05 March 2005

Kehidupan Komik Jepang di Indonesia

Keindahan ilustrasi-ilustrasi yang dibuat oleh komikus-komikus Jepang menarik perhatian semua orang, baik yang masih kecil sampai yang sudah tua. Hal ini terbukti jika kita melihat ke rak-rak komik di toko-toko buku yang ada di Indonesia, penuh didatangi oleh pengunjung. Alasan mereka menyukai komik pun beragam: dari yang lucu sampai yang mengisahkan tentang kehidupan remaja. Alasan terakhir inilah yang paling sering dikonsumsi oleh sebagian besar remaja di Indonesia. Sebut saja DN Angel, Monster, Ghost!, dan Samurai Deeper Kyo. Dari sekian banyak komik yang telah diterbitkan di Indonesia, ada sebagian komik yang memperlihatkan gambar senonoh ataupun menceritakan tentang kehidupan remaja homoseksual (boys love), mencintai saudara kandung sendiri, dan berbagai kisah lain yang tidak sesuai dengan kehidupan remaja Indonesia yang beradab dan penuh dengan sopan santun.

Salah satunya komik Ghost!. Komik ini menceritakan seorang remaja SMU yang dapat melihat makhluk yang tidak dapat dilihat orang lain. Komik ini lebih mengutamakan unsur percintaan laki-laki sesama jenis. Begitu juga komik Gravitation yang menceritakan hubungan percintaan kedua lelaki, antara seorang pemain band dengan seorang penulis novel. Ada juga komik Angel Sanctuary yang menceritakan kisah percintaan serius antara kakak beradik yang saling mencintai. Lain lagi dengan komik Golden Boy, Samurai Deeper Kyo, dan Love Hina. Ketiga komik ini menyuguhkan gambar-gambar vulgar dan belum pantas untuk dilihat oleh anak-anak.

Isi komik-komik di atas sangat tidak sesuai dan bertentangan dengan kehidupan bangsa Indonesia. Apakah pantas komik-komik vulgar seperti itu layak dikonsumsi oleh generasi-generasi muda zaman sekarang? Apa yang akan terjadi jika mereka mengonsumsi komik-komik seperti itu? Apakah generasi akan datang dapat dengan baik menjalankan kewajiban mereka sebagai rakyat Indonesia? Tidak. Otak mereka, yang seharusnya diisi dengan keterampilan dan pendidikan yang berguna, akan terisi oleh gambar-gambar vulgar yang senantiasa menghantui mereka di mana dan kapan saja. Gambar-gambar yang dapat meningkatkan nafsu seksual di dalam diri pembaca.

Pada dasarnya, kehidupan moral bangsa Indonesia jauh berbeda dengan kehidupan moral di Jepang. Bagi kita, bangsa Indonesia, gambar-gambar tersebut tidak pantas jika diperlihatkan oleh masyarakat luas, terutama anak-anak yang sebagian mengonsumsi bacaan ini. Tidak demikian dengan masyarakat Jepang. Menurut mereka (baca: komikus Jepang), komik-komik dan animasi-animasi yang mengandung unsur ecchi atau unsur kevulgaran sama saja dengan komik atau animasi tentang robot-robot atau ninja yang sering dikonsumsi anak-anak.

Hal ini menimbulkan banyak kecemasan dari berbagai kalangan, terutama orang tua yang mengetahui anaknya penggemar berat komik Jepang. Namun, kecemasan para orang tua ini sudah sedikit teratasi karena komik-komik Jepang yang beredar di Indonesia sudah terkena sensor, baik oleh lembaga sensor maupun editor di penerbit. Sebagai lembaga sensor awal, editor berhak menghilangkan atau mengganti gambar-gambar vulgar itu dengan yang lebih etis agar tidak menimbulkan unsur SARA dan pornografi. Begitu pula dengan lembaga sensor. Lembaga ini berhak menyensor gambar-gambar yang tidak pantas dilihat pembaca, bisa dengan dihilangkan ataupun disamarkan. Namun, fungsi lembaga ini sebaiknya dilakukan oleh editor mengingat editorlah sebagai penyensor pertama sebelum komik itu terbit.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menyensor komik-komik tersebut, salah satunya dengan menghapus atau memberi tanda-tanda penghalang, seperti bintang-bintang jika terdapat adegan kissing. Di penerbit sendiri, juga sudah memberikan label, seperti ""remaja"" (R), ""dewasa"" (D), dan ""semua umur"" (S) di setiap belakang sampul komik. Keadaan ini sedikit memperkecil atau menghilangkan kemungkinan pembaca untuk melihat gambar-gambar yang tidak baik untuk dilihat.

