11 June 2005

Mensyukuri Neraka

Entah kapan dimulai, dan siapa yang memulainya tidaklah terlalu jelas. Yang jelas, ada banyak sekali manusia yang amat rindu akan surga dan amat takut sama neraka. Dari anak kecil sampai orang tua, dari orang desa sampai orang kota, kebanyakan rindu surga dan takut neraka.

Jujur harus diakui, sayapun pernah lama dilanda kerinduan dan ketakutan semacam itu. Cuman, setelah menelusuri lorong-lorong kehidupan dengan kedalaman kontemplasi tertentu, rupanya kita manusia sudah terlalu lama manja dengan buaian surga, dan dibuat takut oleh ancaman neraka. Untuk kemudian kehilangan dua kesempatan emas dalam hidup. Kesempatan emas pertama, manusia kehilangan kekuatan amat besar yang bernama keikhlasan. Kesempatan emas kedua, justru melalui tempaan-tempaan neraka yang ditakuti (baca : masalah) kemudian manusia jadi kuat dan hebat.

Konsepsi surga-neraka, sebagaimana kita tahu, memang memiliki banyak sekali manfaat. Cuman, sebagaimana wajah dualitas manapun, konsepsi surga-neraka membuat tidak sedikit manusia kemudian "berdagang" dengan kehidupan. Sebagai akibatnya, manusia kehilangan keikhlasan sebagai kekuatan kehidupan.

Ada cerita tentang sebuah desa yang tidak berhasil memotong pohon besar mengganggu. Karena berbagai peralatan tidak berhasil membuat pohon tumbang, dicurigai pohon ini ditunggui mahluk dengan kekuatan metafisik tertentu. Dicarilah orang "pintar" yang bisa membantu. Ternyata, ada orang berpenampilan sederhana yang bisa memotong pohon tadi dengan gergaji biasa. Orang terakhir hanya memotong pohon tadi dengan kalimat permulaan yang berbunyi: "Dengan keikhlasan di depan Tuhan, tidak ada yang tidak bisa dilakukan."

Ternyata kinerja orang sederhana ini terdengar ke banyak tempat. Di samping karena kekaguman masyarakat, juga kerena hadiah besar yang telah diterimanya. Di desa seberang yang memiliki problema yang serupa kemudian memanggilnya. Dan setelah memotong pohon dengan teknik dan alat yang sama, ternyata berkali-kali hanya berujung kegagalan. Ada yang berubah, katanya setelah berulang kali gagal, hadiah rupanya melenyapkan keikhlasan!

Ini memang hanya sebuah cerita, namun layak direnungkan kalau keikhlasan bukanlah sumber kelemahan. Ia sejenis tenaga dalam yang bisa membuat manusia jadi demikian perkasa. Terinspirasi dari banyak cerita-cerita sufi, demikian juga dari puisi-puisi Gibran dan Rumi, serta kualitas pemimpin-pemimpin yang masih berkuasa ketika badannya sudah disebut meninggal oleh dokter, keikhlasan sudah menjadi tema kehidupan yang kuat sejak dulu.

---------------------Catatan Dynamics Consulting:----------------------

Bagi sahabat yang tertarik untuk bersama memperkaya jiwa
Hadiri Program Dynamics Consulting bersama Gede Prama dalam:

Life ReCreation Forum X
Life Innovation Through Heart Inntilligance
(Menemukan Kecerdasan yang Membahagiakan)
Jakarta, Kartika Chandra, Ruang Kirana
Tanggal 27 Mei 2004, Pukul 09.00-16.00 WIB

Sejarah berjalan konsisten! Perang, konflik, permusuhan, perceraian, skandal, semuanya bergerak konsisten. Semuanya dibawa terus oleh pipa-pipa sejarah tanpa tanda-tanda akan berhenti.
Teknologi berkembang, pengetahuan semakin maju, sejarah semakin jelas catatannya, kekayaan materi bertambah, manusia bertambah cerdas tapi toh semuanya ini terulang kembali.
Ada yang bertanya, "Kenapa meningginya kecerdasan tidak diikuti oleh bertambahnya kedamaian dan kebahagian?"

Untuk informasi lebih lanjut klik
Agenda Dynamics Consulting dan klik Kontak Kami
atau hubungi sdr/i:
Yadi, Henri, Ivan, Ayu
Telp. (021) 7486 3845
Fax. (021) 7486 0536
SMS melalui No HP 0813 10727 923, 0813 10727 914

------------------------------------terima kasih-----------------------------------

Kesempatan emas kedua yang dibuat lenyap oleh konsepsi surga-neraka, adalah kekuatan-kekuatan yang bisa dihadirkan oleh keseharian yang penuh dengan "neraka". Masalah, godaan, tantangan, persoalan adalah rangkaian hal yang ditakuti banyak manusia sebagaimana mereka menakuti neraka. Semakin sedikit wajah neraka seperti ini yang hadir, semakin baik bagi para pengagum surga.

