16 April 2005

Integritas Pemimpin

Pernahkah terfikir oleh anda bahwa anda telah memiliki integritas yang tinggi? Atau setidaknya seberapakah ukuran integritas anda? Hal ini terasa sangat umum sekali, sering terdengar kata “integritas”, bahkan mungkin kita merasa memiliki kata itu. Intergritas tak lebih dari pembuktian diri, secara umum menjelaskan bahwa apa yang saya katakan sama dengan yang saya kerjakan. Tapi berkembang lebih dari itu, integritas merupakan komitmen diri yang datang dari pikiran, dipadu dengan hati dan dilakukan dengan perbuatan. Terdapat sinkronisasi antara ketiga komponen tersebut, sehingga saling terhubung dan memberikan makna yang jelas.

Dari kecil tentu saja kita belum mengenal dan mengerti mengenai integritas, tapi tanpa sadar kita banyak melakukan sepanjang mengacu pada kebenaran dan kejujuran. Kebenaran akan bersifat langgeng, kejujuran tidak dapat diputar-balikkan. Saat anak kecil berkata bahwa Dia akan tidak nakal, Dia akan berusaha menjadi anak manis yang menurut. Dia ingin konsisten dengan apa yang diucapkan pada Ibunya sampai akhirnya dia menangis karena minta dibelikan permen yang menggoda pandangan matanya di etalase. Tentu kita tidak bisa menyebutkan bahwa anak ini tidak memiliki integritas, hal ini bisa dijelaskan dengan satu alasan : Integritas bisa dimiliki oleh siapa saja yang mampu berpikir, beranalisa, berkesadaran penuh dan memiliki kejujuran.

Saat kita menjadi mahasiswa, apakah benar-benar merasa sebagai orang dewasa? Tentu saja anda merasa demikian. Tingkat kedewasaan bisa terukur dari bagaimana dapat menjaga komitmen, bagaimana dapat berprilaku santun, bagaimana dapat mengatur waktu pribadinya, bagaimana dapat mempertanggungjawabkan studinya pada orang yang membiayai dan seterusnya. Bagaimana Dia mempunyai integritas? Sedikit mencontek, sedikit bermain, sedikit membolos, terasa seperti menjadi hak kita sebagai orang dewasa yang mampu berpikir lebih.Tapi tanpa kita sadari, itu merupakan penurunan integritas anda. Hanya beberapa orang yang menjadi pimpinan puncak organisasi kampus berusaha menjadi orang yang berintegritas. Integritas akan terasa untuk hal-hal yang berhubungan dengan organisasi karena adanya inter personal relation yang harus dijaga. Belum tentu apa yang dilakukan mahasiswa dalam berdemonstrasi merupakan perwujudan dari integritas terhadap bangsa ini, bisa terbukti jika kita mengetahui apa yang ada di pikiran dan hati mereka. Apa yang akan mereka kerjakan setelah lulus, apa cita-cita mereka, atau apa sebenarnya visi mereka...

Saat anda memasuki dunia profesional, entah sebagai psikolog, wirausahawan, atau pegawai perusahaan dimana anda menjadi pimpinan atau sebagai pejabat pegawai negeri, Istilah integritas akan sangat jelas makna, arti dan perbedaannya. Untuk mencapai tujuan suatu organisasi diperlukan sumber daya manusia yang handal agar dapat mengelola komponen, manusia dan organisasi menjadi proses yang efektif. Visi dan tujuan organisasi telah jelas, diperlukan sumber daya yang ber-integritas tinggi untuk mengelolanya. Organisasi adalah kendaraan, SDM adalah supirnya. Membangun SDM yang handal diperlukan Integritas para pimpinan kerjanya. Tentu integritas adalah suatu prilaku, suatu habits yang dibentuk dan dilatih. Pertama akan terasa seperti pengorbanan, selanjutnya akan terasa sebagai jalan hidup dan kehormatan anda. Integritas adalah apa yang anda lakukan dan anda berikan. Orang tidak akan bisa mengukur integritas anda, tetapi mereka akan dapat memberikan penilaian yang berakibat pada “reputasi” anda. Jika anda mempunyai komitmen terhadap waktu kerja, dan hal ini ditekankan pada seluruh jajaran dan bawahan anda, tentu anda tidak akan mencoba untuk terlambat bukan? Kalau ya, anda tidak mempunyai sikap keteladanan, atau anda tidak berintegritas, atau reputasi anda akan jelek dimata anak buah anda. Sebagai pemimpin, sikap ini harus senantiasa dijaga. Kepemimpinan anda dipertaruhkan dengan sebuah integritas...

