang sedang bergerak diatas Jakarta).

Overloading terhadap BTS karena penggunaan ponsel di udara dapat sangat mengganggu para pengguna ponsel di darat. Sebagai mahluk modern, sebaiknya kita ingat bahwa pelanggaran hukum adalah juga pelanggaran etika. Tidakkah kita malu dianggap sebagai orang yang tidak peduli akan keselamatan orang lain, melanggar hukum, dan sekaligus tidak tahu tata krama?

Sekiranya kita terbang, bersabarlah sebentar. Semua orang tahu kita memiliki ponsel. Semua orang tahu kita sedang bergegas. Semua orang tahu kita orang penting. Tetapi, demi keselamatan sesama dan demi sopan santun menghargai sesama, janganlah mengaktifkan ponsel selama di dalam pesawat terbang. Aktifkan ponsel Anda setelah Anda berada di gedung terminal.

07 March 2005

Ketika Buku Menjadi Santapan Lezat

Problematika pendidikan masih belum terpecahkan secara tuntas. Kurikulum yang selalu berubah belum memberikan konsekuensi dan kemapanan program pendidikan. Sementara itu, pengaruh global semakin tak terbendung dan akhirnya membanjiri pola pikir dan perilaku anak didik kita. Begitu pula dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang saat ini sedang disosialisasikan dan rencananya akan diberlakukan secara menyeluruh pada 2004 mendatang. Seiring dengan otonomi daerah, kurikulum ini pun menjadi harapan yang kesekian dalam meningkatkan mutu pendidikan yang dapat memberikan nilai lebih berupa kecakapan hidup (life skill) agar para siswa dapat bersaing secara kompetitif. Khususnya dalam matapelajaran bahasa dan sastra Indonesia, peningkatan keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) semakin menjadi perhatian. Mengingat kompetensi dasar berbahasa ini belum tertanam kokoh dalam diri siswa. Padahal, di tengah-tengah pesatnya kemajuan teknologi informasi, siswa membutuhkan keterampilan dan kemampuan “membaca” yang hebat.

Beberapa hipotesis muncul berkenaan dengan rendahnya minat baca para siswa khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Seseorang akan kuat berlama-lama menonton televisi ketimbang membaca sebuah buku. Sebuah ungkapan satiris pun muncul: “Kalau orang Jepang tidur untuk membaca, tetapi kalau orang Indonesia membaca untuk tidur”. Hal ini mungkin berkaitan erat dengan tradisi yang terbentuk secara historis sehingga masyarakat Indonesia melewatkan fase tradisi membaca setelah fase tradisi lisan dan tulisan.

Terlepas dari semua itu, hal yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana upaya kita dalam menumbuhkembangkan minat baca dengan memberikan stimulus-stimulus dan motivasi yang dapat menggerakkan seseorang menumbuhkan minat baca. Beberapa buku yang menyajikan kiat-kiat praktis (how to) dalam membaca sudah banyak. Terutama buku-buku terjemahan yang merupakan hasil eksperimen mereka yang sebetulnya belum tentu dapat disentuh oleh masyarakat Indonesia.
Buku Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza memberikan sebuah alternatif baru bagaimana stimulus dan motivasi dalam membaca dan menulis itu dapat diajarkan kepada siswa dengan suasana yang menyenangkan. Siswa tidak merasa tertekan atas materi-materi yang diberikan. Siswa dapat belajar sesuatu dengan memahami manfaatnya terlebih dahulu sehingga tidak muncul perasaan berjarak antara materi pelajaran dan kehidupan keseharian.

Ada beberapa hal menarik yang bisa disimak dalam buku ini. Pertama, buku ini dikemas dengan judul yang sangat memikat. Pengambilan judul yang menarik sebuah tulisan memang diperlukan untuk memikat pembaca. Melalui judul yang dapat merangsang imajinasi ini, muncul sebuah stimulus yang disampaikan secara halus yang dapat membawa kita dari dunia khayal ke dunia riil, sekaligus mengubah pandangan tentang buku yang buruk dan membosankan. Dengan menggunakan kalimat pengandaian, kita dapat turut membayangkan “kelezatan” dan “gizi” sebuah buku. Sebuah tarikan dan pesona dunia imajinatif yang cukup menawan, seperti halnya kehebatan pesona imajinatif dunia Harry Potter yang menjadi salah satu pembahasan utama buku ini.

Dikatakan bahwa dunia Harry Potter seperti ingin menyindir sekolah-sekolah masa kini yang cenderung membosankan. Berbeda dengan Sekolah Hogwart yang merupakan tempat mengasyikan bagi Potter dan teman-temannya. Bahkan, di sekolah itu, buku-buku pun dihidupkan sedemikian rupa sehingga membuat para siswa, terutama Hermione, keranjingan membaca (hlm. 179). Di dunia Harry Potter, J.K. Rowling—penulis buku itu—memang membawa pembacanya untuk memasuki alam khayal, alam yang penuh dengan keajaiban akibat sihir. Namun, bukankah sebenarnya ilmu-ilmu yang dipelajari di sekolah-sekolah—fisika, kimia, biologi, sejarah, bahasa, matematika—penuh dengan keajaiban? Sebuah perbandingan antara dunia nyata dengan dunia imajinatif yang penuh ide yang dapat mendorong kita untuk bergerak menciptakan dan mengubah dunia nyata menjadi seperti dalam dunia imajinatif tersebut.

