Alkisah ada seorang pedagang kain di sebuah pasar dekat pemukiman para jamaah haji di Mekkah. Sudah menjadi kewajiban tak tertulis bagi pedagang di sana, untuk bisa berbahasa Indonesia karena sebagian besar jamaah memang berasal dari Indonesia. Apalagi jamaah asal Indonesia memang dikenal suka berbelanja.
Satu saat ada seorang jamaah asal Indonesia yang membeli kain dari seorang pedagang yang mempromosikan barang dagangannya melalui spanduk bertuliskan “DITANGGUNG TIDAK LUNTUR”. Dua hari kemudian si jamaah mendatangi si pedagang sambil memasang raut muka marah dan berkata, “Brengsek! Kamu bilang ditanggung tidak luntur, tapi kain yang saya beli ini luntur. Saya minta uang saya dikembalikan.” Dengan santai si pedagang melayani sang jamaah yang sedang marah dan berkata, “Maaf Wan, Anda yang keliru. Ingat, ini di Arab dan Bahasa Arab dibaca dari kanan ke kiri. Jadi, spanduk itu seharusnya dibaca: luntur tidak ditanggung.”
*********
Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi duka karena ilustrasi di atas itu banyak juga terjadi di lingkungan pendidikan kita. Entah dimulai darimana tapi sekarang (sepertinya) sudah tidak ada lagi lembaga pendidikan yang benar-benar jujur dan transparan. Jujur dalam artian mengungkap kebenaran, transparan dalam artian menjelaskan segalanya di depan dan bukannya bersembunyi sambil berharap ada yang terjerumus dalam kesalahan persepsi.
Kurang jelas? Baik, saya coba tampilkan satu contoh kasus yang banyak sekali terjadi. Hampir semua sekolah punya aturan main bahwa guru tidak boleh memberikan les (private course) kepada murid yang bersekolah di sekolah tempat si guru bekerja. Prakteknya, lebih dari separo guru mata pelajaran yang berpeluang memberikan les, juga memberikan les pada muridnya sendiri. Minimal, dibentuk jaringan antar guru untuk melakukan program pertukaran murid les. Artinya, guru di sekolah A memberikan les pada murid dari sekolah B dan guru di sekolah B memberikan les pada murid dari sekolah A. lebih parah lagi, tidak sedikit kepala sekolah yang ikut terlibat dalam persekongkolan ini.
Sebenarnya, saya tidak terlalu mempermasalahkan peristiwa itu atas dasar pertimbangan tuntutan kehidupan dan memang kondisi itu sudah terjadi sejak berpuluh tahun silam. Bahwa profesi guru masih merupakan salah satu profesi yang kurang mendapatkan penghargaan finansial, saya juga sangat bisa mengerti tapi bukankah kondisi ini juga sudah dialami sejak berpuluh tahun lalu? Jadi, semua guru sudah tahu bahwa jadi guru berarti mendapat gaji kecil. Persoalannya, banyak kasus pelanggaran aturan main itu menjadi pelanggaran hak asasi dan kebenaran universal. Maksud saya, ada guru-guru yang terlibat dalam kasus seperti di atas yang kemudian memaksakan kehendak. Caranya, murid yang tidak mau ikut les kemudian dipersulit, ditekan dan dijatuhkan dalam hal penilaian akademiknya. Ketika ini terjadi, guru sudah melanggar hak murid untuk memilih ikut atau tidak. Guru melanggar kebenaran universal karena melakukan hal yang diketahui tidak benar.
Sama seperti si pedagang kain. Demi tidak melanggar kebenaran universal, seharusnya ia menuliskan spanduk itu dalam Bahasa Arab atau ditulis “luntur tidak ditanggung” dalam Bahasa Indonesia. Tapi, ia justru memanipulasi persepsi dengan menulis “ditanggung tidak luntur” dalam Bahasa Indonesia dan kemudian mengatakan seharusnya itu dibaca dari kanan ke kiri karena berada di Arab.