15 April 2005

Jangan Takut Sakit Jiwa

Kesadaran masyarakat kita dalam masalah kesehatan jiwa sangat rendah. Meskipun saya pribadi belum mengadakan penelitian resmi, tapi dapat kita lihat bersama dari perbandingan jumlah anggota masyarakat yang pergi ke dokter,klinik medis, maupun rumah sakit ketika mereka mengalami gangguan kesehatan fisik dengan anggota masyarakat yang secara "sukarela" pergi ke Psikolog, Psikiater, atau mengikuti konseling. Hal ini bisa diakibatkan oleh paradigma yang keliru di masyarakat kita yang memandang sempit gangguan kejiwaan dengan sebuah kegilaan (schizophrenia). Orang yang pergi ke psikolog maupun ke psikiater dianggap "gila". Sehingga amat banyak orang yang enggan berkonsultasi ketika mereka mengalami gangguan kejiwaan ringan karena takut mendapat cap "gila".

Pendidikan kejiwaan juga amat jarang diberikan pada anggota masyarakat kita. Padahal menurut hemat saya, pendidikan kejiwaan seharusnya diberikan secara sesuai dengan perkembangan usia manusia. Sebagai gambaran, sejak kecil kita selalu dipantau perkembangan kesehatan fisik (medis) kita melalui posyandu, imunisasi, ragam penyakit beserta obatnya, serta berbagai aspek terkatit. Tapi sangat jarang kita mendapatkan informasi mengenai kesehatan jiwa sejak dini. Seolah olah informasi tersebut hanya milik "orang orang kejiwaan" dan kita hanya mendapatkannya jika kita mencarinya di rubrik tanya jawab psikologi dan artikel-artikel di tabloid.

Kurangnya sosialisasi informasi psikologi juga dirasakan pada lemahnya peran lembaga Bimbingan Konseling yang ada di sekolah sekolah. Padahal lembaga tersebut sudah hadir pada jenjang sekolah lanjutan tingkat pertama. Tapi kalau kita tanya pada para siswa seberapa sering mereka masuk ruang BK dan bagaimana pendapat mereka tentang BK, umumnya kita akan mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan karena kurangnya pemahaman mereka tentang fungsi BK itu sesungguhnya. Sehingga BK mendapat stigma sebagai lembaga untuk mengurusi "anak-anak bermasalah".

Seharusnya kita mulai menyadari bahwa gangguan kejiwaan adalah sebuah gejala manusiawi yang alami sehingga kita memperoleh informasi sejak dini sehingga perkembangan kesehatan jiwa kita selalu terpantau dan terjaga. Jangan tunggu sampai masalah muncul baru kita cari solusinya. "Mencegah lebih baik dari mengobati". So... jangan takut sakit jiwa, karena sudah banyak orang yang paham dan bisa membantu kita.

14 April 2005

Ditanggung Tidak Luntur, Luntur Tidak Ditanggung

Alkisah ada seorang pedagang kain di sebuah pasar dekat pemukiman para jamaah haji di Mekkah. Sudah menjadi kewajiban tak tertulis bagi pedagang di sana, untuk bisa berbahasa Indonesia karena sebagian besar jamaah memang berasal dari Indonesia. Apalagi jamaah asal Indonesia memang dikenal suka berbelanja.