Hal kedua yang menjadi daya tarik buku ini adalah penulis menyodorkan sebuah pemikiran, gagasan, dan pengalaman yang telah “diujikan” selama melaksanakan proses belajar mengajar. Pengalaman penulis menjadi guru bahasa Indonesia memberikan gambaran bagaimana teknik-teknik belajar membaca dan menulis harus diberikan kepada siswa. Pengalaman ini disajikan secara akrab dengan menggunakan gaya tutur yang tidak berjarak, seakan-akan kita sedang berbincang-bincang secara langsung dengan penulis. Penulis mengemukakan bahwa “Buku ini adalah wujud dari catatan-catatan harian saya. Buku ini bercerita bagaimana pikiran saya tumbuh dan berkembang. Buku ini juga, setidaknya, dapat menunjukkan concern saya. Dan semoga buku ini mampu memberikan gambaran mozaik ‘pengalaman batin’ saya” (hlm. 11).

Selain itu, buku ini memiliki muatan tersirat untuk merekonstruksi atau bahkan “merevolusi” metode-metode pembajaran yang selama ini berlaku statis dan instruksional. Tentunya, pemikiran ini muncul bersamaan dengan makin maraknya isu pendidikan yang mulai menjadi perhatian utama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Penulis menjelaskan bahwa buku ini menyinggung masalah word smart atau linguistic intelligence (kecerdasan berbahasa) yang terinspirasi oleh gagasan multiple intelligences-nya Howard Gardner. Menurut Gardner, setiap orang mempunyai delapan macam kecerdasan, dan satu di antaranya word smart. Melalui buku ini, penulis berkeinginan untuk membantu siapa saja—semacam terapi—yang mau melejitkan “kecerdasan berbahasa”.

Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza merupakan sebuah pengandaian dan keinginan penulis untuk mengubah citra buku menjadi sesuatu yang ringan dan menyenangkan. Andaikan buku-buku yang bertebaran di sekeliling kita adalah makanan yang lezat, yang memiliki aroma dan rasa memikat tentu kita akan melahap semuanya. Meskipun mungkin tak semua orang setuju dengan pengandaian itu, buku ini dapat dijadikan terobosan untuk mengubah kekakuan dalam proses pendidikan. Siapa pun boleh memberikan analogi atas apa yang dia suka dan minati, yang terpenting bagaimana minat membaca dan menulis itu dapat mengkristal menjadi kompetensi dasar para siswa.

06 March 2005

Kiat Merawat Buku

1.. Biasakan untuk segera memberi sampul plastik pada buku-buku yang
baru Anda beli.


2.. Bacalah buku dengan tertib. Jangan menjadikannya bantal tidur
atau melemparkan buku sembarangan. Kebiasaan membasahi tangan dengan ludah
ketika membolak-balik halaman juga akan mempercepat kerusakan buku.
Hindari melipat atau menandai halaman buku dengan tinta warna-warni.


3.. Simpanlah buku dalam posisi berdiri pada rak khusus, atau yang
lebih baik adalah pada lemari tertutup. Buku-buku yang ditumpuk, apalagi
di atasnya diberi beban yang berat, akan membuat lembaran-lembaran buku
saling menempel sehingga sulit dibuka, huruf-hurufnya cepat pudar dan
jilidnya cepat lepas. Berilah juga butir penyerap air (silica gel) dan
kapur barus pada rak lemari buku.


4.. Jangan mengisi rak buku terlalu penuh. Berilah sela untuk
mempermudah pengambilan dan pengaturannya.


5.. Hindarkan buku dari air, minyak, debu dan panas matahari langsung
atau lampu yang berkekuatan tinggi. Buku-buku yang terkena hal-hal di
atas akan membuat kertasnya cepat berjamur, warnanya menguning dan
gampang robek.


6.. Jangan membiasakan membawa buku dengan memasukkan ke dalam tas
yang sudah penuh sesak dengan berbagai barang, apalagi bercampur dengan
makanan. Juga tas atau wadah yang ukurannya lebih kecil dari ukuran
buku.


7.. Usahakan untuk tidak memfotokopi buku. Punggung buku yang
difotokopi biasanya akan ditekan kuat-kuat agar datar permukaannya. Ini jelas
akan membuat jili dan buku cepat rusak. Selain itu, ingatlah bahwa
memfotokopi buku tanpa izin adalah pelanggaran hukum dan hak cipta.


8.. Catatlah dengan tertib jika buku terpaksa harus dipinjamkan.
Jangan takut untuk meminta janji kepastian pengembaliannya. Akan sangat
sayang jika buku yang terawat baik malah hilang karena orang lain
menyepelekan keberadaannya.


9.. Jangan lupa pula untuk melakukan perawatan khusus, dengan lebih
cermat dan menyeluruh, secara berkala.