Sayang, sensor yang sudah mereka lakukan tidak cukup memuaskan para pembaca. Banyak pembaca yang ketika membaca komik yang telah disensor mengatakan, ""Ini apaan sih maksudnya? Gue gak ngerti deh!"" Padahal, jika membaca komik asli dari Jepang, kita masih dapat mengerti maksud komikus. Hal ini terjadi karena sensor yang dilakukan terlalu rumit sehingga pembaca menjadi bingung. Sensor juga kadang-kadang menghilangkan unsur-unsur penting yang sayang jika dilewatkan. Satu contoh, ketika membaca komik Ghost!, ada satu adegan di mana ada seseorang yang sedang berendam di pemandian air panas, dan tiba-tiba ia terloncat dari kolam tersebut tanpa pakaian sama sekali dan melontarkan kata-kata lucu. Ketika saya melihat adegan ini, saya berkata dalam hati, ""Sayang banget. Mungkin kalau tidak disensor bisa jadi lebih lucu, ya."" Tetapi, sekali lagi, hal ini tidak sesuai dengan budaya kita. Di satu sisi, penceritaan menjadi tidak nyambung alias pembaca sukar mengartikan isi cerita tersebut. Di sisi lain, otak pembaca yang sebagian besar anak-anak muda (baca: generasi penerus) menjadi tercemar. Saya berharap perkembangan komik di Indonesia, terutama komik Jepang, dapat terus ditindaklanjuti dengan melakukan sensor yang lebih ketat. Apabila komik tersebut sangat tidak memungkinkan untuk diterbitkan di Indonesia, lebih baik jangan diterbitkan daripada membuat banyak sensor yang membuat pembaca bingung dengan alur cerita yang sebenarnya disuguhkan oleh pembuat komik tersebut. Sensor juga perlu dilakukan dengan cara yang lebih baik daripada sekarang. Jika tidak, pasti akan terulang kembali seperti kejadian di atas. Keamanan di toko-toko buku yang sering didatangi pengunjung juga sangat diperlukan dalam membentuk generasi muda yang berpendidikan luhur. Ketika pengunjung siap membayar komik di kasir, penjaga kasir perlu memeriksa komik tersebut, seperti dengan melihat tanda-tanda yang ada di sampul (semua umur, remaja, dan dewasa). Apabila tidak mencukupi batas umur, alangkah baiknya jika penjaga kasir menyarankan agar komik tersebut tidak dibelinya, kecuali dengan alasan-alasan yang memungkinkan. Satu hal paling mendasar, yaitu kesadaran dari pembeli itu sendiri. Jika kesadaran ini sudah tertanam kuat di diri para pembaca komik, masalah yang sangat dirisaukan dan krusial yang ditakutkan sebagian orang tidak akan terjadi.

Secara umum, banyak penggemar komik (terutama di Indonesia) lebih memilih komik buatan luar negeri daripada komik buatan negara sendiri. Komik-komik luar lebih kreatif. Walaupun begitu, komik yang dihasilkan komikus dalam negeri tidaklah terlalu buruk untuk dibaca. Sebut saja Tomat dan Alakazam. Kedua komik ini mampu mengisi kekosongan dunia komik Indonesia yang selama ini vakum setelah era R.A. Kosasih dan Dwi Koendoro.

Perkembangan komik ini pun membuat anak-anak SLTP sudah mulai membuat komik dengan beragam cerita, dari cerita sederhana sampai cerita berat. Yang mengagumkan, cerita dan ilustrasi mereka sangat bagus walaupun pengaruh komik Jepang sangat terasa baik pada cerita maupun goresan pena mereka. Sangat disayangkan, ide yang seharusnya berkembang menjadi terhambat oleh komik-komik Jepang yang memakan imajinasi mereka sendiri.

Lain halnya dengan komik Archi&Meidy karya Yohannes Surya. Komik ini berhasil memadukan ilmu pengetahuan dengan gambar-gambar yang enak dipandang mata, sehingga pelajaran yang diberikan komik tersebut tidak susah. Komikus-komikus seperti inilah yang sangat diperlukan dalam perkembangan komik dan buku bacaan di Indonesia. Akankah komik-komik Indonesia menjadi tuan rumah di negerinya sendiri?

04 March 2005

Bersabarlah, Tapi Jangan Mengurut Dada!

