13 August 2005

Apa yang Kau Lihat ?

Pada zaman dahulu hiduplah dua orang jendral perang besar, Cyrus dan Cagular. Cyrus adalah raja Persia yang terkenal. Sedangkan Cagular adalah kepala suku yang terus-menerus melakukan perlawanan terhadap serbuan pasukan Cyrus, yang bertekat menguasai Persia.

Pasukan Cagular mampu merobek-robek kekuatan tentara Persia sehingga membuat berang Cyrus karena ambisinya untuk menguasai perbatasan daerah selatan menjadi gagal. Akhirnya, Cyrus mengumpulkan seluruh kekuatan pasukannya, mengepung daerah kekuasaan Cagular dan berhasil menangkap Cagular beserta keluargnya. Mereka lalu dibawa ke ibu kota kerajaan Persia untuk diadili dan dijatuhi hukuman.

Pada hari pengadilan, Cagular dan istrinya dibawa ke sebuah ruangan pengadilan. Kepala suku itu berdiri menghadapi singgasana, tempat Cyrus duduk dengan perkasanya. Cyrus tampak terkesan dengan Cagular. Ia tentu telah mendengar banyak tentang kegigihan Cagular.

"Apa yang akan kau lakukan bila aku menyelamatkan hidupmu?" tanya sang kaisar.

"Yang mulia," jawab Cagular, "Bila Yang Mulia menyelamatkan hidup hamba,hamba akan kembali pulang dan tunduk patuh pada Yang Mulia sepanjang umur hamba."

"Apa yang akan kau lakukan bila aku menyelamatkan hidup istrimu?" tanya Cyrus lagi.

"Yang mulia, bila Yang Mulia menyelamatkan hidup istri hamba, hamba bersedia mati untuk Yang Mulia," jawab Cagular.

Cyrus amat terkesan dengan jawaban dari Cagular. Lalu ia membebaskan Cagular dan istrinya. Bahkan ia mengangkat Cagular menjadi gubernur yang memerintah di provinsi sebelah selatan.

Pada perjalanan pulang, Cagular dengan penuh antusias bertanya pada istrinya, "Istriku, tidakkah kau lihat pintu gerbang kerajaan tadi? Tidakkah kau lihat koridor ruang pengadilan tadi? Tidakkah kau lihat kursi singgasana tadi? Itu semuanya terbuat dari emas murni! Gila!"

Istri Cagular terkejut mendengar pertanyaan suaminya, tetapi ia menyatakan, "Aku benar-benar tidak memperhatikan semua itu."

"Oh begitu!" tanya Cagular terheran-heran, " Aneh, lalu apa yang kau lihat tadi?"

Istri Cagular menatap mata suaminya dalam-dalam. Lalu ia berkata, "Aku hanya melihat wajah seorang pria yang mengatakan bahwa ia bersedia mati demi hidupku."

Apakah Anda tahu demi apa Anda mati? Demi kekasih Anda? Rumah? Negara? Keyakinan? Kebebasan? Cinta? Tentukan demi apa Anda bersedia untuk mati,dan Andapun akan menemukan demi apa Anda hidup. Hiduplah demi sesuatu yang Anda bersedia untuk berkorban, bahkan mati pun rela, maka Anda akan hidup dengan penuh. Anda pun akan menemukan bagaimana Anda bisa berbahagia.

12 August 2005

Raihlah Dengan Seluruh Yang Anda Miliki.

Meraih sesuatu bukanlah hal yang terbatas pada pekerjaan tangan. Bila anda mau meraih dengan seluruh yang anda miliki, tidak ada hal yang tidak tercapai.

Railah dengan kaki. Bila sesuatu saat ini tidak tergapai, bergeraklah, hingga hal itu dalam jangkauan. Bergeraklah menuju tujuan, ketimbang menunggu tujuan anda bergerak kepada anda.

Raihlah dengan pikiran. Visualisasikan tujuan anda. Lihatlah dengan jelas dalam pikiran anda, dan anda akan mulai bisa menggapai. Gunakan daya pikir anda untuk mengembangkan rencana realistis dan perencanaan tindakan.