Satu saat ada seorang jamaah asal Indonesia yang membeli kain dari seorang pedagang yang mempromosikan barang dagangannya melalui spanduk bertuliskan “DITANGGUNG TIDAK LUNTUR”. Dua hari kemudian si jamaah mendatangi si pedagang sambil memasang raut muka marah dan berkata, “Brengsek! Kamu bilang ditanggung tidak luntur, tapi kain yang saya beli ini luntur. Saya minta uang saya dikembalikan.” Dengan santai si pedagang melayani sang jamaah yang sedang marah dan berkata, “Maaf Wan, Anda yang keliru. Ingat, ini di Arab dan Bahasa Arab dibaca dari kanan ke kiri. Jadi, spanduk itu seharusnya dibaca: luntur tidak ditanggung.”

*********

Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi duka karena ilustrasi di atas itu banyak juga terjadi di lingkungan pendidikan kita. Entah dimulai darimana tapi sekarang (sepertinya) sudah tidak ada lagi lembaga pendidikan yang benar-benar jujur dan transparan. Jujur dalam artian mengungkap kebenaran, transparan dalam artian menjelaskan segalanya di depan dan bukannya bersembunyi sambil berharap ada yang terjerumus dalam kesalahan persepsi.

Kurang jelas? Baik, saya coba tampilkan satu contoh kasus yang banyak sekali terjadi. Hampir semua sekolah punya aturan main bahwa guru tidak boleh memberikan les (private course) kepada murid yang bersekolah di sekolah tempat si guru bekerja. Prakteknya, lebih dari separo guru mata pelajaran yang berpeluang memberikan les, juga memberikan les pada muridnya sendiri. Minimal, dibentuk jaringan antar guru untuk melakukan program pertukaran murid les. Artinya, guru di sekolah A memberikan les pada murid dari sekolah B dan guru di sekolah B memberikan les pada murid dari sekolah A. lebih parah lagi, tidak sedikit kepala sekolah yang ikut terlibat dalam persekongkolan ini.

Sebenarnya, saya tidak terlalu mempermasalahkan peristiwa itu atas dasar pertimbangan tuntutan kehidupan dan memang kondisi itu sudah terjadi sejak berpuluh tahun silam. Bahwa profesi guru masih merupakan salah satu profesi yang kurang mendapatkan penghargaan finansial, saya juga sangat bisa mengerti tapi bukankah kondisi ini juga sudah dialami sejak berpuluh tahun lalu? Jadi, semua guru sudah tahu bahwa jadi guru berarti mendapat gaji kecil. Persoalannya, banyak kasus pelanggaran aturan main itu menjadi pelanggaran hak asasi dan kebenaran universal. Maksud saya, ada guru-guru yang terlibat dalam kasus seperti di atas yang kemudian memaksakan kehendak. Caranya, murid yang tidak mau ikut les kemudian dipersulit, ditekan dan dijatuhkan dalam hal penilaian akademiknya. Ketika ini terjadi, guru sudah melanggar hak murid untuk memilih ikut atau tidak. Guru melanggar kebenaran universal karena melakukan hal yang diketahui tidak benar.

Sama seperti si pedagang kain. Demi tidak melanggar kebenaran universal, seharusnya ia menuliskan spanduk itu dalam Bahasa Arab atau ditulis “luntur tidak ditanggung” dalam Bahasa Indonesia. Tapi, ia justru memanipulasi persepsi dengan menulis “ditanggung tidak luntur” dalam Bahasa Indonesia dan kemudian mengatakan seharusnya itu dibaca dari kanan ke kiri karena berada di Arab.

*********

Setiap kali saya diskusi soal ini dengan teman-teman, baik mereka yang berprofesi sebagai guru maupun yang berprofesi lain, seringkali mereka mengatakan bahwa saya terlalu ideal sehingga akhirnya saya sendiri yang berbenturan dengan lingkungan. Bahwa sekarang ini sudah tidak jamannya lagi bicara ideal karena hidup ini soal realita keseharian.

Seperti saya katakan di atas, sebenarnya saya tidak terlalu mempermasalahkan realita vs idealisme. Dari sudut pandang keseharian hidup, memang kita butuh uang karena sampai hari ini hanya uang yang punya nilai tukar resmi dan menyeluruh. Persoalannya, saya pikir, yang kita bicarakan adalah pendidikan. Oleh karenanya mari kita tempatkan diri kita dalam sudut pandang pendidikan. Bila dikatakan kita menghadapi realita dan tidak bisa bicara ideal, lalu untuk apa kita bicara pendidikan?