Bayangkan diri Anda sedang berada di dalam ruangan konser. Anda sedang asyik menikmati indahnya alunan musik ketika tiba-tiba ingat bahwa pintu mobil Anda belum dikunci. Anda khawatir terjadi sesuatu terhadap mobil Anda. Celakanya, Anda tak dapat keluar begitu saja dari ruangan itu. Anda menjadi gelisah dan tak dapat lagi menikmati musik konser. Anda begitu tak sabar menunggu konser tersebut berlalu.

Coba renungkan sebentar skenario di atas. Ilustrasi tersebut menggambarkan definisi baru mengenai kesabaran. Kesabaran adalah kemampuan menyatukan badan dan pikiran kita (body and mind) di satu tempat. Nah, begitu badan dan pikiran Anda berada di lain tempat, Anda akan sangat gelisah dan kehilangan kesabaran.

Lihatlah contoh di atas. Ketika badan dan pikiran Anda ada di ruangan konser, Anda begitu menikmati segala sesuatunya. Tapi begitu Anda sadar bahwa mobil belum terkunci, seketika itu juga pikiran Anda beralih ke tempat parkir. Pada saat itu kenikmatan Anda menonton berubah menjadi penderitaan, ketegangan, dan kegelisahan. Kalau semula Anda begitu sabar menikmati indahnya alunan musik detik demi detik, kini kesabaran itu benar-benar habis. Badan Anda masih di tempat konser, sementara pikiran ada di tempat lain.

Dengan contoh sederhana ini saya ingin mengajak Anda semua merevisi total pemahaman kita mengenai kesabaran. Selama ini, sabar seringkali diartikan dengan bersedia menderita, bersikap tabah, mengalah, dan seterusnya. Sabar sering diekspresikan dengan mengurut dada. Anda mengalami musibah, kemudian orang datang dan mengatakan,"Bersabarlah menghadapi cobaan ini." Anda diperlakukan sewenang-wenang, kawan-kawan Anda mengatakan, "Bersabarlah, biar nanti Tuhan yang akan membalas orang itu."

Tak ada yang salah dengan kata-kata tersebut. Yang salah adalah maknanya. Seolah-olah bersabar hanyalah dikaitkan dengan penderitaan hidup. Karena itu ekspresinya adalah mengurut dada. Ekspresi seperti ini mereduksi begitu banyak makna mengenai kesabaran.

Padahal kesabaran adalah rahasia terpenting untuk menikmati hidup. Kalau Anda bersabar Anda akan benar-benar menikmati saat-saat terindah dalam hidup Anda.

Definisi baru mengenai kesabaran adalah menyatukan badan dan pikiran di satu tempat. Apa yang terjadi kalau badan Anda di kantor tapi pikiran di rumah, atau sebaliknya Anda di rumah tapi pikiran di kantor? Saya yakin, Anda tak akan menikmati hidup. Dalam menjalankan pekerjaan, seringkali saya harus bepergian jauh ke luar kota selama beberapa hari. Saat itu saya sering merindukan keluarga di rumah. Dan begitu itu terjadi saya merasa stres dan kehilangan kesabaran. Saya ingin buru-buru pulang, dan kenikmatan melakukan pekerjaan pun hilang.

Coba amati apa yang Anda rasakan saat terjebak kemacetan di jalan. Anda sering menjadi stres. Badan Anda masih di mobil tapi pikiran sudah di kantor, di tempat klien atau di rumah. Anda menderita. Sekarang coba lakukan penyatuan badan dan pikiran Anda kembali. Kuncinya adalah kesadaran. Sadarilah sepenuhnya apa yang sedang Anda alami.

Rasakan tubuh Anda yang sedang duduk di mobil, rasakan sentuhan tangan Anda pada kemudi, dan kaki Anda yang sedang menginjak pedal. Hidupkan musik kesukaan Anda, dan amatilah gedung-gedung yang menjulang tinggi. Anda akan merasakan keajaiban. Perlahan-lahan kesabaran Anda tumbuh kembali. Bukan itu saja Anda juga akan merasakan rileks.

Jangan salah, untuk relaksasi Anda tidak membutuhkan waktu dan tempat yang khusus. Yang Anda perlukan cuma bersabar. Sabar berarti hidup di masa sekarang dan menikmati keberadaan Anda. Anda sering tak sabaran kalau menunggu sesuatu? Coba satukan badan dan pikiran. Anda akan merasakan bedanya. Dalam suatu perjalanan ke Honolulu, perubahan jadwal penerbangan menyebabkan saya "terdampar" di lapangan terbang Osaka selama 12 jam. Awalnya saya stres memikirkan cara mengisi waktu yang panjang itu. Tapi begitu ingat rumus ini, kesabaran sayapun tumbuh kembali, dan saya begitu menikmati berjalannya waktu.