*********
Setiap kali saya diskusi soal ini dengan teman-teman, baik mereka yang berprofesi sebagai guru maupun yang berprofesi lain, seringkali mereka mengatakan bahwa saya terlalu ideal sehingga akhirnya saya sendiri yang berbenturan dengan lingkungan. Bahwa sekarang ini sudah tidak jamannya lagi bicara ideal karena hidup ini soal realita keseharian.
Seperti saya katakan di atas, sebenarnya saya tidak terlalu mempermasalahkan realita vs idealisme. Dari sudut pandang keseharian hidup, memang kita butuh uang karena sampai hari ini hanya uang yang punya nilai tukar resmi dan menyeluruh. Persoalannya, saya pikir, yang kita bicarakan adalah pendidikan. Oleh karenanya mari kita tempatkan diri kita dalam sudut pandang pendidikan. Bila dikatakan kita menghadapi realita dan tidak bisa bicara ideal, lalu untuk apa kita bicara pendidikan?
Bicara pendidikan berarti bicara ideal karena tujuan pendidikan adalah transformasi nilai. Bila nilai yang ditransfer sudah tidak benar, bagaimana mungkin bisa menghasilkan output yang benar? Lalu, bagaimana kita mempertanggung jawabkan proses pendidikan yang kita lakukan? Bila tidak ingin bicara ideal, jangan bicara pendidikan dan mari kita bicara HANYA pengajaran. Jangan lagi menyebut sekolah sebagai lembaga pendidikan dan sebut saja lembaga pengajaran. Karena tanpa transformasi nilai, sekolah hanya jadi tempat untuk menguasai iptek. Resikonya, iptek selalu bersifat netral sehingga selalu dapat digunakan untuk kepentingan baik dan juga untuk kepentingan tidak baik, tergantung siapa yang menggunakannya dan apa tujuannya.
Teman-teman guru…
Sejak di ruang kelas di lembaga penyelenggara pendidikan guru, kita selalu mendengarkan dan mendiskusikan idealisme pendidikan. Bahwa pendidikan seharusnya begini dan begitu. Namun kemudian, ketika kita lepas dari kawah candradimuka pendidikan, kita mendapati apa yang kita pelajari tidak bisa dilakukan di lapangan karena alasan realita.
Benarkah demikian? Yakinkah anda bahwa hambatan yang ditemui di lapangan bukan terjadi karena kesalahan kita, para pelaku dibidang pendidikan? Coba cermati pertanyaan berikut: Apa yang membuat anda memutuskan belajar di pendidikan guru? Apa yang membuat anda memutuskan untuk menggeluti profesi guru? Apa yang membuat anda memutuskan menekuni bidang ilmu yang anda “kuasai” sekarang? Apakah ada unsur paksaan dalam proses pembuatan keputusan itu? Apa yang anda harapkan dengan menjadi guru? Sekolah macam apa yang anda inginkan menjadi tempat anda berkarya?
Banyak pendapat yang saya terima dari teman-teman guru tentang hal ini. Secara umum mereka mengatakan setuju bahwa banyak orang yang memutuskan menjadi guru demi meningkatkan status sosial. Beberapa alasan lain yang juga diamini oleh teman-teman guru diantaranya adalah agar bisa memberikan les demi mendapat tambahan uang, karena merasa tidak mampu bersaing dibidang lain, karena tidak lolos seleksi dibidang lain, karena tuntutan kerja yang ringan dan jam kerja yang pendek.
Intinya, masih terlalu banyak dari kita yang memutuskan menjadi guru bukan karena ingin jadi guru, bukan karena ingin berkiprah di dunia pendidikan demi pendidikan itu sendiri tapi demi realita hidup yang dirasakan semakin menghimpit. Demi gengsi agar terhindar dari sebutan “orang miskin”. Demi usaha bertahan hidup di tengah tren gaya hidup masyarakat yang tidak memungkinkan kita mengikuti, apalagi terlibat di dalamnya.