Raihlah dengan imajinasi. Jadilah kreatif dalam menggapai. Selalu ada banyak cara dalam mencapai tiap tujuan. Gunakan imajinasi anda untuk bekerja dan mengembangkan segala peluang. Bila satu jalur terhalang, bayangkan selusin alternatif dan ikuti yang paling berpeluang.

Raihlah dengan semangat. Rasakan kegembiraan pada setiap saat kehidupan dan anda akan mengembangkan dalam diri sendiri, kesadaran akan pemenuhan. Sedemikian banyak hal yang bisa anda raih bila anda secara tulus bersyukur atas hal-hal yang telah anda miliki.

11 August 2005

Lima Menit Saja

Seorang ibu duduk di samping seorang pria di bangku dekat Taman-Main di West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah cerah. "Tuh.., itu putraku yang di situ," katanya, sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan. Mata ibu itu berbinar, bangga.

"Wah, bagus sekali bocah itu," kata bapak di sebelahnya. "Lihat anak yang sedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku," sambungnya, memperkenalkan.

Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. "Ayo Jack, gimana kalau kita sekarang pulang?"

Jack, bocak kecil itu, setengah memelas, berkata, "Kalau lima menit lagi, boleh ya, Yahhh? Sebentar lagi Ayah, boleh kan? Cuma tambah lima menit kok, yaaa...?"

Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan untuk memuaskan hatinya. Menit menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil anaknya lagi. "Ayo, ayo, sudah waktunya berangkat?"

Lagi-lagi Jack memohon, "Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit tok, ya? Boleh ya, Yah?" pintanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Pria itu bersenyum dan berkata, "OK-lah, iyalah..."

"Wah, bapak pasti seorang ayah yang sabar," ibu yang di sampingnya, dan melihat adegan itu, tersenyum senang dengan sikap lelaki itu.

Pria itu membalas senyum, lalu berkata, "Putraku yang lebih tua, John, tahun lalu terbunuh selagi bersepeda di dekat sini, oleh sopir yang mabuk. Tahu tidak, aku tak pernah memberikan cukup waktu untuk bersama John. Sekarang apa pun ingin kuberikan demi Jack, asal saja saya bisa bersamanya biar pun hanya untuk lima menit lagi. Saya bernazar tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap Jack. Ia pikir, ia dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun, untuk terus bermain. Padahal, sebenarnya, sayalah yang memperoleh tambahan lima menit memandangi dia bermain, menikmati kebersamaan bersama dia, menikmati tawa renyah-bahagianya...."

Hidup ini bukanlah suatu lomba. Hidup ialah masalah membuat prioritas. Prioritas apa yang Anda miliki saat ini? Berikanlah pada seseorang yang kau kasihi, lima menit saja dari waktumu, dan engkau pastilah tidak akan menyesal selamanya.

10 August 2005

Pikiran adalah Permukaan Hati

Jangan pernah berkata benci, kotor, atau berpikir busuk. Itu nasihat nenek saya. "Nanti, kalau ada setan lewat, bisa terjadi sungguhan," katanya. Saya cuma mesem, cenderung menyepelekan petuah itu. Maklum, di mata saya, orang sepuh itu suka berpikir aneh, termasuk yang tidak masuk akal.

Pokoknya, ucapan Nenek yang membawa nama setan, jin, dan malaikat saya ibaratkan angin lalu. Tak perlu digubris. "Ya, sudah, kalau tak percaya," katanya. Esoknya, petuah serupa diulang lagi, dan diulang lagi, walau sang cucu selalu menertawakannya.

Belakangan, "pelajaran" dari Nenek itu ada benarnya, walau tidak mutlak --karena menyertakan setan, jin, dan malaikat sebagai penyebab. Tampaknya, Nenek yang buta huruf dan tak mau memaksakan kehendak itu lebih memahami hidup. Memang, makin berakal seseorang, makin mudah ia memahami alasan orang lain.

Ternyata, pikiran manusia itu bisa "disetel" sesuai dengan daya kehendak. Mengumpat disertai kutukan bisa mewujud nyata jika dilakukan serius. Yang merampas daya itu adalah keraguan. Keraguan merampas keberanian, harapan, dan optimisme. Berpikir busuk, misalnya, bisa melecut ketidakserasian. Berpikir buruk itu hanya menyengsarakan diri. Membuat suasana jadi muram.