Definisi lain dari kesabaran adalah kesediaan Anda untuk menjalani prosesnya satu demi satu. Dunia ini diciptakan berproses. Kesabaran berarti menikmati proses tersebut. Anda tak bisa mendadak menjadi kaya, pandai, dan kompeten. Anda harus mau bersabar menjalani prosesnya dari ke hari. Dalam hal ini berlaku hukum pertumbuhan, Anda hanya menuai apa yang Anda tanam. Tak ada hal yang instant! Kalau Anda melewati prosesnya karena ingin cepat kaya, atau ingin cepat terlihat pandai. Anda melawan hukum alam, karena itu bersiap-siaplah menerima konsekuensinya pada suatu saat nanti.

Jadi, marilah kita bersabar. Dan hidup akan terasa lebih nikmat. Jangan mengurut dada, karena kesabaran adalah kenikmatan bukannya penderitaan. Apapun karir dan profesi Anda, yang menyebabkan Anda berhasil bukanlah kepandaian tetapi kesabaran Anda. Inilah rahasianya mengapa agama selalu mengatakan, "Sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang sabar!"

03 March 2005

Bersaing Yang Sehat

Siapa sih yang mau kalah? Nggak ada, kan. Setiap orang pasti ingin menang, ingin unggul, atau jadi juara dalam persaingan atau kompetisi. Ambisi untuk jadi yang terbaik itu sah-sah saja, itu manusiawi kok. Tapi akan jadi haram hukumnya kalau yang kita lakukan adalah menghalalkan segala cara. Apa artinya kemenangan kalau diraih dengan kecurangan? Apa artinya berhasil kalau didapat dengan cara menjatuhkan pihak lawan? Apa artinya sukses kalau harus mengangkangi orang lain? Kemenangan yang nikmat itu adalah kemenangan yang diraih dengan cara bersih tanpa terkontaminasi bakteri dan jamur dalam bentuk apapun.

Memang nggak mudah menciptakan mental yang sehat, yang steril dari bakteri dan jamur dalam pertandingan. Tapi mau tidak mau itu harus dilakukan, ini penting untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi. Dengan begitu kalau menang kita nggak akan lupa diri, ‘n kalau ternyata kekalahan yang berpihak pada kita ya, nggak usah bunuh diri. Terimalah dengan lapang dada kalau kita memang benar-benar harus jadi pecundang.

Lalu mental yang bagaimana sih yang harus dimiliki dalam berkompetisi. Sebagai terapi coba deh simak sajian berikut:

1. Sportif
Satu hal yang harus ditanamkan dalam-dalam adalah sikap sportif. Kita harus menjunjung tinggi sportifitas, sebab kompetisi yang tanpa sportifitas tak ubahnya seperti judi. Sportif berarti kesadaran untuk mengikuti aturan main dan tunduk pada hukum yang berlaku. Dengan begitu akan terhindar dari kemungkinan untuk melakukan kecurangan.

2. Semangat
Bawalah suporter sebanyak-banyaknya kalau dengan kehadiran mereka kita bisa dapat pasokan semangat baru. Dengan semangat yang menggebu-gebu, semangat yang pantang mundur rintangan seberat apa pun akan bisa diatasi. Semangat bisa membangkitkan kekuatan terpendam atau potensi yang masih tersembunyi, bisa meningkatkan energi yang lebih besar. Semangat bisa jadi cambuk untuk memicu usaha dan kerja keras kita. So, nggak ada salahnya mengingat kembali pesan Sony Tulung: Tetap Semangat!

3. Jangan anggap remeh
Dua pihak yang bersaing, tentu saja mereka yang telah punya persiapan. Begitu juga dengan pihak lawan. Karena itu jangan pernah anggap remeh kekuatan lawan. Sebab ketika kita meremehkan lawan, ketika itu pula kekalahan sudah di depan mata. Bagaimanapun ada faktor-faktor keberuntungan, ada faktor ‘X’ diluar strategi dan persiapan yang dilakukan. Salah satunya, faktor dukun. Siapa tau dukun mereka lebih ampuh. So, jangan menggali kubur sendiri.