Bapak/ Ibu orangtua murid…
Maaf, tapi saya juga banyak mendapati bahwa teguran/ protes orangtua terhadap sekolah seringkali hanya terbatas pada omongan. Seringkali orangtua juga merasa tidak kuasa apa-apa ketika berhadapan dengan sekolah. Mengapa? Sekolah tidak hanya ada satu. Sekolah A tidak lebih baik dari sekolah B secara mutlak. Bahkan, kualitas sebuah sekolah justru ditentukan oleh seberapa ingin anak-anak di sekolah itu menghasilkan output yang tinggi. Seberapa anak-anak itu merasa nyaman dengan lingkungan sekolahnya.
Tak ada satupun orang yang bisa membantu kita belajar selama kita sendiri tidak ingin belajar. Jadi, seharusnya orangtua bisa berperan sebagai pengawas proses pendidikan yang berlangsung di sebuah sekolah. Seharusnya orangtua selaku konsumen dari sekolah penyedia jasa pendidikan, berhak mendapatkan layanan terbaik dari sekolah. Sayang masih banyak orangtua yang juga kurang peduli pada pendidikan itu sendiri. Akhirnya, selalu saja murid yang seharusnya jadi subjek pendidikan, dikalahkan demi hal lain yang tidak berkait dengan pendidikan bahkan bertentangan.
Masih banyak orangtua yang juga terjerembab dalam perangkap tren, termasuk juga tren pendidikan. Coba saja kita cermati, apa alasan anda terkadang ngotot menyekolahkan anak di sekolah tertentu? Apa yang jadi kriteria anda dalam membandingkan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya? Apa yang anda harapkan dari anak dengan bersekolah di sekolah itu? Bagaimana anda bisa yakin bahwa apa yang anda mau itu bisa anda dapatkan? Bagaimana anda bisa yakin bahwa anak anda akan betul-betul menjadi seperti apa yang anda inginkan, dengan bersekolah di sekolah itu?
Apa yang kita inginkan tidak selalu sejalan dengan apa yang ingin kita lakukan. Apa yang kita inginkan dari orang lain juga tidak secara otomatis bisa kita dapatkan hanya dengan membuat orang itu melakukan apa yang kita inginkan darinya. Jadi, tolong sadari bahwa apapun yang kita inginkan dari anak kita, tidak akan bisa kita dapat bila si anak tidak menginginkan hal yang sama. Bila si anak tidak mampu melakukan seperti yang kita ingin itu.
Oleh karenanya, kembali pada makna judul tulisan ini, ayo kita galakkan sikap jujur dan transparan. Ayo kita galakkan perilaku menjunjung tinggi kebenaran universal. Jangan lagi kita minta orang lain melakukan sesuatu tanpa mendiskusikan kesanggupannya. Mari kita kembali pada kaidah inti dari pendidikan yang merupakan sebuah proses, bukan satu perbuatan sekejap.
Untuk teman-teman guru, mari kita kerjakan profesi keguruan kita secara benar karena kita yang memilih profesi itu. mari kita belajar bahwa setiap keputusan selalu diikuti konsekuesi yang HARUS kita hadapi. Untuk para orangtua, mari kita sediakan lebih banyak energi untuk membantu proses pendidikan di sekolah demi kelangsungan proses tumbuh-kembang anak karena andalah pihak yang paling berkepentingan dengan diri dan hidup si anak.
Untuk teman-teman guru dan para orangtua…
Mari selesaikan dulu masa kanak-kanak kita, sebelum memutuskan terlibat dalam masa dewasa dan segala peranan selaku orang dewasa/ orangtua. Jangan biarkan masa kanak-kanak kita menghantui dan bersaing dengan anak-anak kita. Bagaimana mungkin kita bisa membantu, mendampingi anak untuk menjadi baik selama kita sendiri belum bisa jadi baik. Bagaimana mungkin kita melarang anak begini dan begitu selama kita sendiri masih juga melakukannya. Jangan pernah katakan ”kamu masih kecil jadi belum boleh, bapak/ ibu sudah besar jadi boleh”, karena itu hanya akan membuat anak meyakini bahwa ia harus segera jadi dewasa agar bisa melakukan hal itu.