Kehidupan Komik Jepang di Indonesia
Keindahan ilustrasi-ilustrasi yang dibuat oleh komikus-komikus Jepang menarik perhatian semua orang, baik yang masih kecil sampai yang sudah tua. Hal ini terbukti jika kita melihat ke rak-rak komik di toko-toko buku yang ada di Indonesia, penuh didatangi oleh pengunjung. Alasan mereka menyukai komik pun beragam: dari yang lucu sampai yang mengisahkan tentang kehidupan remaja. Alasan terakhir inilah yang paling sering dikonsumsi oleh sebagian besar remaja di Indonesia. Sebut saja DN Angel, Monster, Ghost!, dan Samurai Deeper Kyo. Dari sekian banyak komik yang telah diterbitkan di Indonesia, ada sebagian komik yang memperlihatkan gambar senonoh ataupun menceritakan tentang kehidupan remaja homoseksual (boys love), mencintai saudara kandung sendiri, dan berbagai kisah lain yang tidak sesuai dengan kehidupan remaja Indonesia yang beradab dan penuh dengan sopan santun.
Salah satunya komik Ghost!. Komik ini menceritakan seorang remaja SMU yang dapat melihat makhluk yang tidak dapat dilihat orang lain. Komik ini lebih mengutamakan unsur percintaan laki-laki sesama jenis. Begitu juga komik Gravitation yang menceritakan hubungan percintaan kedua lelaki, antara seorang pemain band dengan seorang penulis novel. Ada juga komik Angel Sanctuary yang menceritakan kisah percintaan serius antara kakak beradik yang saling mencintai. Lain lagi dengan komik Golden Boy, Samurai Deeper Kyo, dan Love Hina. Ketiga komik ini menyuguhkan gambar-gambar vulgar dan belum pantas untuk dilihat oleh anak-anak.
Isi komik-komik di atas sangat tidak sesuai dan bertentangan dengan kehidupan bangsa Indonesia. Apakah pantas komik-komik vulgar seperti itu layak dikonsumsi oleh generasi-generasi muda zaman sekarang? Apa yang akan terjadi jika mereka mengonsumsi komik-komik seperti itu? Apakah generasi akan datang dapat dengan baik menjalankan kewajiban mereka sebagai rakyat Indonesia? Tidak. Otak mereka, yang seharusnya diisi dengan keterampilan dan pendidikan yang berguna, akan terisi oleh gambar-gambar vulgar yang senantiasa menghantui mereka di mana dan kapan saja. Gambar-gambar yang dapat meningkatkan nafsu seksual di dalam diri pembaca.
Pada dasarnya, kehidupan moral bangsa Indonesia jauh berbeda dengan kehidupan moral di Jepang. Bagi kita, bangsa Indonesia, gambar-gambar tersebut tidak pantas jika diperlihatkan oleh masyarakat luas, terutama anak-anak yang sebagian mengonsumsi bacaan ini. Tidak demikian dengan masyarakat Jepang. Menurut mereka (baca: komikus Jepang), komik-komik dan animasi-animasi yang mengandung unsur ecchi atau unsur kevulgaran sama saja dengan komik atau animasi tentang robot-robot atau ninja yang sering dikonsumsi anak-anak.
Hal ini menimbulkan banyak kecemasan dari berbagai kalangan, terutama orang tua yang mengetahui anaknya penggemar berat komik Jepang. Namun, kecemasan para orang tua ini sudah sedikit teratasi karena komik-komik Jepang yang beredar di Indonesia sudah terkena sensor, baik oleh lembaga sensor maupun editor di penerbit. Sebagai lembaga sensor awal, editor berhak menghilangkan atau mengganti gambar-gambar vulgar itu dengan yang lebih etis agar tidak menimbulkan unsur SARA dan pornografi. Begitu pula dengan lembaga sensor. Lembaga ini berhak menyensor gambar-gambar yang tidak pantas dilihat pembaca, bisa dengan dihilangkan ataupun disamarkan. Namun, fungsi lembaga ini sebaiknya dilakukan oleh editor mengingat editorlah sebagai penyensor pertama sebelum komik itu terbit.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menyensor komik-komik tersebut, salah satunya dengan menghapus atau memberi tanda-tanda penghalang, seperti bintang-bintang jika terdapat adegan kissing. Di penerbit sendiri, juga sudah memberikan label, seperti ""remaja"" (R), ""dewasa"" (D), dan ""semua umur"" (S) di setiap belakang sampul komik. Keadaan ini sedikit memperkecil atau menghilangkan kemungkinan pembaca untuk melihat gambar-gambar yang tidak baik untuk dilihat.