4.
Kalah-menang biasa
Bagi mereka yang bermental sehat, akan menganggap kemenangan dan kekalahan adalah hal yang biasa dalam pertandingan. Kalah bukan berarti aib tapi cuma kemenangan yang tertunda, kata orang. Menang pun bukan berarti harus menyombongkan diri. Ingat, semua itu cuma soal kesempatan. Hal terbaik yang harus dilakukan ketika menang adalah bersyukur, dengan begitu kita nggak akan bisa sombong ‘n lupa diri. Dan melihat kemenangan sebagai titik awal untuk pekerjaan yang lebih besar, yaitu mempertahankan. Pun kalau harus menelan kekalahan, nggak usah larut dalam kesedihan, sebab pada hakikatnya kita sudah berani mencoba. Itu artinya kita sudah menang melawan rasa takut.

02 March 2005

Jey, Rheina, dan Ibu Kos

“Tok Tok Tok!” suara pintu diketuk terdengar nyaring sekali hingga membangunkan Jeje dari tidurnya. Sesaat Jeje membuka matanya, lalu sambil menutup telinganya dengan guling, Jeje kembali memejamkan matanya.

“Tok Tok Tok!!!” kali ini ketukan pintu terdengar lebih keras dengan frekuensi yang lebih cepat. Jeje yang belum sempat kembali terlelap kontan saja tersentak kaget.

“Siapa sih?!” teriak Jeje dari balik selimutnya. “Pagi-pagi udah ngeganggu!”

“Pagi gundulmu!” jawaban dari balik pintu sana tak kalah lantangnya, “Ini sudah siang, tahu!” Jeje hampir saja terjatuh dari kasurnya karena terkejut mendengar suara itu. Ia hafal benar pada suara Ibu Kos yang galak luar biasa. Segera Jeje bangkit sambil mengusap-usap mata dan merapikan rambutnya, lalu dibukanya pintu kamarnya.

“Eh, Ibu… Maaf, Bu, saya kira…”

“Maaf, maaf!” Ibu Kos yang tengah berdiri tepat di depan pintu kamar kos Jeje langsung memotong omongan Jeje. “Yang saya butuhkan bukan maaf, tapi uang… Mana uang sewa kamu?! Ini sudah lewat 1 minggu, tahu!”

“Eh, uh… Itu, anu, Bu…” ucap Jeje terbata-bata.

“Anu, anu… Anu apa hah?!” sang Ibu Kos kembali memotong dengan garang. “Pokoknya saya tidak mau mendengar alasan apapun lagi!”

“Tapi, Bu... Ini bukan alasan, tapi kenyataan… Orang tua saya belum juga mengirimkan uang…”

“Alasan klise! Pokoknya kamu harus bayar sekarang juga!”

“Tapi, Bu… Saya harus bayar pakai apa…?” ucap Jeje lemas.

“Ya, pakai uang!” tegas Ibu Kos kembali.

“Bu, tolong, Bu… Beri saya waktu 2 sampai 3 hari lagi, saya pasti akan bayar…”

“Alah! Saya sudah tidak punya waktu lagi! Setiap bulan kamu selalu telat bayar. Saya sudah bosan dengan berbagai alasan kamu! Pokoknya hari ini juga kamu harus bayar. Nanti sore saya akan ke sini lagi, dan pokoknya uang itu harus sudah ada, atau silakan kamu cari tempat kos lain, masih banyak kok yang mau kos di sini!” ucap Ibu Kos panjang dengan sinis.

“Ta.. Tapi Bu…” belum sempat Jeje melanjutkan kata-katanya, Ibu Kos sudah menghilang terhalang tembok. Jeje hanya dapat mematung dan lemas. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa.

“Hei… Sudah siang begini baru bangun…” tiba-tiba Jeje dikejutkan oleh kehadiran Rheina, teman sekampusnya yang telah berada tepat di hadapannya. “Sudah begitu, bukannya langsung mandi, eh malah bengong lagi di depan pintu…” lanjut Rheina menggoda.

“Eh, Rhein…” sapa Jeje singkat.

“Kenapa sih loe, lemes banget? Pasti barusan habis dimarahin sama Ibu Kos, ya? Hihihi…”

“Loe… Loe kok tahu?” kening Jeje seketika mengkerut.