Ternyata kehidupan bertutur dan bercerita lain. Sebagaimana pernah dituturkan secara apik oleh M. Scott Peck dalam The Road Less Travelled, mereka-mereka yang menakuti neraka ternyata tumbuh jadi manusia lemah dan lembek. Sebagian bahkan terkena penyakit kejiwaan yang menyedihkan. Di bagian awal buku inspiratif ini Scott Peck menulis : "This tendency to avoid problems and emotional suffering inherent in them is the primary basis of all human mental illness". Kecenderungan untuk lari dari masalah dan penderitaan adalah fundamen utama dari kondisi mental yang tidak terlalu sehat.

Bercermin dari sini, neraka tidaklah seburuk bayangan banyak orang. Dalam lapisan-lapisan kejernihan yang lebih dalam, neraka adalah tempat pemurnian. Sebuah tempat di mana sampah-sampah kehidupan diolah menjadi pupuk-pupuk berguna. Sebutlah masalah keseharian seperti dimarahin atasan. Sesaat memang membuat yang bersangkutan kesal, tetapi kemarahan atasan sedang membuatnya jadi kuat. Atau memiliki isteri yang cerewetnya minta ampun, ia memang sengaja hadir untuk membuat sang suami jadi sabar. Demikian juga dengan masalah lain.

Yang jelas, lari dari persoalan memang enak sebentar, tetapi ia membawa dampak jangka panjang yang negatif. Meminjam argumen Scott Peck dalam karya di atas, kesukaan untuk lari dari masalah dan tanggung jawab adalah ciri utama dari manusia-manusia yang terkena penyakit character disorder. Lebih dari sekadar terkena penyakit kejiwaan tadi, tantangan dan masalah sebenarnya serupa dengan tangga-tangga kedewasaan dan kematangan. Semakin tinggi dan besar masalahnya, itu berarti kaki sang hidup sedang melangkah di tempat yang juga tinggi.

Surga (baca: kebahagiaan) memang udara kehidupan yang indah dan segar, tetapi ia terasa jauh lebih indah dan segar jika seseorang pernah melalui tangga-tangga neraka. Serupa dengan lingkaran Yin-Yang yang di belah dua, awalnya memang ada beda jelas dan tegas antara surga dan neraka. Surga itu berisi senyuman, neraka berisi tangisan. Namun, di tingkatan-tingkatan kejernihan, sekat dan pemisah tadi sudah tidak ada. Suka-duka, tangisan-senyuman, sukses-gagal hanyalah aliran kehidupan yang datang dengan peran masing-masing. Persis seperti siang yang berganti malam dan juga sebaliknya, setiap pergantian berjalan tenang dan tenteram. Dan jangan lupa, kualitas hidup di dalam diri seperti ini hanya bisa dicapai oleh manusia yang mendalami hakekat syukur akan adanya neraka.

10 June 2005

Hadiah Terbaik Untuk Diri Sendiri

Setiap orang pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupan. Ada masa sulit dalam berumah tangga, kehidupan karir, kesehatan, atau kehidupan pribadi yang diguncang badai. Kebanyakan juga setuju kalau masa-masa sulit ini bukanlah keadaan yang diinginkan. Sebagian orang bahkan berdoa, agar sejarang mungkin digoda oleh keadaan-keadaan sulit. Sebagian lagi yang dihinggapi oleh kemewahan hidup ala anak-anak kecil, mau membuang jauh-jauh, atau lari sekencang-kencangnya dari godaan hidup sulit.

Akan tetapi, sekencang apapun kita menjauh dari kesulitan, ia tetap akan menyentuh badan dan jiwa ini di waktu-waktu ketika ia harus datang berkunjung. Rumus besi kehidupan seperti ini, memang berlaku pada semua manusia, bahkan juga berlaku untuk seorang raja dan penguasa yang paling berkuasa sekalipun. Sadar akan hal inilah, saya sering mendidik diri untuk ikhlas ketika kesulitan datang berkunjung.

Syukur-syukur bisa tersenyum memeluk kesulitan. Tidak dibuat sakit dan frustrasi saja saya sudah sangat bersyukur. Pelukan-pelukan kebijakan seperti inilah yang datang ketika sang hidup sempat membanting saya dari sebuah ketinggian. Sakit memang, tapi karena ia sudah saatnya datang berkunjung, dan kita tidak punya pilihan lain terkecuali membukakan pintu rumah kehidupan, maka seterpaksa apapun hanya keikhlasanlah satu-satunya modal berguna dalam hal ini.

Senyum penerimaan terhadap kesulitan memang terasa kecut di bibir. Dan sebagaimana logam yang sedang dibuat menjadi patung indah, kesulitan memang terasa seperti semprotan panasnya api mesin las, dihajar oleh palu besar, kencangnya cubitan tang, menyakitkannya goresan-goresan amplas kasar, atau malah tidak enaknya bau cat yang menyelimuti seluruh badan patung logam. Semua tahu, kalau badan dan jiwa ini kemudian akan menjadi ‘patung logam’ yang lebih indah dari sebelumnya. Tetapi tetap saja ada sisa-sisa ketakutan – dan bahkan mungkin trauma – yang membuat kita manusia menghindar dari kesulitan.