Bicara pendidikan berarti bicara ideal karena tujuan pendidikan adalah transformasi nilai. Bila nilai yang ditransfer sudah tidak benar, bagaimana mungkin bisa menghasilkan output yang benar? Lalu, bagaimana kita mempertanggung jawabkan proses pendidikan yang kita lakukan? Bila tidak ingin bicara ideal, jangan bicara pendidikan dan mari kita bicara HANYA pengajaran. Jangan lagi menyebut sekolah sebagai lembaga pendidikan dan sebut saja lembaga pengajaran. Karena tanpa transformasi nilai, sekolah hanya jadi tempat untuk menguasai iptek. Resikonya, iptek selalu bersifat netral sehingga selalu dapat digunakan untuk kepentingan baik dan juga untuk kepentingan tidak baik, tergantung siapa yang menggunakannya dan apa tujuannya.

Teman-teman guru…
Sejak di ruang kelas di lembaga penyelenggara pendidikan guru, kita selalu mendengarkan dan mendiskusikan idealisme pendidikan. Bahwa pendidikan seharusnya begini dan begitu. Namun kemudian, ketika kita lepas dari kawah candradimuka pendidikan, kita mendapati apa yang kita pelajari tidak bisa dilakukan di lapangan karena alasan realita.

Benarkah demikian? Yakinkah anda bahwa hambatan yang ditemui di lapangan bukan terjadi karena kesalahan kita, para pelaku dibidang pendidikan? Coba cermati pertanyaan berikut: Apa yang membuat anda memutuskan belajar di pendidikan guru? Apa yang membuat anda memutuskan untuk menggeluti profesi guru? Apa yang membuat anda memutuskan menekuni bidang ilmu yang anda “kuasai” sekarang? Apakah ada unsur paksaan dalam proses pembuatan keputusan itu? Apa yang anda harapkan dengan menjadi guru? Sekolah macam apa yang anda inginkan menjadi tempat anda berkarya?

Banyak pendapat yang saya terima dari teman-teman guru tentang hal ini. Secara umum mereka mengatakan setuju bahwa banyak orang yang memutuskan menjadi guru demi meningkatkan status sosial. Beberapa alasan lain yang juga diamini oleh teman-teman guru diantaranya adalah agar bisa memberikan les demi mendapat tambahan uang, karena merasa tidak mampu bersaing dibidang lain, karena tidak lolos seleksi dibidang lain, karena tuntutan kerja yang ringan dan jam kerja yang pendek.

Intinya, masih terlalu banyak dari kita yang memutuskan menjadi guru bukan karena ingin jadi guru, bukan karena ingin berkiprah di dunia pendidikan demi pendidikan itu sendiri tapi demi realita hidup yang dirasakan semakin menghimpit. Demi gengsi agar terhindar dari sebutan “orang miskin”. Demi usaha bertahan hidup di tengah tren gaya hidup masyarakat yang tidak memungkinkan kita mengikuti, apalagi terlibat di dalamnya.

Bapak/ Ibu orangtua murid…
Maaf, tapi saya juga banyak mendapati bahwa teguran/ protes orangtua terhadap sekolah seringkali hanya terbatas pada omongan. Seringkali orangtua juga merasa tidak kuasa apa-apa ketika berhadapan dengan sekolah. Mengapa? Sekolah tidak hanya ada satu. Sekolah A tidak lebih baik dari sekolah B secara mutlak. Bahkan, kualitas sebuah sekolah justru ditentukan oleh seberapa ingin anak-anak di sekolah itu menghasilkan output yang tinggi. Seberapa anak-anak itu merasa nyaman dengan lingkungan sekolahnya.