“Nggak kok, cuma nebak aja. Tadi gue lihat muka Ibu Kos loe acak-acakan pas keluar dari rumah ini, eh, ternyata loe juga nggak kalah acak-acakannya… Hihihi…” Rheina terus menggoda Jeje. Jeje hanya tersenyum. “Sudah… Sekarang loe mandi dulu sana, sebentar lagi ada kuliah lho…”

“Aduh, Rhein… Kayaknya gue nggak akan masuk deh hari ini, nggak enak badan nih…”

“Nggak usah pake alasan segala. Cepat mandi sana dan kuliah… Lihat nih apa yang gue bawa buat loe…” ucap Rheina sambil mengeluarkan sebuah nasi bungkus dari kantong plastik hitam yang tengah dipegangnya. “Taraaaa… Sarapan buat loe… Tapi loe harus mandi dulu sebelum menikmati oleh-oleh gue ini...”

“Wah, thanks deh Rhein, tapi serius gue lagi nggak enak badan nih.”

“Hah?! Serius loe? Yang mana yang sakit, badan loe atau jiwa loe?” tanya Rheina bercanda.

“Ya badan lah…!” jawab Jeje sewot.

“Deuh… Segitu sewotnya. Lagian tumben banget pake acara nolak rezeki segala… Ya udah deh, oke, loe nggak usah mandi dulu, tapi ini dimakan ya…” Rheina mencoba membujuk Jeje.

“Aduh, Rhein… Gue belum lapar nih, masih kenyang…”

“Kenyang? Kenyang makan apa loe? Kenyang dimarahin Ibu Kos? Hihihi….” lagi-lagi Rheina berkelakar. Kali ini Jeje tersenyum juga dibuatnya. Sahabatnya yang satu ini memang paling pandai menghibur hati Jeje.

“Ya, udah deh. Mana? Sini makanannya…”

“Ups, tahan dulu, enak aja mau langsung makan… Nggak mandi ya nggak apa-apa, tapi minimal gosok gigi dulu dong, bau tahu… Dasar jorok!”

“Oke deh tuan putri, oke…” Jeje akhirnya pergi juga ke kamar mandi sekedar untuk mencuci muka dan gosok gigi.

Di kamar mandi Jeje hanya memandangi wajahnya yang terpantul di cermin. Rambut gondrong yang tak begitu terurus itu ia acak-acak. Sesaat Jeje menarik napas panjang. Ia kembali teringat pada ultimatum Ibu Kos tadi.

“God… What i have to do?” lirihnya dalam hati. “Bantu aku, Tuhan. Jangan sampai aku terusir dari sini. Kau kan tahu aku bukannya tak mau membayar, tapi aku tak mampu… Tuhan, betapapun galaknya Ibu Kosku, tapi aku masih betah di sini. Kau tahu, Tuhan, jika biaya sewa di sini paling murah dibanding tempat-tempat lain di sekitar sini. Dan Kau pun pasti mengerti, Tuhan, jika untuk biaya sewa termurah saja masih sulit ku bayar, apalagi yang mahal… Please, Tuhan… Izinkan aku tetap tinggal di sini…”

“Wooiii!!! Lagi ritual loe di kamar mandi? Lama banget sih…” tiba-tiba suara Rheina membuat Jeje tersadar dari renungnya. Tapi bersamaan dengan itu pula wajah Jeje berubah menjadi lebih cerah.

“Thanks, God… Aku sudah menemukan solusinya… Walaupun itu bukan solusi yang terbaik, tapi paling tidak bisa menyelamatkanku hari ini…” lirih Jeje dalam hati sambil keluar dari kamar mandi. “Rheina!!!” teriak Jeje sesaat setelah menutup pintu kamar mandinya, lalu bergegas lari menemui Rheina.

“Apaan sih?” tanya Rheina yang merasa dipanggil.

“Gue akan lakukan apapun buat loe dan akan menganggap loe saudara gue asal loe mau bantu permasalahan gue yang satu ini…” ucap Jeje dengan bersemangat tepat di hadapan Rheina.

“Kenapa loe? Keluar dari kamar mandi kok malah makin parah...”

“Gue serius, Rhein” lanjut Jeje tak mempedulikan pertanyaan Rheina. “Gue minta tolong banget sama loe, cuma loe satu-satunya harapan gue saat ini.”

“Kenapa sih loe? Sentimentil banget… Mau pinjam duit ya?”

“Hah?! Rhein… Loe… Loe bisa baca pikiran gue… Loe emang benar-benar seorang peri, Rhein…!”

“Udah… Nggak usah pake rayu-rayu segala… Ini 2 ribu, nggak usah pinjam, ambil saja…”

“What?! 2 ribu, Rhein? Cuma 2 ribu?” ucap Jeje menganga.