Cuman selebar apapun goresan luka yang dibuat oleh kesulitan, ada mahluk yang amat berguna dan amat dibutuhkan dalam pengalaman-pengalaman menyakitkan ini, ia bernama sahabat. Tidak semua sahabat fasih memberikan nasehat. Tetapi dengan kesediaannya untuk mendengar, sinaran mata yang berisi empati, kesediaan untuk menjaga rahasia, sahabat menjadi permata berlian yang amat berguna dalam keadaan-keadaan ini.

Di rumah saya memiliki seorang sahabat yang amat mengagumkan. Dari segi pendidikan formal ia hanya tamatan SMU. Bahkan SMU tempat ia bersekolah dulu sudah bubar, sebagai tanda ia bukanlah berasal dari sekolah yang terlalu membanggakan. Namun nasehat serta keteladanan hidupnya kadang mengagumkan. Di kantor saya memiliki sejumlah bawahan yang datang sama manisnya baik ketika dipuji maupun setelah dimaki. Seorang tetangga menelpon, mengirim SMS dan bahkan menyempatkan diri berkunjung ke rumah. Tidak untuk memberikan ceramah, hanya untuk mendengar. Seorang sahabat dekat yang memimpin sebuah raksasa teknologi informasi bahkan mengatakan bangga menjadi sahabat saya. Ketika tulisan ini dibuat, seorang sahabat lama yang tinggal di Surabaya menelepon, tanpa bermaksud menggurui ia mengutip kata-kata indah Confucius : ‘Manusia salah itu biasa, tetapi menarik pelajaran dari kesalahan itu baru luar biasa’.

Apa yang mau saya tuturkan dengan semua ini, rupanya sahabat adalah hadiah paling berharga yang bisa kita berikan pada diri kita sendiri. Secara lebih khusus ketika kita ditimpa kesulitan yang menggunung. Sehingga patut direnungkan, kalau kita perlu menabung perhatian, empati, cinta buat para sahabat. Tidak untuk berdagang dengan kehidupan. Dalam arti, memberi dengan harapan agar diberi kelak. Melainkan, sebagaimana cerita dan pengalaman di atas, dalam dunia persahabatan, dalam memberi kita sebenarnya sudah diberi. Bahkan, setiap sahabat yang memberi perhatian dan empati pada sahabat lainnya, ketika itu juga mengalami the joy of giving. Ketika itu juga seperti ada beban di bahu yang berkurang jauh beratnya.

Ada memang orang yang memiliki banyak sekali teman. Kemana-mana namanya dipanggil orang. Cuman, sedikit diantara semua teman yang banyak ini kemudian bisa menjadi sahabat. Bercermin dari kenyataann inilah, maka saya lebih memusatkan diri untuk mencari dan membina sahabat. Jumlahnya memang tidak akan pernah banyak. Bahkan ia lebih sedikit dari jumlah jari tangan. Cuman sesedikit apapun jumlahnya, sahabat tetap sejenis hadiah terbaik yang bisa kita bisa berikan buat diri sendiri.

Mobil mewah memang bisa membawa kita ke tempat jauh lengkap dengan gengsinya. Rumah mewah memang bisa meningkatkan kenyamanan tinggal sekaligus meningkatkan kelas. Ijazah lengkap dengan gelarnya yang mentereng juga bisa meningkatkan percaya diri. Akan tetapi, baik mobil mewah, rumah mewah maupun ijazah tidak bisa menghadirkan empati yang menyentuh hati ke diri ini. Lebih-lebih ketika sang kesulitan datang menghimpit badan.

Di sebuah Sabtu pagi, seorang sahabat yang membaca harian Kompas yang memberitakan bahwa saya mengundurkan diri dari jabatan presiden direktur di sebuah kelompok usaha amat besar di negeri ini, langsung menelepon saya dari tempat yang jauh. Ia berucap sederhana : ‘saya bangga jadi teman Anda’. Inilah hadiah terbaik yang bisa dihadiahkan ke diri sendiri. Ia tidak dibungkus kado, ia juga tidak hanya datang ketika hari raya atau ulang tahun. Ia justru lebih sering datang ketika kita amat membutuhkannya.

09 June 2005

Dalam Kesabaran Ada Kesadaran

Ada sebuah kebiasaan yang menyenangkan hati dan jiwa saya belakangan ini. Setiap kali selesai melakukan meditasi, kemudian menemukan rangkaian pemahaman yang layak untuk dibagi ke banyak orang hari itu, maka saya tulislah pesan tadi ke dalam pesan SMS yang dikirim ke puluhan sahabat. Dan tidak sedikit sahabat yang menerusakannya lagi ke puluhan sahabatnya yang lain. Maka jadilah pesan-pesan SMS yang selalu diawali dengan kata �Gede Prama�s message of the day� sebagai bahan renungan yang ditunggu banyak sahabat. Begitu ada minggu tanpa SMS terakhir, tidak sedikit sahabat yang mengirimi saya SMS : mana pesan untuk minggu ini ?