Pernah, suatu ketika, famili saya rekreasi ke Baturaden, Purwokerto, Jawa Tengah. Usai menghirup udara segar pegunungan, mereka kembali ke kota. Jalanan menurun. Tiba-tiba, di balik setir mobil terlintas pikiran negatifnya: "Belasan tahun saya membawa mobil tapi belum pernah merasakan rem blong!"

Belum sampai 10 menit otaknya berpikir rem blong, rem yang diinjaknya jebol sungguhan. Kendaraan meluncur deras. Syukurlah, dia tidak panik. Tahap demi tahap gigi persneling dipindahkan ke gigi kecil. Begitu terkendalikan, mobil dipinggirkan dan rem tangan ditarik. Ia menghela napas panjang.

"Kok, berhenti," tanya istrinya. ''Lha, wong remnya blong," katanya. ''Kok, tidak bilang-bilang?" tanyanya lagi. Tentu saja tak perlu dijawab. Sebab, jika fakta itu disampaikan, kepanikan dijamin akan menular ke seluruh penumpang. "Tuhan masih melindungi kita," ujar dia.

Sebaliknya, pikiran yang positif dapat menghasilkan sesuatu yang sangat mengagumkan. Ia dapat menguasai materi, objek, dan urusan. "Ia bahkan dapat bekerja dengan sangat mengagumkan, yang orang tak dapat menjelaskannya," tulis Hazrat Inayat Khan.

Pikiran dan perasaan manusia itu memiliki getaran kekuatan. Ketenangan dan kedamaian hati seorang pawang, misalnya, mampu menjinakkan singa liar. Pikiran singa itu "terpengaruh" oleh si pawang yang cinta damai. Begitu pula dalam arena adu gajah di India. Daya pikir ribuan penonton menghendaki agar hewan itu berkelahi. Keinginan itu direfleksikan pada hewan hingga menimbulkan kekuatan --sekaligus hasrat untuk berkelahi.

Ada pula penjinak ular yang bertugas "membujuk" binatang melata itu keluar dari sarangnya, tanpa musik. Pikiran penjinak yang direfleksikan pada ular itulah yang menarik ular keluar dari persembunyian. Ada orang yang mengusir lalat dengan merefleksikan pikirannya pada makhluk kecil tersebut. Kekuatan yang mempengaruhi pikiran serangga itu merupakan bukti adanya daya, bukan keistimewaan.

Ada pula kuda yang mampu memecahkan soal matematika rumit. Jawaban itu merupakan refleksi pikiran pelatihnya yang diproyeksikan pada pikiran kuda. Dalam proses mediumistik, suatu gagasan matematika diproyeksikan pada pikiran kuda. Daya proyeksi dapat ditingkatkan dengan peningkatan daya kehendak, pemikiran, atau perasaan. Inilah rahasia terbesar kehidupan.

Bila pikiran tak jelas, misalnya, terganggu atau terlalu aktif, maka pikiran tidak dapat mengantar refleksi secara utuh. Pikiran dapat diibaratkan danau. Jika angin bertiup dan air beriak, maka refleksinya menjadi tidak jelas. Sebaliknya, jika berair tenang, bisa merefleksikan dengan jelas.

Pikiran adalah permukaan hati, dan hati adalah kedalaman pikiran. Apa yang datang dari dalam menyentuh kedalaman, dan yang di permukaan hanya berada di permukaan. Maka, jangan heran jika dua jiwa yang berhati penuh kasih dan berperasaan halus bisa berkomunikasi melalui pikiran dan perasaan. Jarak bukan halangan.

Maka, si Binu yang lama tak bersua, misalnya, tiba-tiba menelepon atau muncul di depan mata hanya karena "terpikirkan" oleh teman karibnya. Kebetulan? Tidak! Di dunia ini tak ada sesuatu yang bersifat kebetulan. Seluruh perilaku pikiran mempengaruhi urusan hidup.

Daya pikir memang punya efek yang dahsyat. Pikiran yang panas membuat "api" di sekitarnya, hingga orang-orang di dekatnya terbakar oleh "api" tersebut. Sebaliknya, pikiran yang tenang dan damai memberi kesejukan pada orang-orang yang berada dalam ruang lingkupnya.