“Iya, emangnya mau berapa? Cukup khan buat beli odol… Lain kali nggak usah pake teriak-teriak gitu lagi ya, bau tau!”

Astaga… Jeje lupa jika ia belum gosok gigi.

01 March 2005

Sampaikan Yang Manis Melalui Telinga Kiri

Jika anda ingin mengungkapkan anda mencintai seseorang, sebaiknya sampaikan melalui telinga sebelah kiri, ungkap sebuah penelitian.

Hal ini didasari penelitian oleh para ahli ilmu jiwa di Sam Houston State University, Texas yang mengatakan seseorang akan cenderung lebih mengingat kata-kata emosional seperti "cinta", jika mereka mendengarnya melalui telinga kiri.

Dengan kata lain jika sesuatu yang baik didengar melalui telinga kanan, mereka cenderung lebih mudah melupakan.

Penemuan ini didukung fakta bahwa telinga kiri dikontrol oleh otak sebelah kanan yang bertangung jawab untuk proses hal-hal emosional.

Penelitian ini melibatkan 26 orang yang mendengarkan kata-kata berbeda melalui ke dua telinga dalam waktu yang sama. Kata-kata disusun dari kata-kata emosional seperti "depresi" sampai kata-kata non emosional seperti "menggabung".

Setelah latihan, para partisipan ditanya sejumlah kata-kata yang mereka telah dengar.

Para peneliti menemukan bahwa partisipan memiliki ingatan yang lebih kuat terhadap kata-kata emosional yang mereka telah dengar melalui telinga sebelah kiri. Pengulangan yang sama melalui telinga sebelah kanan tidak sekuat yang disampaikan melalui telinga sebelah kanan.

28 February 2005

Mungkin Bisa Sedikit Menyejukan

Hebatnya Kita…
Tuhan telah mengaruniakan kehebatan yang luar biasa kepada kita, bahkan sebelum kita lahir didunia ini kita sudah diberikan kehebatan. Ketika kita masih berbentuk sel-sel sperma, kita berjuang melawan jutaan, bahkan milyaran sel lainnya. Dan pada akhirnya hanya satu sel yang berhasil bertemu dengan sel telur dalam perjuangan yang sengitnya. Yang pada akhirnya jadilah kita. Ya, kita. Lalu, mengapa ketika sudah lahir kedunia ini kita malah menjadi loyo dan pesimis?

Jodoh???
Tuhan menciptakan mahluknya berpasang-pasangan, dan berbeda-beda agar bisa saling mengenal. Lalu, jika sampai saat ini kamu belum dapat jodoh kenapa jadi uring-uringan begitu. Percaya deh sama janji Tuhan yang mustahil bohong. Mungkin saja usaha mu belum maksimal. Atau mungkin Tuhan memiliki rencana tersendiri, yang pasti rencana itu mustahil mendzolimi mahluknya. Ingatlah, sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.

Sengsara
Tuhan maha pengasih dan penyayang. Mustahil Tuhan mendzolimi hambanya. Kalau saat ini kita merasa tersiksa atau sengsara, itu bukan kedzoliman Tuhan, tapi diri kita sendirilah yang menyebabkannya. Pernah lihat gelandangan yang tak punya apa-apa tapi masih bisa tersenyum dan tertawa, seolah tiada beban? Ya, itu adalah karena suasana hati yang dibuatnya sendiri. Jadi pada dasarnya, bagaimana keadaan hati kita sendiri. Jika kita buat senang, ya senang, tapi kalau dibuat sengsara, ya sengsara. Jadi, sekarang kitalah yang harus pandai-pandai menjaga suasana hati. Jagalah hati, jangan kau nodai, begitu kata Aa Gym

27 February 2005

Tentang Masalah

Ada pepatah mengatakan “Barang siapa yang menyelesaikan suatu pekerjaan, maka dialah yang akan mengaturnya”. Setelah direnungkan, benar juga pepatah tersebut, walaupun tidak seratus persen kebenarnnya.

Ternyata, didalam hidup ini teramat banyak yang harus kita kerjakan. Segala persoalan hidup menuntut untuk diselesaikan, dan rupanya hal tersebut harus benar-benar ditanggapi dengan serius jika tak ingin menjadi masalah dalam hidup.