Kalau ada orang yang melakukan silaturahmi dengan cara mendatangi rumah kawan, saya melakukan silahturahmi melalui SMS. Dan dalam pesan-pesan SMS yang umumnya bertemakan cinta, keheningan, kebahagiaan dan kesabaran, ada yang sempat bertanya, adakah mereka menerima pesan dari seorang konsultan ataukah dari seorang pendeta ?. Dengan enteng pertanyaan ini saya jawab, bahwa pesan ini datang dari seorang gelandangan intelektual. Sebuah sebutan yang diberikan oleh salah seorang sahabat, dan kebetulan saya menyukainya. Pasalnya, pengembaraan saya telah melalui banyak sekali halaman-halaman rumah orang lain.

Lahir dan besar memang di dunia manajemen, namun karena merasa tandus dan kering di tempat lahir ini, saya melanjutkan pengembaraan ke mana-mana. Seorang sahabat jurnalis yang merangkum karya saya, sempat menyebut perjalanan saya sejauh ini sebagai campuran antara psikologi, pilosopi dan religi. Dan apapun sebutan dan campurannya, mirip dengan rumah yang saya tinggali ketika tulisan ini dibuat, rumah intelektual saya juga tanpa pagar pemisah dan pagar penyekat.

Yang jelas ada satu hal yang amat membantu saya hidup hening dalam rumah intelektual tanpa pagar : kesabaran. Kita masih bisa berdebat tentang hubungan antara kualitas intelektual serta keheningan di satu sisi, dengan kesabaran di lain sisi. Namun saya mendapat pelajaran amat banyak dari kesabaran. Ia tidak saja menjadi mesin kebahagiaan, tetapi juga mesin kejernihan dan keheningan.

Bila menoleh pada tangga-tangga pemahaman saya terdahulu, betapa ketertutupan pikiran dan mind mudah sekali muncul dalam kualitas kepribadian yang jauh dari kesabaran. Marah adalah pertanda ekstrim yang muncul ke permukaan sebagai hasil produksi ketidaksabaran. Cuman ketertutupan mind tidak bisa dilihat semudah kita melihat orang marah. Ia sering kali hadir secara amat tersembunyi.

Ketika masih melanjutkan studi di Inggris dan sempat sedikit terpesona dengan ide-ide orang seperti Derrida dan Foucault, pernah terpikir untuk ikut mengkonstruksi mind ke dalam weak and strong mind. Di mana kesabaran lebih dekat dengan weak mind, dan ketidaksabaran menghasilkan strong mind. Namun, semakin sang kesabaran diselami dan didalami, semakin saya dihadapkan pada borderless mind, sebuah pemahaman tanpa sekat-sekat. Apapun isi mind dari tua-muda, suka-duka, desa-kota, terdidik-tidak terdidik, sampai dengan born and unborn mind, tetap saja sekat-sekat itu tidak banyak membantu. Setiap bentuk sekat membuat perjalanan pemahaman tidak tambah dalam, sebaliknya malah tambah dangkal.

Sebut saja sekat-sekat benar-salah, atau suka-tidak suka. Ia membuat semua orang hanya mampu melihat sebagian kecil saja dari wajah dunia. Apa lagi sekat-sekat menakutkan seperti ideologi dan agama yang dibela dengan teror bom dan pada akhirnya menghasilkan air mata. Ia disamping mendangkalkan, juga membuat sang kehidupan berwajah mengerikan.

Bercermin dari sinilah, saya batalkan niat saya untuk ikut mengkonstruksi weak and strong mind. Kemudian, berjalan terus bersama kesabaran dengan sebuah cita-cita sederhana : melampaui mind. Bedanya, kalau Derrida dan Foucault menggunakan kendaraan pikiran, saya sedang belajar melampaui pikiran dengan jalan-jalan Yoga. Sebuah jalan dengan teramat sedikit bahasa, kata-kata apa lagi sekat.

Di tingkat kesadaran, dunia memang tanpa pagar, pemisah dan tanpa sekat. Namun, ia menjadi sulit dijangkau karena manusia biasa melihat dan menjelaskan �hanya� melalui bahasa - dari mana sekat dan pemisah itu berasal. Sungguh tidak mudah berkomunikasi, apa lagi menerangkannya ke Anda bagaimana wajah sang kesadaran melalui media bahasa. Ingin sebenarnya, suatu waktu kolom ini hanya ada foto dan nama saya, dan sisanya hanya kertas kosong. Bila mana perlu tanpa kertas, tanpa penjelasan, tanpa apa-apa. Yang ada hanya kosong melompong. Sayangnya, pengelola majalah ini tidak cukup gila untuk saya ajak masuk dalam kesadaran.

Kembali ke cerita awal saya tentang pesan-pesan SMS yang membuat banyak teman bertanya heran apakah saya menekuni psikologi, pilosopi atau malah religi, dari tempat pengembaraan saya kemukakan ke sahabat-sahabat, saya hanyalah seorang pertapa yang disuruh jadi raja. Dan dari kursi raja ini kemudian saya menemukan, kesabaranlah kendaraan yang bisa membawa kita dalam kesadaran. Apakah Anda akan ikut saya, tidak ikut atau lari ketakutan, itu urusan Anda masing-masing. Yang jelas, begitu tulisan ini selesai dibuat - asal Anda tahu - saya lari tunggang langgang meninggalkan penjelasan-penjelasan dangkal dan memalukan ini.