Tentu, semua refleksi ini bukan karena ada setan atau malaikat lewat. Di dunia ini, tiada suatu yang tanpa makna. Juga bukan kebetulan. Tidak sebutir atom pun yang terlepas dari liputan dan rencana Allah. Hanya karena kita tak memahami kehidupan di dunia ini, maka kita berada dalam kegelapan.

"Sesungguhnya, di antara ilmu itu ada yang laksana mutiara tersembunyi, ia tidak diketahui kecuali hanya oleh orang-orang yang mengenal Allah," kata Nabi Muhammad SAW.

09 August 2005

Mengakhiri Kebiasaan Menunda-Nunda

Ketekunan terhadap keberhasilan hampir sama pentingnya dengan bensin terhadap kegiatan mengendarai mobil. Pasti ada saatnya di mana anda merasa sedang berputar-putar tapi anda akan selalu dapat keluar dari kesulitan tersebut dengan ketekunan murni. Tanpa ketekunan, anda bahkan tak akan mampu menghidupkan mesin.

Lawan kata dari ketekunan adalah menunda-nunda. Ketekunan berarti anda pantang mundur. Menunda-nunda biasanya anda tak pernah mulai, meskipun ketidakmampuan menyelesaikan sesuatu juga merupakan satu bentuk dari menunda-nunda.

Tanyakan kepada orang lain mengapa mereka menunda-nunda dan anda akan sering mendengar hal-hal semacam ini: "Saya seorang perfectionist. Segala sesuatu harus sempurna sebelum saya mulai melakukan. Tak ada hambatan, tak terlalu ribut, tak ada telephone yg mengganggu saya, dan tentu saja saya harus merasa fisik saya segar juga. Saya tak dapat bekerja waktu saya sakit kepala."Diujung kebiasaan menunda-nunda - yaitu tak mampu menyelesaikan - also ada juga alasan perfectionist: "Saya tak pernah puas aja. Saya adalah kritikus terkejam atas diri saya sendiri. Kalau titik komanya kurang, saya tak dapat menganggap bahwa Saya telah menyelesaikan. Saya begitu orangnya, dan barangkali saya tidak akan pernah berubah."

Tahukah anda apa yg sedang terjadi di sini? Cacat sedang diubah menjadi kualitas. Orang-Orang perfectionist mengatakan bahwa standarnya terlalu tinggi di dunia ini. Sindrom 'cacat menjadi kualitas' ini merupakan dalih umum ketika orang diajak bicara mengenai kelemahan-kelemahannya, tapi diujungnya ada dalih-dalih yg dibuat nampak seperti emas. Dalih tersebut sebenarnya tak ada hubunganya dengan apa-apa yg ada di balik kebiasaan menunda-nunda.

Ingatlah, dasar dari kebiasaan menunda-nunda bisa jadi karena takut gagal. Itulah kenyataan dari perfeksionisme, kalau anda benar-benar mencoba melihatnya. Apa bedanya baik anda takut kurang sempurna atau takut terhadap hal-hal lain? Anda masih dilumpuhkan oleh ketakutan. Apa bedanya anda tak pernah mulai atau tak pernah menyelesaikan? Anda masih macet. Anda masih tidak beranjak kemana-mana. Anda masih dikuasai oleh tugas apapun yg ada di depan anda. Anda masih membiarkan diri anda dikuasai oleh visi negatif tentang masa depan di mana anda dilecehkan, dikritik, dihukum, atau terusir dari lingkungan. Tentu saja, pandangan negatif ttg masa depan ini sebenarnya merupakan mekanisme yg menyebabkan anda tidak melakukan apapun. Itu adalah alat mental yg nyaman sekali.

Saya akan katakan cara mengatasi kebiasaan menunda-nunda. Saya akan tunjukkan kepada anda cara membalik kebiasaan menunda-nunda menjadi sebuah ketekunan, dan jika anda melakukan apa yg saya sarankan, prosesnya tidak akan menyakitkan. Ini melibatkan dua prinsip yg sangat kuat sehingga medorong produktivitas dan ketekunan, bukan sikap pasif dan menunda-nunda.

Prinsip pertama adalah: Uraikan/Jabarkan.