Ya, banyak hal yang harus kita kerjakan didunia ini, dan banyak pula hal yang seharusnya kita kerjakan namun belum kita kerjakan. Dan tentu saja, sekecil apapun pekerjaan yang harus kita kerjakan, jika dibiarkan terus menumpuk akan menjadi masalah. Masalahpun butuh penyelesaian. Jika masalah-masalah yang ada kita diamkan saja, maka sudah pasti masalah terus akan menumpuk dan membesar. Semakin besar masalah semakin rumit pula penyelesaiannya. Karenanya, jangan pernah biarkan ada pekerjaan yang tertunda kecuali kita selesaikan, jangan pernah ada pekerjaan terhutang kecuali kita bayarkan, jangan pernah ada masalah sekecil apapun kecuali sekuat tenaga kita cari solusinya.

Realita keadaan bangsa Indonesia saat ini adalah juga merupakan bagian dari masalah yang menuntut diselesaikan. Dan bisa jadi justru kitalah bagian dari masalah tersebut. Ya, kita, para pemuda Indonesia yang seharusnya menjadi bagian dari solusi permasalahan yang dihadapi bangsa ini.
Begitu seringnya kita lupa memperhatikan keadaan sekitar kita yang begitu bermasalah. Kita tahu dan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, namun hampir selalu kita menutup mata pada keburukan dan kesalahan sistem komunitas bangsa kita.
Dan kini sudah saat kita bangkit menjadi bagian dari solusi permasalahan bangsa kita. Dimulai dari hal-hal yang terkecil. Minimal kita membenci hal-hal yang dapat membuat bangsa ini semakin terpuruk. Namun, membenci saja tidak cukup. Membenci dan mencaci tidak akan menjadi solusi, malah bisa jadi menambah masalah. Tak perlu mengumbar kebencian dan caci maki, kebencian dan caci maki hanya akan menguras energi. Yang perlu kita lakukan adalah berpikir keras dan bertindak menjadi solusi dari setiap permasalahan yang ada.

Kita membenci adanya kemasiatan yang dapat merusak moralitas bangsa, diskotik-diskotik, tempat-tempat prostitusi, ‘panti pijat yang penuh kemaksiatan’, aneka perjudian, namun pernahkan kita berusaha memberikan pemahaman yang benar kepada mereka secara bijak dengan cara yang sistematis, sungguh-sungguh berusaha untuk menyadarkan mereka, sambil mencari alternatif lapangan pekerjaan untuk mereka? Bukan malah mengutuk dan menganggap mereka sebagai sampah masyarakat yang harus berantas dan dihancurkan.

Kita tidak menyukai lingkungan yang kotor, sampah berserakan disana-sini, maka kita harus berpikir keras sekaligus bertindak mencari solusi bagaimana suatu lingkungan dapat menjadi indah dipandang dan menjadi contoh bagi daerah yang lain, dimulai dengan memberikan contoh rumah kita sendiri yang walaupun begitu sederhana namun tertata dengan rapi dan bersih, misalnya, lalu berusaha memberikan contoh pembersihan lingkungan kepada masyarakat, dan mengajak masyarakat untuk turut serta dalam solusi tersebut.

Kita merasa prihatin terhadap tayangan-tayangan televisi, iklan-iklan, lagu-lagu, yang kurang mendidik, bahkan terkesan menjerumuskan, maka kita harus berpikir keras dan bertindak mencari solusi agar masyarakat dapat memilah-milah acara-acara televisi tersebut, sekaligus sleketif dalam memilih dengan konteks pemahaman yang benar. Begitu pula dengan media-media informasi yang lain, seperti acara-acara radio, majalah-majalah dan tabloid-tabloid maksiat, dan sebagainya.
Ya, hal tersebut diatas hanyalah sekedar contoh saja dari beragam permasalahan yang ada. Namun bagaimanapun setiap permasalahan menuntut untuk diselesaikan. Karenanya, jika kita, pemuda Indonesia, memang memiliki kemampuan untuk menjadi bagian dari solusi, marilah kita menjadi solusi tersebut. Jangan pernah biarkan bangsa ini terus-menerus larut dalam berbagai permasalahan. Kita lakukan perubahan pada bangsa ini kearah yang lebih baik dengan diawali perubahan diri sendiri.
Marilah kita hemat energi kita dari segala perbuatan yang menguras kemampuan kita. Sehebat apapun janji yang kita ucapakan, tetap saja masyarakat menanti bahwa pemuda Indonesia benar-benar menjadi solusi bangsa ini.

Terakhir, ada baiknya kita merenung dan melirik pada diri sendiri, apakah kita ini adalah penyelesai masalah atau diri kitalah yang bermasalah, atau justru kitalah penambah masalah?