08 June 2005

Memaafkan Itu Menyembuhkan

Kolam kebencian tidak bertepi, mungkin itu sebutan yang cocok untuk tahun 2001. Ada kebencian terhadap Amerika karena menyerang Afghanistan, ada kebencian terhadap Osama karena dituduh menghancurkan gedung WTC New York, ada kebencian terhadap pemerintah karena tidak menunjukkan kinerja yang meyakinkan, ada kebencian terhadap DPR karena tidak habis-habisnya dilanda skandal, ada kebencian terhadap suku atau agama lain karena terlibat perang dan kerusuhan, ada kebencian terhadap pengusaha besar karena dicurigai mencuri uang negara, ada kebencian terhadap oknum aparat yang tidak berhenti-berhenti korupsi, dan masih banyak lagi daftar kebencian lainnya.

Apa yang bisa diproduksi oleh kebencian ? Kita bisa lihat sendiri disamping pengangguran yang berjumlah puluhan juta orang, juga secara amat meyakinkan kita sedang memproduksi masa depan yang amat menakutkan. Tidak hanya pernikahan yang beranak pinak, kebencian bahkan bisa menghasilkan anak, cucu, cicit dengan wajah-wajah yang lebih menakutkan. Lihatlah sejarah, di sana sudah tertulis banyak sekali catatan tentang kebencian yang beranak pinak, dan kemudian menghasilkan kehidupan yang mengerikan.

Mirip dengan sebuah cerita Zen tentang dua orang pendeta yang mau berenang menyeberangi sungai. Tiba-tiba ada wanita cantik yang berteriak di belakang meminta digendong. Dan pendeta lebih tuapun menyanggupinya. Dua jam setelah kejadian itu berlalu, pendeta yang lebih muda bertanya : ‘kenapa abang sebagai pendeta mau menggendong wanita cantik tadi ?’. Dengan sedikit kesal pendeta tua berucap : ‘saya sudah menurunkan tubuh wanita tadi dua jam yang lalu, namun kamu menggendongnya sampai dengan sekarang’.

Demikianlah cara kerja kebencian. Oleh karena sebuah atau beberapa kejadian yang sudah lewat di masa lalu – sebagian bahkan sudah lewat ratusan tahun yang lalu – sebagian orang menggendong kebencian bahkan sampai ketika dipanggil sang kematian. Sehingga praktis seumur hidup orang-orang seperti itu isi waktunya hanya kebencian, kebencian dan hanya kebencian. Anda pasti sudah tahu sendiri akibat yang ditimbulkan oleh semua itu. Jangankan doa dan perjalanan menuju Tuhan, tubuh dan jiwanya sendiri pasti dikunjungi berbagai macam penyakit.

Dalam keadaan begini, tidak ada pilihan lain terkecuali belajar dan mendidik diri untuk melupakan kebencian serta mulai memaafkan orang lain. Ya sekali lagi memaafkan orang lain. Inilah sebuah kegiatan yang amat sulit di zaman ini. Berat, sulit, tidak mungkin, tidak bisa itulah rangkaian stempel yang diberikan kepada seluruh upaya untuk memaafkan orang lain. Saya bahkan menemukan orang-orang dengan beban tidak bisa memaafkan dalam jumlah yang tidak terhitung.

Sehingga ini semua menyisakan pekerjaan rumah yang besar bagi saya (dan mungkin juga Anda), terutama bagaimana berjalan dalam hidup dengan sesedikit mungkin beban kebencian. Di titik ini, mungkin ada manfaatnya mengutip apa yang pernah ditulis Rabindranath Tagore dalam The Heart of God : ‘when the far and the near will kiss each other, and life will be one in love’. Bila yang jauh berciuman dengan yang dekat, maka kehidupan menyatu dalam cinta. Mungkin kedengarannya puitis sekaligus mengundang alis berkerut.

Yang jauh, setidaknya menurut saya, adalah kejadian-kejadian di masa lalu sekaligus harapan-harapan kita akan masa depan. Yang dekat adalah kehidupan kita yang riil dan nyata di hari ini. Dan keduanya tidak mungkin disatukan oleh kebencian. Ia jauh lebih mungkin dijembatani oleh kesediaan untuk memaafkan. Dan dari sinilah lahir bibit-bibit unggul cinta buat sang kehidupan.

Dan bibit-bibit unggul cinta ini, mungkin saja bisa menyembuhkan orang yang dimaafkan. Tetapi yang jelas, kegiatan memaafkan pasti menyembuhkan siapa saja yang mau dan rela memaafkan. Seperti baru saja meletakkan beban berat yang lama tergendong di bahu, demikianlah rasanya ketika kita rela memaafkan orang lain. Keyakinan ini bukannya tanpa bukti, Bernie Siegel dalam karya best seller-nya yang berjudul Love, Medicine and Miracles mengajukan sebuah bukti meyakinkan. Sebagaimana ia tulis secara amat percaya diri di halaman 202 bukunya, Siegel telah mengkoleksi 57 kasus keajaiban kanker. Di mana ke lima puluh tujuh orang ini sudah positif terkena kanker, dan begitu mereka menghentikan secara total dan radikal kebencian, depresinya menurun drastis, dan yang paling penting tumornya mulai menyusut. Sebagai kesimpulan, Siegel menulis : ‘when you give love, you receive it at the same time. And letting go of the past and forgiving everyone and everything sure helps you not to be afraid’. Ketika Anda memberi maaf, Anda juga menerimanya pada saat yang sama. Dan kesediaan untuk melepas masa lalu dengan cara memaafkan, secara meyakinkan membantu Anda keluar dari kekhawatiran.