Tak ada satupun orang yang bisa membantu kita belajar selama kita sendiri tidak ingin belajar. Jadi, seharusnya orangtua bisa berperan sebagai pengawas proses pendidikan yang berlangsung di sebuah sekolah. Seharusnya orangtua selaku konsumen dari sekolah penyedia jasa pendidikan, berhak mendapatkan layanan terbaik dari sekolah. Sayang masih banyak orangtua yang juga kurang peduli pada pendidikan itu sendiri. Akhirnya, selalu saja murid yang seharusnya jadi subjek pendidikan, dikalahkan demi hal lain yang tidak berkait dengan pendidikan bahkan bertentangan.

Masih banyak orangtua yang juga terjerembab dalam perangkap tren, termasuk juga tren pendidikan. Coba saja kita cermati, apa alasan anda terkadang ngotot menyekolahkan anak di sekolah tertentu? Apa yang jadi kriteria anda dalam membandingkan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya? Apa yang anda harapkan dari anak dengan bersekolah di sekolah itu? Bagaimana anda bisa yakin bahwa apa yang anda mau itu bisa anda dapatkan? Bagaimana anda bisa yakin bahwa anak anda akan betul-betul menjadi seperti apa yang anda inginkan, dengan bersekolah di sekolah itu?

Apa yang kita inginkan tidak selalu sejalan dengan apa yang ingin kita lakukan. Apa yang kita inginkan dari orang lain juga tidak secara otomatis bisa kita dapatkan hanya dengan membuat orang itu melakukan apa yang kita inginkan darinya. Jadi, tolong sadari bahwa apapun yang kita inginkan dari anak kita, tidak akan bisa kita dapat bila si anak tidak menginginkan hal yang sama. Bila si anak tidak mampu melakukan seperti yang kita ingin itu.

Oleh karenanya, kembali pada makna judul tulisan ini, ayo kita galakkan sikap jujur dan transparan. Ayo kita galakkan perilaku menjunjung tinggi kebenaran universal. Jangan lagi kita minta orang lain melakukan sesuatu tanpa mendiskusikan kesanggupannya. Mari kita kembali pada kaidah inti dari pendidikan yang merupakan sebuah proses, bukan satu perbuatan sekejap.

Untuk teman-teman guru, mari kita kerjakan profesi keguruan kita secara benar karena kita yang memilih profesi itu. mari kita belajar bahwa setiap keputusan selalu diikuti konsekuesi yang HARUS kita hadapi. Untuk para orangtua, mari kita sediakan lebih banyak energi untuk membantu proses pendidikan di sekolah demi kelangsungan proses tumbuh-kembang anak karena andalah pihak yang paling berkepentingan dengan diri dan hidup si anak.

Untuk teman-teman guru dan para orangtua…
Mari selesaikan dulu masa kanak-kanak kita, sebelum memutuskan terlibat dalam masa dewasa dan segala peranan selaku orang dewasa/ orangtua. Jangan biarkan masa kanak-kanak kita menghantui dan bersaing dengan anak-anak kita. Bagaimana mungkin kita bisa membantu, mendampingi anak untuk menjadi baik selama kita sendiri belum bisa jadi baik. Bagaimana mungkin kita melarang anak begini dan begitu selama kita sendiri masih juga melakukannya. Jangan pernah katakan ”kamu masih kecil jadi belum boleh, bapak/ ibu sudah besar jadi boleh”, karena itu hanya akan membuat anak meyakini bahwa ia harus segera jadi dewasa agar bisa melakukan hal itu.

13 April 2005

Bergerak

“Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan).”

Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru Saya, “ChaNge”. Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng Saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, Saya tawarkan uang itu. “Silahkan, siapa yang mau boleh ambil,” ujar Saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.

Seperti yang Saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat Saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya. Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan Saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun.

Saya ulangi pesan Saya, “Silahkan ambil, silahkan ambil.” Ia menatap wajah Saya, dan Saya pun menatapnya dengan wajah lucu. Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat Saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan Saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak. Seseorang lalu berteriak, “Kembalikan, kembalikan!” Saya mengatakan, “Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya.”

Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000. Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak. Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan? Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:

“Saya pikir Bapak cuma main-main ............”
“Nanti uangnya toh diambil lagi.”
“Malu-maluin aja.”
“Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!”
“Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu .....”
“Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya....”
“Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas.....”
“Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang.........”
“Saya, kan duduk jauh di belakang...”
dan seterusnya.

Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan), tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja. Kita tidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah. Saya jadi ingat dengan ucapan seorang teman yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di daerah Parung. Ia tampak begitu senang saat Saya dan keluarga membesuknya. Sedih melihat seorang sarjana yang punya masa depan baik terkerangkeng dalam jeruji rumah sakit bersama orang-orang tidak waras. Saya sampai tidak percaya ia berada di situ. Dibandingkan teman-temannya, ia adalah pasien yang paling waras. Ia bisa menilai ”gila” nya orang di sana satu persatu dan berbicara waras dengan Saya. Cuma, matanya memang tampak agak merah. Waktu Saya tanya apakah ia merasa sama dengan mereka, ia pun protes. ”Gila aja....ini kan gara-gara saudara-saudara Saya tidak mau mengurus Saya. Saya ini tidak gila. Mereka itu semua sakit.....”. Lantas, apa yang kamu maksud ’sakit’?”

”Orang ’sakit’ (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu, sedangkan Saya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang selalu mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari.....,” katanya penuh semangat.” Saya pun mengangguk-angguk.

Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama. Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana. Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari, Jadi omong kosong perubahan akan datang. Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.

Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah, tapi tak banyak yang berani bergerak. Tetapi sekali bergerak, perubahan seperti menjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak terkendali bisa menghancurkan misi perubahan itu sendiri, yaitu perubahan yang menjadikan hidup lebih baik. Perubahan akan gagal kalau pemimpin-pemimpinnya hanya berwacana saja. Wacana yang kosong akan destruktif.

Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif, bergerak, memulai, dan seterusnya. Get Started. Get into the game. Get into the playing field, Now. Just do it!. Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja. Makanya tranformasi harus bersifat kultural, tidak cukup sekedar struktural. Ia harus bisa menyentuh manusia, yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju. Manusia pemenang adalah manusia yang responsif. Seperti kata Jack Canfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah “Winners take action…they simply get up and do what has to be done…”. Selamat bergerak!

12 April 2005

Yang Tabu Buat Sahabat

Bayangkan kalau di jalan raya itu nggak ada rambu lalu lintas, nggak ada marka jalan, trotoar atau zebra cross, pasti tiap detik ada aja kecelakaan yang terjadi. Bayangkan pula kalau sekolah itu nggak punya peraturan atau tata tertib, pasti kegiatan belajar mengajar nggak akan berjalan efektif. Ya, apapun di dunia ini, pasti punya rambu, punya kode etik, aturan dan sejenisnya, termasuk persahatan di dalamnya. Sebab kalau persahabatan itu nggak punya kode etik, berapa banyak manusia yang kecewa dan sakit hati akibat ulah sahabatnya sendiri. Nah, supaya hal tersebut nggak, kita mesti tau aturan-aturan tersebut. Dan dalam sebuah peraturan pasti dong ada sejumlah tabu di dalamnya. So, inilah yang mesti kamu pahami. Hal-hal tabu atau terlarang yang kudu dijauhi agar persahatanmu itu bisa langgeng ‘n berjalan mulus, tanpa kerikil-keriki atau batu sandungan yang bakal membuat kamu terjungkal. Dan semua itu terangkum dalam poin-poin berikut.

Mencampuri urusan pribadinya
Siapapun bakal jengkel kalau urusan pribadinya diusik orang lain, sekalipun sahabatnya sendiri. Ada baiknya sebelum kamu menjalin persahabatan satu sama lain harus punya komitmen untuk tetap memberi ruang bagi privasi masing-masing. Sebab bagaimanapun ada hal-hal tertentu yang nggak boleh diketahui orang lain. Terlebih kalau ternyata sahabatmu itu tipe seorang introvert alias tertutup. Kamu kudu menghargai sikapnya itu. Jangan sampai sia terusik dengan kehadiran kamu yang selalu ingin tau. Karena bagaimanapun kamu tetaplah orang asing di luar dirinya sendiri. Jangan terus berburu ‘n mencari tau. Lain hal kalau kamu detektif atau kurang kerjaan.