Tak peduli apa yg hendak anda capai, apakah menulis buku, mendaki gunung, atau mengecat rumah, kunci dari prestasi adalah kemampuan anda menjabarkan tugas-tugas menjadi bagian-bagian yg dapat ditangani serta menyelesaikannya satu persatu. Fokuskan untuk menyelesaikan apa yg ada tepat di depan anda saat ini. Jangan pedulikan apa-apa yg jauh tak terjangkau. Ganti pandangan/visi negatif ttg masa depan anda dengan berpikir positif nyata dan riil. Itulah pertama kali tehnik untuk mengakhiri kebiasaan menunda-nunda.

Misalkan saya tanya anda apakah anda dapat menulis novel setebal 400 halaman. Jika anda seperti kebanyakan orang, itu kedengarannya seperti tugas yg mustahil. Namun misalkan saya tanya anda dengan pertanyaan lain. Katakanlah saya minta agar anda menulis satu seperempat halaman perhari selama satu tahun. Apakah anda merasa anda mampu melakukannya? Sekarang tugasnya adalahnampak lebih bisa ditangani. Kita menjabarkan buku setebal 400 halaman itu menjadi bagian-bagian kecil. Meski demikian, saya curiga banyak orang masih merasa kemungkinan itu tetap menakutkan. Anda tahu mengapa? Menulis satu seperempat halaman tidak nampak terlalu susah, tapi anda dipaksa untuk memandang satu tahun penuh. Waktu orang mulai melihat jauh ke depan, kebanyakan otomatis kembali ke kebiasaan negatif. Oleh karena itu perkenankan saya rumuskan ide menulis dengan cara lain. Saya akan uraikan lebih rinci lagi.

Misalkan saya harus menyuruh anda: bisakah anda mengisi satu seperempat halaman bukan selama setahun, bukan selama sebulan, bukan pula selama seminggu, hanya untuk hari ini? Jangan melihat lebih jauh dari itu. Saya yakin kebanyakan orang akan menyatakan mereka mampu menyelesaikannya. Tentu saja, orang-orang ini adalah yg sama sekali tidak mampu menulis satu buku penuh.

Jika saya katakan hal yg sama besok kepada orang-orang tsb - jika saya katakan kepada mereka, saya tak mau anda melihat ke belakang, dan saya tak ingin anda melihat ke depan, saya hanya mau agar anda mengisi satu seperempat halaman hari ini saja - apakah anda kira dapat melakukannya? Satu hari satu kali. Kita semua pernah mendengarnya. Itulah apa yg kita lakukan di sini. Kita menjabarkan waktu yg diperlukan bagi tugas utama menjadi bagian-bagian per satu hari, dan kita memerinci pekerjaan-pekerjaan menulis buku setebal 400 halaman tersebut menjadi bagian-bagian sebanyak satu seperempat halaman.

Lakukan ini selama satu tahun, dan anda akan menulis satu buku. Disiplinkan diri anda sendiri untuk tidak melihat ke depan ataupun ke belakang, dan anda dapat menyelesaikan hal-hal tak pernah anda sangka dapat anda lakukan. Dan semuanya dimulai dengan kata-kata: uraikan (jabarkan).

Tehnik saya yg kedua untuk mengalahkan kebiasaan menunda-nunda adalah sepanjang tiga kata juga (Dalam bahasa Inggris, dalam bahasa Indonesia hanya satu kata -- sasis). Ketiga kata tersebut adalah: write it down (Catatlah/Tuliskan). Kita tahu betapa pentingnya menulis buat menetapkan satu tujuan. Tulisan yg akan anda lakukan untuk mengalahkan kebiasaan menunda-nunda adalah sangat mirip. Sebagai ganti dari memfokuskan diri ke masa depan, anda hanya akan menuliskan tentang masa sekarang yang anda alami setiap hari. Sebagai ganti dari penjabaran tentang hal-hal yg ingin anda lakukan atau tempat- tempat yg ingin anda kunjungi, anda hanya menjabarkan apa yang sebenarnya anda lakukan terhadap waktu anda, dan anda akan tetap membuat catatan atas tempat-tempat yg memang anda kunjungi.