Dan mohon dicatat kalau kesimpulan ini datang dari Berni Siegel yang nota bene salah seorang ahli bedah di Amerika sana. Kembali ke cerita awal tentang lautan kebencian yang tidak bertepi, bila kita sepakat agar republik ini secepat mungkin mengalami penyembuhan, bisa jadi saran Siegel ini layak direnungkan kembali. Saya dan Anda mungkin bukan penentu di republik ini, tetapi kita bisa memulainya dengan kehidupan kita masing-masing. Entah itu memaafkan isteri, suami, musuh, diri sendiri, atau siapa saja. Seperti telah diingatkan Rabindranath Tagore, bukankah itu bisa membuat sang kehidupan menyatu dalam cinta ?

07 June 2005

Cara Mengatasi Sifat Malu

Apakah rasa malu membuat anda susah mendapatkan teman dan membatasi ruang gerak kehidupan anda? Rasa malu bukanlah sifat jelek atau suatu penyakit yang perlu disembuhkan. Tetapi jika rasa malu menjauhkan anda dari memiliki hubungan pribadi yang menyenangkan, menahan anda dari karir atau membuat tidak bisa melakukan apa yang anda perlu lakukan, barulah anda harus mencari solusinya.

Malu memiliki tingkatan yang beragam. Beberapa orang berada dalam kategori agak pemalu. Keadaan ini dimana anda mungkin memiliki masalah mengatakan hal yang benar atau bersikap semestinya dalam situasi tertentu.

Kemudian mereka yang sangat pemalu. Dalam kasus skenario terburuk mereka dapat mengalami serangan kegelisahan, kelumpuhan fisik atau kesulitan dalam berpikir sosialisasi dan cenderung menjauh dari situasi tersebut.

Apapun kategori malu, beberapa petunjuk berikut dapat membantu anda dari seorang pemalu menjadi lebih terbuka:

  • Susun sebuah daftar

  • Buatlah daftar semua keadaan dimana malu selalu menghantui anda. Ini dapat disusun misalnya pergi ke sebuah pesta dan chatting dengan orang yang tidak anda kenal, memiliki masalah untuk berbicara dengan penjual atau setiap orang dalam acara-acara resmi atau berbicara dengan saudara. Setelah dibuat, susun menurut tingkat kesulitan. Malu berbicara terhadap orang tak dikenal di sebuah pesta mungkin bentuk malu yang wajar, tetapi jika anda memiliki kesulitan berbicara kepada saudara atau orang yang anda kenal, ini mungkin lebih serius.

  • Tentukan beberapa tujuan

  • Agar dapat mengatasi malu, anda harus memmbuat komitmen pribadi untuk mengatasinya. Dengan membuat daftar sebenarnya berarti anda tengah memulai sebuah proses mengatasi masalah tersebut. Ini juga akan lebih memudahkan anda area mana yang anda perlu atasi.

  • Visualisasi keadaan

  • “Visualisasi” adalah proses menciptakan gambaran perilaku mental secara detail yang anda harapkan. Proses ini telah digunakan dengan sukses dalam terafi perilaku kognitif oleh para psikoligis, dan dalam situasi seperti ini dapat digunakan untuk mengatasi malu.

  • Jadilah seorang pecakap yang lebih baik

  • Seni sosialisasi adalah percakapan dan seorang pemalu sering memiliki masalah dengan percakapan. Kegugupan banyak dikaitkan dengan malu akibat kekhawatiran tidak mampu berpikir untuk mengatakan sesuatu.

  • Realistis
    Latihan akan membuat anda lebih mudah sosialisasi. Tentukan tujuan yang realitis bagi diri sendiri apa yang dapat atau tidak dapat anda lakukan. Berikan tantangan diri sendiri tetapi lakukan dalam batas tertentu. Pahami dari mana malu itu berasal, visualisasikan situasi tersebut dan berlatih percakapan, anda akan mampu terlepas dari seorang pemalu menjadi seorang yang mudah sosialisasi.

06 June 2005

Pasangan Anda Pecemburu?

Cemburu dapat didefinisikan ketakutan berpindahnya rasa kasih sayang terhadap orang lain, atau ketidakpercayaan akan kesetiaan orang yang dicintai, seperti suami, istri atau kekasih.