Sayang, sensor yang sudah mereka lakukan tidak cukup memuaskan para pembaca. Banyak pembaca yang ketika membaca komik yang telah disensor mengatakan, ""Ini apaan sih maksudnya? Gue gak ngerti deh!"" Padahal, jika membaca komik asli dari Jepang, kita masih dapat mengerti maksud komikus. Hal ini terjadi karena sensor yang dilakukan terlalu rumit sehingga pembaca menjadi bingung. Sensor juga kadang-kadang menghilangkan unsur-unsur penting yang sayang jika dilewatkan. Satu contoh, ketika membaca komik Ghost!, ada satu adegan di mana ada seseorang yang sedang berendam di pemandian air panas, dan tiba-tiba ia terloncat dari kolam tersebut tanpa pakaian sama sekali dan melontarkan kata-kata lucu. Ketika saya melihat adegan ini, saya berkata dalam hati, ""Sayang banget. Mungkin kalau tidak disensor bisa jadi lebih lucu, ya."" Tetapi, sekali lagi, hal ini tidak sesuai dengan budaya kita. Di satu sisi, penceritaan menjadi tidak nyambung alias pembaca sukar mengartikan isi cerita tersebut. Di sisi lain, otak pembaca yang sebagian besar anak-anak muda (baca: generasi penerus) menjadi tercemar. Saya berharap perkembangan komik di Indonesia, terutama komik Jepang, dapat terus ditindaklanjuti dengan melakukan sensor yang lebih ketat. Apabila komik tersebut sangat tidak memungkinkan untuk diterbitkan di Indonesia, lebih baik jangan diterbitkan daripada membuat banyak sensor yang membuat pembaca bingung dengan alur cerita yang sebenarnya disuguhkan oleh pembuat komik tersebut. Sensor juga perlu dilakukan dengan cara yang lebih baik daripada sekarang. Jika tidak, pasti akan terulang kembali seperti kejadian di atas. Keamanan di toko-toko buku yang sering didatangi pengunjung juga sangat diperlukan dalam membentuk generasi muda yang berpendidikan luhur. Ketika pengunjung siap membayar komik di kasir, penjaga kasir perlu memeriksa komik tersebut, seperti dengan melihat tanda-tanda yang ada di sampul (semua umur, remaja, dan dewasa). Apabila tidak mencukupi batas umur, alangkah baiknya jika penjaga kasir menyarankan agar komik tersebut tidak dibelinya, kecuali dengan alasan-alasan yang memungkinkan. Satu hal paling mendasar, yaitu kesadaran dari pembeli itu sendiri. Jika kesadaran ini sudah tertanam kuat di diri para pembaca komik, masalah yang sangat dirisaukan dan krusial yang ditakutkan sebagian orang tidak akan terjadi.
Secara umum, banyak penggemar komik (terutama di Indonesia) lebih memilih komik buatan luar negeri daripada komik buatan negara sendiri. Komik-komik luar lebih kreatif. Walaupun begitu, komik yang dihasilkan komikus dalam negeri tidaklah terlalu buruk untuk dibaca. Sebut saja Tomat dan Alakazam. Kedua komik ini mampu mengisi kekosongan dunia komik Indonesia yang selama ini vakum setelah era R.A. Kosasih dan Dwi Koendoro.
Perkembangan komik ini pun membuat anak-anak SLTP sudah mulai membuat komik dengan beragam cerita, dari cerita sederhana sampai cerita berat. Yang mengagumkan, cerita dan ilustrasi mereka sangat bagus walaupun pengaruh komik Jepang sangat terasa baik pada cerita maupun goresan pena mereka. Sangat disayangkan, ide yang seharusnya berkembang menjadi terhambat oleh komik-komik Jepang yang memakan imajinasi mereka sendiri.
Lain halnya dengan komik Archi&Meidy karya Yohannes Surya. Komik ini berhasil memadukan ilmu pengetahuan dengan gambar-gambar yang enak dipandang mata, sehingga pelajaran yang diberikan komik tersebut tidak susah. Komikus-komikus seperti inilah yang sangat diperlukan dalam perkembangan komik dan buku bacaan di Indonesia. Akankah komik-komik Indonesia menjadi tuan rumah di negerinya sendiri?