Dengan kata lain, anda akan membuat catatan harian kegiatan anda. Dan anda akan kaget dengan adanya godaan-godaan, penyelewengan, serta banyaknya waktu yg terbuang sia-sia yg anda pakai selama sehari. Segala hal ini menghalangi jalan menuju tercapainya tujuan anda. Buat kebanyakan orang, hal itu seperti terencana begitu saja, dan barangkali secara tidak sadar memang telah direncanakan. Hal yg luar biasa dari mengisi catatan harian adalah catatan itu menunjukkan segalanya dengan nyata. Catatan itu memaksa anda melihat apa yg sebenarnya anda lakukan. . . dan apa-apa yg tidak anda lakukan.

Catatan harian tidak harus rinci. Beli saja notebook spiral yg dapat anda bawa dengan mudah di kantong. Jika anda pergi makan siang, ketika anda berkendara dikota, ketika anda pergi ke dry cleaners, ketika anda meluangkan waktu di mesin foto kopi, buatlah catatan dg cepat atas waktu anda mulai dan mengakhiri kegiatan itu. Coba buat catatan itu sesegera mungkin; jika tidak merasa nyaman untuk melakukannya dg segera/langsung, anda dapat mengerjakannya nanti. Tapi anda harus membuat masukan dalam diary anda paling kurang satu buah tiap tiga menit, dan anda harus melakukan ini paling sedikit selama seminggu.

Uraikan. Tuliskan. Dua tehnik ini benar-benar langsung. Tapi jangan membuat hal tsb menipu anda: hal-hal ini merupakan tehnik yg sangat kuat serta tehnik produktivitas yg efektif. Inilah cara anda mengakhiri kebiasaan menunda-nunda. Inilah cara anda membuat diri anda mulai.

08 August 2005

Cinta Dan Waktu

Tersebutlah, di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak. Ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.

Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta.

Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. "Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta.

"Aduh! Maaf, Cinta!" kata Kekayaan, "perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini."

Lalu Kakayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan! Tolong aku!", teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta.

Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang. Ia kian panik. Tak lama lewatlah Kecantikan. "Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!", teriak Cinta.

"Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini," sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. "Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu," kata Cinta.

"Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..." kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.

Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!"

Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya lelaki tua tadi.

"Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu." kata orang itu.

"Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku" tanya Cinta heran.

"Sebab," kata orang itu, "hanya Waktu-lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu ..."

07 August 2005

Kisah Seekor Kelinci

Seekor kelinci sedang duduk santai di tepi pantai, Tiba tiba datang se-ekor rubah jantan besar yang hendak memangsanya, Lalu kelinci itu berkata: "Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang."

Sang Rubah jantan merasa tertantang, "dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku?" Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Sepuluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha rubah dan melahapnya dengan nikmat.

Sang Kelinci kembali bersantai, Sambil memakai kaca mata hitam dan topi pantai Tiba tiba datang se-ekor serigala besar yang hendak memangsanya, Lalu kelinci berkata : "Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang. "Sang serigala merasa tertantang, dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku?"

Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Lima belas menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha serigala dan melahapnya dengan nikmat.

Sang kelinci kembali bersantai, Sambil memasang payung pantai dan merebahkan diri diatas pasir, Tiba tiba datang seekor beruang besar yang hendak memangsanya, Lalu kelinci berkata: "Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang. "Sang Beruang merasa tertantang, "dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku?" Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Tiga puluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha Beruang dan melahapnya dengan nikmat.

Pohon kelapa melambai lambai, Lembayung senja sudah tiba, habis sudah waktu bersantai, Sang Kelinci melongok kedalam lubang kelinci, sambil melambai "Hai, keluar, sudah sore, besok kita teruskan!!"

Keluarlah se-ekor harimau dari lubang itu, sangat besar badannya. Sambil menguap Harimau berkata " Kerjasama kita sukses hari ini, kita makan kenyang Dan saya tidak perlu berlari mengejar kencang."

Nb.
The Winner selalu berfikir mengenai kerja sama, sementara The Looser selalu berfikir bagaimana menjadi tokoh yang paling berjaya.

Untuk membentuk ikatan persahabatan dan persaudaraan harus ada kerendahan hati dan keikhlasan bekerja sama: (MESKIPUN) DENGAN SESEORANG YANG KELIHATANNYA TIDAK LEBIH BAIK DARI KITA