Cemburu terkadang perlu sebagai petunjuk rasa sayang terhadap pasangan tetapi ketika cemburu sudah mulai berlebihan tidak sedikit yang mempengaruhi hubungan. Bagaimana mengatasinya? Berikut petunjuk untuk menghadapi pasangan pecemburu:

  • Alasan pasangan anda cemburu

  • Merasa tidak aman biasanya menjadi alasan utama setiap orang terpengaruh cemburu. Misalnya ketika masa anak-anak, ia merasa terabaikan atau pernah dikhianati mantan kekasihnya sehingga kini sangat posesif terhadap anda. Apapun alasannya, atasi cemburu dengan serius. Hubungan anda mungkin sempurna dalam setiap aspek lain, tetapi cemburu dapat menghancurkannya.

  • Perhatikan tanda-tanda cemburu

  • Pasangan anda mungkin mulai berkomentar yang dapat mengikis kepercayaan diri seperti penampilan fisik atau kemampuan intelektual. Perhatikan apa yang diucapkan atau dilakukan. Jika pasangan cukup tidak merasa aman, ia mungkin mengatakan atau melakukan sesuatu untuk membuat anda merasa dibutuhkan atau menggantungkan padanya.

  • Bagaimana menyikapi cemburu

  • Hal terburuk jika anda bermain dalam api cemburu dan tidak baik pula bersikap defensif atau lari dari masalah karena hal ini dapat memperburuk situasi. Hal terbaik jangan larut dalam situasi, tetap tenang, biarkan pasangan anda sendiri sampai ia berpikiran logis. Segera ketika ia mulai rasional dan tenang, anda menjamin bahwa anda komitmen dan tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan hubungan.

  • Cemburu dapat diatasi

  • Ingat bahwa cemburu itu dapat diatasi. Bantulah pasangan anda membangun kepercayaan dirinya tetapi ingat tidak banyak yang bisa anda lakukan. Realitis dan penngertian itu intinya. Apapun perasaan dia terserah padanya. Jika anda merasa situasi tidak lebih baik, mengapa tidak anda mengambil keputusan untuk pisah.

  • Waktunya berpisah
    Jika perilaku pasangan anda mulai tidak menentu, irasional dan bakan cenderung keras, inilah waktu yang tepat memutuskan hubungan jika hal ini dianggap terbaik untuk melindungi diri anda.

05 June 2005

Cinta Jarak Jauh..!

Anda tidak bisa mengamati perilaku pasangan Anda dalam kehidupan sehari- harinya.
  • Cenderung menyembunyikan kepribadian yang sebenarnya.

  • Anda akan memperlakukannya sebagai "liburan kecil"

Seorang kawan, asal Yogyakarta, Wisnubrata, berusia 28 tahun, cukup ganteng (setidaknya menurut dia sendiri…), sekitar dua tahun lalu diterima bekerja di sebuah perusahaan penerbitan besar nasional di Jakarta. Bekerja di ibu kota bukanlah masalah , yang paling sulit adalah meninggalkan pacarnya, terpisahkan ratusan kilometer jauhnya. Kalau kangen, tingkah konyol-nya muncul, bisa saja ia berteriak-teriak di kantor, berjingkrak-jingkrak, menyanyi lagu-lagu romantis, atau malah bengong..! Setiap akhir bulan ia mengunjungi pacarnya, dan kalau Anda bisa melihat raut wajahnya begitu cerah, itulah saat yang ditunggu-nya. Pada hari-hari biasa, mereka mengobrol lewat telepon. Sudah pasti tagihan teleponnya membengkak sampai ratusan ribu rupiah setiap bulan. Ya, tapi apalah arti uang sebesar itu untuk urusan cinta, begitu kan Wis..?

Apakah hubungan cinta jarak jauh memiliki kesempatan bertahan lama? Bagaimana caranya menjaga hubungan tersebut ketika mereka saling berjauhan satu sama lain? Itulah pertanyaannya!

Menurut para psikolog, hubungan cinta jarak jauh memiliki kesempatan untuk berhasil, asalkan Anda menyadari masalah-masalah yang mungkin timbul dan melakukan antisipasi untuk menghindarinya.

Faktor-faktor yang menjadikan hubungan cinta jarak jauh begitu indah dan mengasyikkan sekaligus berpeluang menjadi faktor destruktif adalah: Sangat mudah bagi Anda terjebak pikiran bahwa hubungan itu jauh lebih baik, karena Anda tidak harus meluangkan waktu bersama-sama dengan kualitas pertemuan yang konsisten.

Dalam Love, Sex and Relationship disebutkan ada tiga masalah utama yang dihadapi oleh pasangan yang membangun hubungan jarak jauh:

Anda tidak bisa mengamati secara langsung bagaimana sebenarnya pasangan Anda dalam kehidupan sehari-harinya.

Anda tahu, jika Anda setelah sekian lama tidak bertemu dan Anda mempunyai waktu luang bersama-sama selama tiga hari dengan pacar Anda, tentu akan menjaga sikap, jaim alias jaga image dan berperilaku sebaik mungkin. Begitu juga pasangan Anda. Dalam hal ini , tidak terlalu sulit menyembunyikan bagian-bagian kepribadian Anda selama 3 hari (72 jam) dan kemudian berpisah dengan perasaan sangat bahagia.