Lupa hari istimewanya
Jangan sampai kamu lupa sama hari-hari istimewa orang-orang terdekat kamu. Yang pertama tentu saja hari ultahnya, lalu saat doi lulus ujian, wisuda atau even-even penting lainnya. Usahakan untuk selalu memenuhi undangannya, hadir dipestanya atau paling tidak sekedar menyampaikan ucapan selamat lewat telepon misalnya. Pokoknya gimanapun caranya, tunjukkan perhatian kamu, dengan begitu kamu peduli. Kalau itu nggak kamu lakukan, ya percuma dong jadi seorang sahabat.

Ngebocorin rahasianya
Satu hal yang paling sulit dilakukan adalah menjaga mulut sekalipun sudah janji nggak bakal ngomong ke orang lain. Memang bukan hal yang mudah untuk tetap mingkem ketika semua rahasia si sobat udah kamu ketahui. Bawaannya pengen cerita ke orang-orang, sesumbar gitu. Nah, dalam hal ini kamu kudu ekstra jaga mulut, sebab ini soal kepercayaan, man. Kalau ada orang yang mau menumpahkan segala unek-uneknya ke kamu, berarti dia menganggap kamu orang yang layak dipercaya. Tapi kalau setelah itu kamu sesumbar, apa bedanya sama ember pecah, dan siapa juga yang sudi main bareng sama barang rongsokan.

Ngelabain pacarnya
Kamu tau kan istilah pagar makan tanaman. Inilah dosa terbesar dalam persahabatan. Memang semua orang punya hak yang sama untuk mencintai dan dicintai, tapi cinta itu juga ada etikanya. Jangan seenaknya, ngerampas milik orang lain apalagi yang notabenenya sobatmu sendiri. Sebab tak ada sakit yang paling nyelekit bilamana luka itu digoreskan oleh orang-orang terdekat kita, salah satunya sahabat. Memang nggak sedikit kasus pagar makan tanaman ini, tapi kamu nggak harus termasuk dalam kategori ini, kan?

11 April 2005

Misteri Terbesar di Bumi

Kalau kita bicara misteri, pasti deh yang muncul dibenak kita adalah mahluk-mahluk aneh dari alam gaib. Entah itu kuntilanak, tuyul, babi ngepet, atau bahkan kolor ijo. Begitu, deh, kata misteri memang identik banget sama mahluk-mahluk tersebut. Padahal kita sendiri belum sepenuhnya yakin kalau mereka itu benar-benar ada. Sebab kebanyakan psikolog menganggap

Kuntilanak Cs bukan produk dari alam gaib, melainkan produk imajinasi kita sendiri! So, belum jelas benar apakah mereka benar-benar ada atau hanya diada-ada saja.

Yo’i, kita emang sering banget mengada-ada. Barangkali kita kelewat sering bermain dengan imajinasi sehingga kita nggak bisa lagi membedakan mana yang benar-benar ada dan mana yang diada-ada. Barangkali begitu, barangkali juga bukan. Atau barangkali situ punya pendapat lain?

Nah, misteri yang berikut ini bukan produk yang diada-ada, melainkan benar-benar ada. Bahkan kamu sendiri bisa membuktikannya. Sebab misteri itu ada di dalam diri kamu sendiri! Yup, seperti kata orang bijak, kalau misteri terbesar di bumi ini pastilah misteri itu bernama manusia. So, sadar atau nggak, kamu, ya kamu, adalah bagian terbesar dari misteri itu. Sayangnya kita seringkali nggak sadar, bahwa dibalik fisik ini ada sebuah misteri besar yang hingga kini belum tersentuh jari-jari para pakar. Misteri itu bernama hati!