Tapi Anda tidak akan pernah mengerti dan memahami pribadi Anda dan pasangan satu sama lain , karena Anda tidak bisa menyaksikan secara langsung bagaimana sikap pasangan Anda ketika menghadapi tekanan, ketika mengalami krisis, ketika dia sakit, marah, ketakutan ( atau ketika melihat seseorang yang lebih menarik...). Semua situasi ini diperlukan untuk mengungkapkan karakter seseorang yang sebenarnya. Suatu bagian penting dalam hubungan untuk menentukan kecocokan.

Anda berusaha menghindari aspek-aspek bermasalah dalam hubungan Anda.

Bayangkan selama satu atau dua bulan penuh, (ada yang lebih lama lagi..), Anda belum sekali pun bertemu dengan pacar Anda, tiba-tiba ia datang dan menghabiskan akhir pekannya bersama Anda. Ketika bertemu, bisa jadi ia mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaan. Sekarang Anda harus mengambil keputusan: Apakah Anda akan melakukan konfrontasi langsung dan membuat akhir pekan Anda berantakan? Atau Anda akan melupakan begitu saja dan melanjutkan akhir pekan yang indah?

Kebanyakan orang akan memilih yang kedua, untuk menghindari konfrontasi, takut ketika mereka sedang sengit-sengitnya berdebat dan merasa sakit hati, maka setengah dari akhir pekan Anda itu telah berakhir.

Masalah yang timbul dari kebiasaan ini adalah: Anda dan pasangan Anda tidak pernah belajar bagaimana menyelesaikan setiap masalah secara bersama-sama atau meningkatkan hubungan dalam tingkat komunikasi dan harmoni yang lebih serius. Kekecewaan –kekecewaan yang tidak terungkapkan masih tersimpan di dalam hati Anda seperti bom waktu emosional, menunggu saat yang tepat untuk meledak.

Mungkin kelihatannya sepintas Anda berhasil membangun suatu hubungan yang sangat indah dan romantis, tapi Anda tidak mengijinkan hubungan itu meningkat lebih dalam menuju tahap transisi yang harus dialami oleh setiap hubungan cinta yang sehat.

Anda memiliki pandangan yang tidak realistik tentang kecocokan Anda berdua.

Para pasangan hubungan jarak jauh seringkali bahkan tidak menyadari bahwa mereka tidak banyak memiliki persamaan atau kecocokan karena mereka terlalu sibuk menyenangkan diri mereka sendiri.

Jika Anda hanya memiliki tiga hari bersama pasangan, Anda akan memperlakukannya sebagai liburan kecil –Anda akan menghabiskan waktu bersama-sama setiap waktu. Mengisinya dengan makan di luar, nonton bioskop (atau bercinta sesering mungkin...). Ini akan memberikan gambaran yang tidak realistik tentang hubungan Anda. Anda mungkin menikmati keindahan dan kesenangan selama akhir pekan itu. Demikian juga pada kunjungan-kunjungan berikutnya. Akibatnya, tidak sedikit pasangan yang semula membina hubungan jarak jauh, pada akhirnya harus kecewa setelah mereka pindah ke kota yang sama atau memutuskan untuk hidup bersama.

"Rasanya tidak seperti biasanya," begitulah yang sering mereka keluhkan. Tentu saja, itu bukanlah pesta 3x24 jam lagi. Ini adalah hubungan yang sesungguhnya dan jika Anda dan pasangan Anda benar-benar tidak cocok, Anda akan segera mengetahui dan merasakannya.

Menghindari masalah yang mungkin timbul…


Untuk mereka yang terlibat dalam hubungan jarak jauh, agar memiliki hubungan yang sehat dan abadi, penasihat masalah seks, dan hubungan antar manusia, Barbara De Angelis yang berpraktik di Los Angeles, menyarankan kedua pasangan harus mencoba hidup di tempat yang sama dalam jangka waktu cukup lama.

"Inilah satu-satunya cara dimana Anda bisa mengetahui apakah apakah Anda berdua cocok satu sama lain atau tidak dan mengembangkan tingkat keintimanyag diperlukan untuk mempertahankan cinta Anda, " kata Barbara De Angelis.

Tapi, sementara Anda masih berpisah, satu-satunya kesempatan yang dimiliki oleh pasangan jarak jauh agar mampu memperlakukan hubungan itu sebagai kisah cinta selamanya, dengan memperhatikan tiga hal pokok:

  • Jangan mencoba membuat setiap momen bersama sebagai saat–saat yang spesial, tapi lakukanlah hal-hal yang normal bersama-sama.

  • Tampilkan diri Anda yang sebenarnya. Jangan mencoba menyembunyikan bagian-bagian kepribadian Anda yang negatif.

  • Jangan menyeleksi perasaan Anda. Tapi berilah kesempatan diri Anda untuk berkomunikasi secara jujur dan segera hadapi setiap masalah ketika masalah-masalah itu muncul untuk pertama kalinya.


Menurut para psikolog, hubungan cinta jarak jauh memiliki kesempatan untuk berhasil, asalkan Anda menyadari masalah-masalah yang mungkin timbul dan melakukan antisipasi untuk menghindarinya.