Hati, dimata biologi, barangkali hanya sebagai organ. Seperti juga tangan, kaki, atau bahkan alat kelamin. Yap, mereka menganggap hati nggak lebih dari sepotong organ. Lain hal dengan para psikolog. Dimata mereka, hati bukan sekedar potongan tubuh. Ada sesuatu di dalamnya yang hingga kini belum terjamah. Sesuatu yang membuat banyak orang sepakat ilmu tentang hati (termasuk di dalamnya psikologi dan filsafat) bukanlah sesuatu yang pasti, melainkan hanya bersifat spekulatif. Dengan kata lain, kalau misteri terbesar di bumi ini adalah manusia, maka misteri terbesar dari manusia adalah hati. Kalau otak memiliki logika, maka hati memiliki naluri. Hebatnya lagi, ada orang bijak yang berkata kalau hati memiliki logikanya sendiri. Persis seperti kata Khalil Gibran, “Follow your heart. Because your heart is the right guide in everything big. Mind is so limited…”

Nah, lho! Berarti di dalam hati ada otak atau sejenisnya, dong? Lalu bagaimana dengan naluri, nurani, hasrat, atau cinta? Itulah misterinya. Misteri sebuah hati, yang hingga kini masih lestari. So, nggak heran jika orang besar lain pernah berkata, “Orang bijak bukanlah mereka yang mengerti segala hal, melainkan mereka yang mengerti dan memahami dirinya sendiri.”

Misteri hati menjadi lebih rumit lagi kalau kita masuk ke wilayah insting. Paranormal menyebutnya ‘mata hati’ atau indra keenam. Dengan latihan tertentu, begitu kata paranormal, hati bisa dilatih hingga pada titik tertentu ia menjadi peka pada hal-hal yang sifatnya gaib. Latihan ini biasa disebut olah batin alias kebatinan. Kalau tertarik, situ bisa mencobanya. Tapi, sayangnya, banyak ahli kebatinan hanya memahami misteri misteri dunia gaib tanpa mereka memahami misteri hati mereka sendiri. Yup, antara paranormal, ahli biologi, psikolog, atau bahkan para filsuf memang punya pendapat yang berbeda tentang hati. Wajar saja, sebab hati seperti gurun pasir yang maha luas. Para ahli, paranormal, dan filsuf, masing-masing hanya mengambil segenggam debu dari hamparan gurun yang luas itu. Masing-masing dari mereka barangkali mewakilkan kebenaran tentang hati, meski kebenaran itu hanya sepotong-sepotong. Sebab misteri hati memang mirip puzzle besar yang sebagian puzzlenya masih belum ditemukan sehingga gambaran kita tentang hati pun hanya sepenggal.

10 April 2005

Bahasa Cinta

Bahasa cinta kedengarannya begitu indah. Setiap orang pasti punya bahasa cinta buat mengungkapkan isi hatinya. So ada lima bahasa cinta yang bisa digunakan untuk mempererat tali kasih.

Pertama, Service alias pelayanan. Bentuk pelayanan yang dimaksud, tentunya yang positif buat kamu dan pasangan kamu. Misalkan menemani bepergian saat dibutuhkan, menemani diskusi sampe ngambilin makan dan minum juga termasuk pelayanan yang eksklusif.

Kedua, Sentuhan fisik. Siapapun manusia pasti butuh disentuh. Karena ini salah satu penunjang semangat. Sentuhan positif yang bisa kamu berikan pada pasangan kamu adalah dengan memeluk atau belaian kasih yang tujuannya untuk mensupport diri.

Ketiga, Ciptakan waktu mengesankan. Kesibukan yang tak ada henti, ada baiknya break dulu. Dengan menyempatkan diri menciptakan hari-hari yang menyenangkan. Misalkan jalan-jalan bareng ke pantai atau kegiatan masak-masak bareng yang nggak pernah kamu lakuin. Jadinya kan malah bikin berkesan.

Keempat, Hadiah. Bahasa cinta bisa pula diwujudkan dengan hadiah. Tapi tentunya hadiah yang berharga buat dia. Tak perlu menunggu hari istimewa. Kapan pun, dimana pun bisa.

Kelima, Kata-kata manis. Kedengarannya terlalu puitis. Tapi ini perlu dilakukan untuk membuat hubungan menjadi berseni. Bentuk pujian pada prestasi pasangan kamu juga bisa disampaikan buat menghidupkan suasana.